
Setelah selesai mandi Isyah langsung berganti pembalut dan ia segera memakai baju, setelah selesai ia memakai hijab lalu ia berjalan menuju kamar Pak Ben sebab ia ingin melihat keadaan Papanya. Setelah sampai ia langsung masuk kedalam. "Papa ..."panggil Isyah dari depan pintu dan ia langsung masuk saat Pak Ben tersenyum padanya.
"Apa, Papa sudah membaik?"tanya Isyah sambil mendekati Pak Ben. "Sudah, setelah Papa memiliki cucu Papa akan segera membaik,"jawab Pak Ben sambil mengelus kepala Isyah yang mengenakan hijab. "Kasihan sekali Papa, apa aku harus memberikan Papa cucu. Akan tetapi aku juga masih mau sekolah dan lulus dulu ..."batin Isyah.
"Sa, mungkin pak Salam rindu kamu sebaiknya kamu temui mereka saja hari ini."ucap Pak Ben membuat Isyah tersadar dan tersenyum.
"Baik, Pa. Kalau begitu Isyah pergi dulu."ucap Isyah yang bergegas pergi dari kamar Pak Ben, sesampainya di luar dia bertemu dengan Aril dan ia langsung menunduk kepalanya. "Hei, tunggu!"teriak Aril dan Isyah langsung menghentikan langkahnya. "Mau apa lagi sih, dia. Sudah cukup sakit hati ini dan dia masih saja menambahkannya lagi ..."ucap Isyah dalam hatinya.
"Aku ingin bicara."ucap Aril dengan sangat dingin. "Tidak bisa, sebab Isa mau kerumah bapak."tolak Isyah dengan sangat cepat lalu ia langsung berjalan menuju rumah Pak Salam.
Aril hanya menatap kepergian Isyah lalu ia langsung masuk kedalam kamarnya sebab ia dan Erla akan menikah, beberapa Minggu lagi dan pernikahan mereka akan di adakan dengan sangat mewah seperti permintaan Erla.
*
*
Kini Isyah sudah sampai di rumah Pak Salam dan ia langsung masuk kedalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Assalamualaikum."ucap Isyah akan tetapi tidak ada yang menjawabnya, sehingga ia langsung mencari keberadaan keluarnya akan tetapi. Sepertinya keluarga Pak Salam sudah beraktivitas seperti biasanya pada ini Pak Salam dan Fia bekerja di Swalayan. Sedangkan Bu Jima mengurus usaha cuci mobil dan motor. "Sepertinya mereka sudah pergi semuanya ... "ucap Isyah yang duduk di ruang tamu dan ia mendengar suara dengkuran dan ia langsung bergegas pergi menuju kamar kakaknya.
Isyah melihat Nyia tidur seperti kerbau yang sedang mendengkur keras dan ia langsung menghampiri Nyia. "Nyia!"teriak Isyah dan Nyia langsung terbangun.
"Aaahhhkkk!"teriak Nyia yang sangat terkejut akan teriak Isyah tadi dan Isyah langsung tertawa-tawa. "Ini hari Minggu, Nyia mau tidur,"ucap Nyia sambil mengucek-ngucek matanya sebab ia masih mengantuk.
"Ya sudah, Kakak pulang dulu lanjutkan tidur mu ... "ucap Isyah yang mengelus-elus rambut Nyia lalu ia bergegas pergi dari kamar Nyia.
"Apa aku datang saja ke Swalayan, ah. Nanti malam saja saat mereka semua sudah pulang."guma Isyah dalam hatinya.
__ADS_1
*
*
Fia sedang menyusun barang-barang ke rak dan ia melirik Gilang yang terus-menerus menatap wajahnya. Fia tidak memperdulikan tatapan Gilang ia melanjutkan kembali pekerjaannya sampai selesai, ia kembali ke meja Karis dan Gilang menghampirinya sambil membawa barang belanjaannya.
"Boleh saya minta nomor ponsel kamu?"tanya Gilang dengan sangat lembut membuat Fia tersenyum.
"Boleh,"jawab Fia yang menuliskan nomor ponselnya di kertas lalu ia memberikannya kepada Gilang, setelah ia selesai menghitung belanjaan Gilang ia tersenyum kepada Gilang.
"Terimakasih, atas nomor ponselnya."ucap Gilang yang bergegas pergi meninggalkan Fia dan pergi dari Swalayan.
"Dia itu sepertinya orang baik, sebab tidak ada wajah-wajah mafia dalam dirinya."batin Fia.
*
*
"Bagaimana ini, aku tidak menyukainya sebab dia itu gadis berkulit gelap tidak mungkin juga aku membatalkan rencana ini. Sebab papa akan marah besar padaku nantinya apa lagi papa sudah ada penyakit, entah berapa lama lagi dia akan bertahan ... "ucap Amit lirih.
Amit menutup Leptopnya lalu ia mulai berjalan menuju kamar Isyah setelah sampai ia langsung masuk kedalam, terlihat Isyah sedang belajar di temani tidurnya sambil menonton film kartun lucu kesukaannya dengan perlahan Amit menghampirinya.
"Sah ... "panggil Amit sontak saja Isyah langsung memakai hijabnya dan ia langsung bangun dan duduk. "Maaf, aku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu."tambah Amit dan Isyah hanya tersenyum saja.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Setelah kita menikah kamu akan pura-pura hamil saja dan kita mengadopsi anak saja."jelas Amit membuat Isyah menaikkan sebelah alisnya. "Mengerti tidak?"tanya Amit sebab Isyah hanya diam saja.
__ADS_1
"Kenapa tidak buat saja, Bang?"jawab Isyah membuat Amit menepuk keningnya. "Oh, bukan seperti itu, maksudnya kita sudah menikah kenapa tidak memiliki anak saja kenapa harus mengurus anak orang."tambah Isyah membuat Amit berfikir keras akan ucapan Isyah.
"Benar juga, jika papa panjang umur dan menjadikan anak angkat ku sebagai pewaris makan aku akan rugi. Eh, kenapa aku jadi mendoakan papa yang buruk sih."guma Amit dalam hatinya.
"Banyak sekali bicara, aku pergi dulu ... "ucap Amit yang bergegas pergi dari kamar Isyah dan Isyah melanjutkan kembali pelajaran nya. Sebab Minggu depan ia sudah ujian kenaikan kelas dan ia harus belajar keras agar bisa naik kelas.
*
*
Amit berjalan menuju luar dan ia langsung menaiki motor sport miliknya menuju rumah mafia hitam, sebab ia ingin berhenti menjadi bos disana sebab ia ingin bertaubat tidak lagi membuat kejahatan. Setelah sampai ia langsung masuk kedalam dan di sambut hangat oleh anak-anak Mafia hitam.
"Sudah lama tidak datang, Bos."ucap Ken sambil tersenyum simpul kepada Amit dan Amit hanya diam saja. "Bubarkan mafia hitam, sebab aku tidak akan mau lagi menjadi bos. Karena aku ingin fokus menjaga papa dan istriku nantinya."ucap Amit membuat anak-anak Mafia hitam terkejut.
Sebab Amit adalah mafia sejak lama bahkan mereka selalu melakukan kejahatan maupun kebaikan. "Bagaimana dengan kami?"tanya Ken yang mewakili suara anak-anak Mafia hitam.
"Aku sudah menyiapkan bengkel tiga, dalam satu bengkel terdiri dari sepuluh orang dan semua itu untuk kalian ... Kita akan bersama-sama walaupun tidak lagi menjadi mafia, aku tidak mau melihat papa tidak bahagia sebab anaknya menjadi mafia."ucap Amit sambil menatap langit-langit ruang tamu dan anak-anak Mafia hitam hanya diam saja.
"Kau tahu, Ken? Dokter bilang jika papa memiliki penyakit langkah dan tidak ada obat untuk menyembuhkannya,"ungkap Amit membuat Ken sedih dan langsung mendekati Amit.
"Sabar, Bos kami akan membantu agar papa Bos bisa sembuh."janji Ken dan anak-anak Mafia hitam yang akan menjadi anak-anak bengkel hitam. Amit tersenyum dan mereka semua berpelukan sambil mengenakan kembali pekerjaan mereka menjadi mafia hitam.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.