
Liat aja nanti, aku akan membuatnya kapok dan tidak akan mau aku antar lagi ke Sekolahnya, batin Amit.
Isyah membuang pandangannya kearah Pak Ben sebab ia sangat takut akan tatapan tajam dari Amit.
Kutub Utara ini, dia seperti tidak menyukai aku dan apa yang akan terjadi kedepannya, dasar kulkas dua pintu. Batin Isyah.
Setelah selesai makan mereka bergegas pergi menuju Mall terbesar di Kota A sebab Pak Ben, akan membelikan baju-baju dan segala keperluan Isyah bahkan Pak Ben juga akan membelikan kosmetik pemutih untuk Isyah.
Kini mereka sudah ada di Mall dan Pak Ben bersama dengan Isyah berada di klinik kecantikan.
"Saya mau produk yang termahal, dan paling ampuh untuk masalah kulit anak saya ini dan sudah BPOM."ucap Pak Ben sambil menatap kearah Isyah.
"Baik, Pak. Kami sudah banyak mendapatkan Klien seperti anak Bapak ini dan semuanya benar-benar ampuh,"jelas Dokter Niken.
"Pa, jangan yang mahal yang murah saja."bisik Isyah di samping Pak Ben.
"Kalau begitu saya mau, setiap bulan di kirim ke rumah saya."ucap Pak Ben sambil memegang produk pemutih kulit.
"Baik, Pak. Kami akan segera mengirimkan pesan Bapak,"jelas Dokter Niken.
Mana harganya mahal sekali, bedak wajah sepaket dua puluh juta, terus lulur sama sabun dan handbody seratus juta. Dan alat makeup juga seratus juta, ini benar-benar membuatku gila. Batin Isyah.
"Sa, ayo kita pergi untuk membeli baju-baju?"ucap Pak Ben yang memberikan kartu kredit miliknya kepada Dokter Niken untuk membayar semua biaya alat kecantikan Isyah.
"Sudah, jangan lagi. Pa, ini aja udah banyak sekali bahkan udah dua ratus juta lebih."tolak Isyah dengan sangat lembut.
Pak Ben tidak menjawab ia langsung bergegas keluar dari rungan Dokter kecantikan, dan Isyah hanya mengikuti langkah Pak Ben menuju istana baju wanita.
Disana ada banyak sekali berbagai macam jenis baju ada dress ada piyama dan banyak lagi, Pak Ben berkeliling saat matanya melihat baju muslim modern ia langsung menyuruh untuk membungkusnya dengan warna lengkap.
"Pa, itu banyak sekali."ucap Isyah dengan sangat tidak enak.
"Tidak, kamu itu anak Papa dan itu semua sudah menjadi kewajiban Papa."ucap Pak Ben yang mengambil beberapa piyama lengan panjang sebab, ia tahu kalau Isyah berhijab.
Pak Ben menyuruh semua karyawan disana mengambil kan ****** ***** wanita juga untuk Isyah, sebab ia tidak tahu ukuran untuk Isyah setelah selesai berbelanja Pak Ben mengutus anak-anaknya untuk membawa belanjaan Isyah.
"Papa, ini semua apa? Banyak sekali belanjaan ini apa dia akan berjualan?"tanya Aril sambil menatap semua belanjaan Isyah.
"Jangan banyak bicara, cepat angkat dan bawa masuk kedalam semuanya!"bentak Pak Ben dan Aril langsung mengangkat beberapa belanjaan Isyah masuk ke mobilnya
Sedangkan Amit ia masih ada di toko perhiasan ia sedang memili kalung emas berbalut berlian.
"Saya mau ini,"ucap Amit sambil memegang kalung emas berbalut berlian berwarna merah muda dan sangat cantik.
"Baik, Pak. Dan harganya murah saja hanya satu miliar."ucap karyawan sambil membungkus kalung emas berbalut berlian tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, itu untuk calon istri saya nantinya tapi. Belum ada sekarang."ucap Amit yang membayar kalung emas berbalut berlian berwarna merah muda pilihannya tersebut.
"Wa, pasti calon istrinya bahagia sekali."ucap karyawan yang memberikan kalung yang sudah di bungkusnya tadi.
Amit hanya tersenyum lalu ia bergegas pergi menuju motornya di parkiran, ia menyimpan kalung yang ia beli di saku bajunya.
Setelah sampai ia melihat Aril yang masih menyusun barang-barang Isyah ia hanya melihatnya saja.
"Rasain, siapa suruh main-main sama Amit Atmajaya."ucap Amit yang mendekati keluarganya.
Aril sudah selesai menyusun barang-barang miliknya Isyah lalu ia menatap tajam kearah Amit.
Awas aja dia, giliran kayak gini aku yamg mengerjakannya, batin Aril.
Isyah bergegas pergi bersama dengan Amit selama di perjalanan Isyah terus-menerus berdoa.
Ya Allah, lindungilah hamba semoga hamba aman dari Bang Amit ini si Kutub Utara dan kulkas dua pintu ini. Batin Isyah.
"Besok, aku tidak mau menunggumu. Dengar!"teriak Amit dan Isyah hanya diam saja sebab ia sedang melamun.
Amit menginjak rem sehingga Isyah memeluk Amit dengan sangat kuat.
"Aaahhhkkk! Ya ampun, apa yang Bang Amit lakukan!" teriak Isyah dari belakang.
"Seharusnya kau yang mendengar aku bicara, tapi kau malah diam saja!"bentak Amit membuat Isyah terdiam.
Setelah sampai di rumah mereka masuk kedalam kamar masing-masing saat Isyah masuk kedalam kamarnya, ia membulatkan matanya sebab ia melihat banyaknya belanjaannya tadi.
Isyah berjalan membuka produk pemutih yang di belikan Pak Ben tadi, lalu ia mulai menyusunnya di meja kaca hias.
Setelah selesai menyusun barang-barangnya ia tak sengaja menjatuhkan piyama sehingga ada satu bukan piyama jatuh, perlahan Isyah mengambil baju tersebut dan langsung membukanya.
Alangkah terkejutnya ia melihat lingerie seksi berwarna merah terang ada didalam kantung belanjaannya.
"Ya ampun, apa ini milik papa. Aduh malu sekali kalau aku yang kembalikan sebaiknya biar saja."ucap Isyah yang cepat-cepat menyimpan lingerie seksi tersebut.
Amit memegang kalung yang ia bili tadi sambil tersenyum manis.
Aku sudah tidak sabar segera memiliki pasangan, ini aku sudah ada tapi wanitanya belum ada apa karena aku terlalu jelek ya, atau aku terlalu tua atau aku tidak kaya dan aku miskin, batin Amit.
Aril berjalan menuju luar sambil celingak-celinguk lalu ia berdiri didepan jendela kamar Isyah, dengan perlahan ia membuka jendela kamar Isyah dan ia masuk kedalam.
Terlihat Isyah sedang melaksanakan Sholat Isya sendiri dan Aril langsung tidur di tempat tidur Isyah.
"Calon istri idaman."ucap Aril sambil menatap kearah Isyah yang masih Sholat dan Isyah dengan jelas mendengar ucapan Aril.
__ADS_1
Setelah selesai Sholat.
Isyah langsung menghampiri Aril yang berada di tempat tidurnya.
"Bang, tolong keluar sekarang juga."pinta Isyah dengan sangat ketus membuat Aril tersenyum.
"Buka saja Mukenah mu itu, agar Abang bisa melihat rambut indah mu itu, "ucap Aril sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Isyah.
"Astaghfirullah, itu aurat Bang. Sebaiknya Abang pergi dari sini sebelum aku teriak!"ucap Isyah yang sudah mulai emosi.
"Sa, Abang janji bakalan nikahin kamu dan kita bisa hidup bahagia janji."ucap Aril yang mulai mendekati Isyah.
"Tapi, Bang bukannya Isa di jodohkan sama bang Amit ya?"tanya Isyah dengan sangat polos.
"Itu bukan masalah, yang terpenting kita sama-sama suka sama-sama cinta jadi kita pacaran ya, "ucap Aril dengan sangat memohon-mohon pada Isyah.
Isyah masih sangat polos sehingga ia menerima permintaan dari Aril.
"Iya,"jawab Isyah dengan sangat malu-malu.
Aril mendekati Isyah dan memeluk Isyah sambil mencium wajah Isyah dengan sangat nafsu.
"Sa, boleh pegang ini tidak?"ucap Aril yang menunjuk kearah gunung kembar milik Isyah.
"Tidak, apa-apaan sih. Abang sebaiknya keluar."pinta Isyah dan Aril terdiam.
Kayaknya aku harus pelan-pelan membujuknya sebab dia masih polos, batin Aril.
"Iya, Abang keluar ni."ucap Aril yang bergegas keluar dari kamar Isyah.
.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua. 😘