
Pak Salam bersama dnegan Bu Jima menjenguk anak mereka sebab mereka sudah sulit untuk bertemu, kini mereka ada di ruang tamu bersama dengan Erla, Isyah, Amit duduk di sofa. "Apa kamu lagi isi?"tanya Bu Jima pada Isyah dan Isyah menggelapkan kepalanya. "Terus? Kenapa?"tanya Bu Jima sambil mengelus-elus rambut Isyah sebab tidak ada orang laki-laki di rumah sebab itu Isyah tidak memakai hijab. "Isa hanya mengalami gejala asam lambung."jawab Amit dengan sangat lembut.
"Jaga kesehatan itu penting, Isa harus jaga kesehatan ingat itu."pesan Pak Salam dan Isyah mengangguk kepalanya. "Kalau begitu kami permisi dulu, karena Swalayan belum buka tidak ada yang jaga."ucap Bu Jima dan Isyah memeluk Maknya tersebut. "Mak, malam Minggu Isa tidur sama, Mak, ya."ucap Isyah dan Bu Jima tersenyum lain halnya dengan Amit. "Tidak,"ucap Amit dan semuanya langsung meliriknya.
"Ha?"Isyah menatap Amit. "Maksudnya, boleh."jawab Amit dan semuanya kembali tersenyum lagi. "Ayo kita masuk kamar, kamu itu harus istirahat."ucap Amit dan Isyah menganggukkan kepalanya. "Kami masuk dulu, Mak, Pak."ucap Isyah yang hendak berjalan akan tetapi Amit langsung menggendongnya membuat malu.
Pak Salam dan Bu Jima tersenyum bahagia lain halnya dengan Erla yang dari tadi memenang tidak menyukainya, entahlah sejak Isyah memintanya untuk tidak menikahi Aril membuatnya membenci setiap yang di lakukan oleh Isyah. "Bu, lihat mereka sudah semakin dekat saja."ucap Pak Salam sambil berjalan bersama dengan Bu Jima. "Benar, Pak. semoga saja mereka cepat memberikan kita cucu."jawab Bu Jima dengan sangat bahagia.
Erla bergegas masuk kedalam kamarnya lalu ia duduk di bibir ranjang sambil mengingat-ingat kembali kejadian tadi, saat Amit menggendong Isyah masuk kedalam kamar. "Kenapa jadi kayak gini, Aril lebih suka sama bu Isa, terus semua orang suka sama dia dan aku? Dasar tukang cari muka."ucap Erla dengan sangat kesal sambil memukul bantal miliknya.
*
*
Aril bersama dengan Pak Ben sedang meeting bersama dengan klien mereka di sebuah Cafe, yang dekat dengan Sekolah Nyai bahkan Nyai ada disana bersama dengan Ken sebab Nyai bolos hari ini. Nyai sama sekali tidak mengetahui jika Pak Ben ada disana.
__ADS_1
"Om, jangan sampai ada yang tahu kalau kita makan bersama dan Nyia bolos."ucap Nyia sambil meminum jus jeruk miliknya. "Beres, jangan sampai ada yang tahu itu semuanya aman."jawab Ken sambil tersenyum manis kepada Nyai.
Pak Ben dan Aril sudah menyelesaikan meeting mereka dan kini Pak Ben bersama kliennya pergi, dan tinggallah Aril sebab Aril ingin menemui sahabatnya dan itu semua hanyalah alasannya saja agar ia lambat masuk Kantor. "Mudah sekali membohongi, papa ... Eh, bukankah itu Nyia, sama siapa dia seperti sudah tua."ucap Aril sambil melirik kearah Nyia dan Ken. "Aku mempunyai ide."Aril langsung memotret Nyia dan Ken sebab ia memiliki sebuah rencana yang sangat bagus.
Aril berjalan mendekati Nyai lalu ia duduk di samping Nyia sontak saja membuat Nyia membulatkan matanya lebar-lebar. "Hai, kalian ada disini juga?"ucap Aril sambil tersenyum simpul. "Adiknya bos ini mau apa sih, aku tahu jika dia tidak suka pada kakaknya sendiri dan ingin berniat jahat. Aku yakin saat ini dia memiliki niat jahat."ucap Ken dalam hatinya.
"Oh, Nyai kamu sudah pulang Sekolah? Padahal ini masih jam sepuluh pagi loh."ucap Aril dan Nyai mengeluarkan keringat dingin sebab ia takut jika Aril akan bicara kepada Isyah atau Fia, yang lebih ia takuti lagi jika Aril akan bercerita kepada Bapaknya dan Maknya.
"Aduh, bagaimana ini jangan sampai semuanya tahu kalau hari ini aku bolos sekolah hanya karena, aku ingin makan bersama laki-laki tua ini."batin Nyia.
Aril mendekati Nyia lalu ia mulai berbisik."Ikut aku, dan aku akan merahasiakan semuanya jika tidak. Aku akan membongkar semua pada pak Salam."bisik Aril lalu Aril mulai pergi. "Om, aku pergi dulu."ucap Nyai yang menepuk pundak Ken dengan perlahan lalu ia berlari mengejar Aril. "Bang, tunggu!"teriak Nyai dan Aril menghentikan langkahnya lalu ia tersenyum. "Anak bau kencur, masih kecil sudah mau pacaran dengan yang lebih tua mana dia itu anak buah Amit."batin Aril.
Setelah sampai didalam mobil Aril memperlihatkan foto Nyai bersama dengan Ken. "Ya ampun, bang tolong hapus sebab kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya makan bersama saja."pinta Nyai pada Aril.
"Oh, hanya makan saja akan tetapi kenapa sampai harus bolos? Kenapa tidak sepulang Sekolah saja?"tanya Aril dan Nyai tersenyum manis kepada Aril. "Sebenarnya, tadi ... "
__ADS_1
Flashback on ...
Nyai tidak menyangka jika Ken menyukai Fia dan ia kira jika Ken menyukainya sebab mereka seringkali bertemu, dan Fia rasanya jarang bertemu dengan Ken dan mungkin saja tidak pernah pikir Nyai. "Kita bicara dan makan di Cafe dekat sini."usul Ken dan Nyai tersenyum sebab ia malas sekali Sekolah hati ini, sehingga ia langsung menyetujuinya dan mereka langsung bergegas pergi menuju Cafe yang dekat dari sekolah Nyai.
Flashback off ...
Aril menggelengkan kepalanya saat mendengar cerita Nyai sebab ia tidak ingin adik iparnya tersesat. "Nyai, apa yang kamu lakukan itu salah. Jika semuanya tahu bagaimana?"tanya Aril sambil menatap wajah cemas Nyai. "Oh, tidak apa-apa. Bukankah bibir tidak akan menjadi nasi lagi?"jawab Nyia dengan sangat santai membuat Aril benar-benar sudah salah mencari teman untuk bersekongkol. "Ingat, jika kamu ketahuan seperti ini lagi. Maka aku akan melaporkannya kepada Isa."ucap Aril yang mulai melakukan mobilnya menuju Kantor.
"Iya, lalu apa yang ingin Nyai lakukan untuk membayarnya?"tanya Nyia sambil menatap kearah jendela mobil. "Ada, nanti saat di Kantor aku akan menjelaskan semuanya padamu. Kali ini kamu harus benar-benar melakukannya."ucap Aril dan Nyai menganggukkan kepalanya sebab ia tidak mau sampai di hukum oleh Bu Jima, belum lagi dengan dua Kakaknya yang sangat marah jika ia ketahuan bolos hari ini.
Nyai sebenarnya kurang suka dengan Aril sebab Aril terlihat sangat menyeramkan dan terlihat jelas, jika Aril menang playboy sejak lama sebab Nyai pernah bertemu dengan Aril sebelum mereka saling mengenal.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.