
Papi benar-benar sangat bajingan, bisa-bisanya dia bersikap manis sekali pada wanita itu yang bukan siapa-siapa. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Papi sebab aku sudah tidak suci lagi karena ulah dari Papi, batin Jihan.
"Siapa wanita itu?"tanya Jihan yang masih berada di depan pintu sontak saja membuat Gilang langsung menoleh.
Gilang menghampiri Jihan lalu ia mencium kening Jihan dengan sangat lembut.
"Sayang, dia bukan siapa-siapa. Hanya saja Papi mengenalnya."jelas Gilang dengan sangat lembut.
Aku tidak bisa mempercayai ucapnya, aku akan memastikan sendiri saja kalau sampai mereka memiliki hubungan. Aku akan pastikan bahwa wanita itu akan lenyap di tangan ku ini, batin Jihan sambil menatap tajam kearah wanita yang tidur di tempat tidur.
"Kamu tunggu di kamar, Papi saja sebentar lagi Papi akan datang sampai dia sadar,"ujar Gilang dan Jihan langsung menuruti keinginan Papinya.
Gilang berjalan mendekati Fia lalu ia duduk di samping tubuh Fia dan pada saat itu juga Fia tersadar. Fia melihat ada Gilang di hadapannya ia langsung bangun dan menjauh dari Gilang membuat Gilang sangat terkejut.
"Mau apa, kau!"teriak Fia yang merasa sangat ketakutan.
"Tenang, aku tidak akan melukai mu. Tadi kau pingsang di depan rumahku dan aku ingin menolong mu saja, tidak lebih."jelas Gilang membuat Fia langsung bangun.
"Terimakasih, sudah menolongku. Aku pergi dulu ..."ucap Fia yang berjalan menuju luar dan di ikuti oleh Gilang.
"Tunggu, Fia!"teriak Gilang sambil mengejar Fia sampai di luar.
Fia mengehentikan langkahnya saat ia berada di depan gerbang rumah Gilang ia menoleh kebelakang, ia melihat Gilang yang menghampirinya lalu mereka saling menatap satu sama lainnya.
"Dimana rumah mu, aku akan mengantarmu sebab aku takut kau pingsang lagi di jalan,"ujar Gilang.
"Tuan, rumah saya hanya berjarak beberapa meter saja dari sini."ucap Fia sambil menatap kearah jalanan.
"Ha, ternyata kita tetangga dekat?"ucap Gilang sambil tersenyum manis kepada Fia.
"Iya, saya tinggal di rumah pak Ben Atmajaya,"ungkap Fia membuat Gilang membulatkan matanya.
Aku curiga Fia ini Kakaknya Isyah, sebab mereka mirip bahkan mereka juga tinggal di rumah Amit. Batin Gilang.
Fia langsung berjalan dengan sangat cepat dan Gilang hanya melihat kepergian Fia saja, sampai ia terkejut akan kedatangan Dokter Iyan.
"Kau melihat gadis itu, apa kau menyukainya?"
Sontak membuat Gilang terkejut dan langsung membuang pandangannya.
"Sebaiknya kau pulang saja, sebab wanita itu sudah pergi dan dia baik-baik saja."ucap Gilang sambil menunjuk kearah Fia yang sudah menjauh.
__ADS_1
"Kau ini membuat aku sibuk saja, kau tahu waktu ku sangat berharga tahu."ucap Dokter Iyan dengan sangat kesal.
"Aku akan mengirimkan mu uang, cepatlah pergi sebab ada anakku disini."ucap Gilang sambil mendorong tubuh Iyan keluar gerbang.
"Kenalkan aku padanya, sebab kami sudah lama sekali tidak bertemu!"teriak Dokter Iyan akan tetapi Gilang tidak memperdulikan ia langsung bergegas masuk kedalam.
Gilang seperti anak kecil saja, dia terlibat dalam cinta yang rumit aku merasa kasihan kepadanya, batin Iyan yang berlalu pergi.
..
Fia berjalan kembali menuju rumahnya sebab ia merasa sangat pusing setelah ia sampai ia langsung masuk, ia duduk di sofa sambil memijat kepalanya lalu ia mengirimkan pesan kepada Nyia.
💌Bontot.
(Dek, tolong cariin Kakak obat pusing.)
Nyia yang sedang menyusun barang-barang langsung melihat ponselnya berdering dan ia langsung membaca pesan dari Fia.
"Dek, tolong cariin kakak obat pusing, aduh bagaimana ini memenang sih gak jauh. Tapi rasanya malas sekali aku pergi. Ah, aku kirimkan pesan ini kepada kak Isa aja, "ucap Nyia sambil mengirimkan pesan kepada Isyah.
💌Keleng.
(Tolong, belikan obat untuk kak Fia dia lagi sakit.)
💌Bontot.
(Tolong, belikan obat untuk kak Fia dia lagi sakit.)
"Baiklah, aku akan pergi secepatnya kasihan dia sakit,"ujar Isyah.
Isyah memakai hijab lalu ia mulai berjalan perlahan menuju luar sesampainya ia di luar ia melirik kearah, sepeda yang terparkir cantik di garasi tak pikir panjang ia langsung menaikinya.
"Cantik sekali, sepeda ini. Sebelumnya aku belum pernah melihat ini disini. Ah, sebaiknya aku tidak usah menyentuhnya sebelum kutub Utara itu marah-marah padaku ..."ucap Isyah yang bergegas turun lalu ia menghampiri Sen di pos ronda.
"Om, bolehkah Isa minta antara ke apotik untuk beli obat pusing."ucap Isyah dengan sangat lembut.
Sen tidak menjawab ia diam dalam lamunannya.
Pusing, bukankah itu tanda-tanda orang hamil, ah. Aku akan segera memberi tahu pada Pak Ben kalau Non, Isa lagi hamil. Batin Sen.
"Om."panggil Isyah dan Sen langsung tersenyum lalu ia menghampiri Isyah.
__ADS_1
"Siap, Non. Sebentar saya ambil motor saya dulu,"ucap Sen yang berlalu pergi untuk mengambil motornya di rumahnya.
Isyah menunggu Sen dengan duduk di pos ronda sebab Sen sangat lama membuat Isyah kesal.
Sen duduk di teras rumahnya lalu ia mengirimkan pesan yang menurutnya sangat penting, kepada Pak Ben agar ia semakin di sayang oleh Pak Ben sebab ia selalu memberikan berita hot pada Pak Ben.
💌Bos.
(Lapor, Bis, saya di pinta oleh Non Isa untuk mengantarkan dia ke apotik, katanya dia pusing. Selamat tuan akan mendapatkan cucu.)
Setelah Sen mengirimkan pesan kepada Pak Ben ia langsung menaiki motornya dengan perlahan menuju luar, ia menghampiri Isyah yang sudah terlihat kesal ia tersenyum lalu ia turun.
"Ayo, Non, saya antar."ucap Sen yang memberikan helem kepada Isyah dan Isyah mengambil lalu memakainya.
Isyah naik ke atas motor matic milik Sen lalu Sen mulai melajukan motornya dengan perlahan, menuju apotik yang tidak jauh dari rumah Pak Ben hanya butuh waktu dua menit saja mereka sudah sampai.
"Ha, ini apotik nya. Tau gitu Isa berjalan kaki saja sudah sampai tadi, "ucap Isyah dengan kesal sambil berjalan masuk kedalam.
Sen menatap kepergian Isyah sambil tertawa kecil.
"Orang hamil memang seperti itu, selalu marah-marah gak jelas ..."ucap Sen dalam tawanya.
Isyah masuk kedalam dan ia langsung menghampiri kasir.
"Mbak, saya mau obat sakit kepala, ya."ucap Isyah dengan sangat lembut.
"Baik, tunggu sebentar ya."ucap Kasir sambil mengambilkan pesanan Isyah.
Kasir tersebut memberikan obat yang di minta oleh Isyah dan Isyah meraba saku bajunya, akan tetapi ia tidak mendapatkan apapun sehingga ia hanya tersenyum.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.