
Isyah bergegas pergi dari kamar Amit ia berjalan menuju luar ia mengambil payung di gudang, yang berada di samping rumah lalu ia memakai payung untuk pergi menuju rumah Bapaknya.
Ia tidak memberi tahu kepada Amit kalau ia pergi ke rumah Bapaknya sebab ia sangat kesal akan sikap Amit, ia sudah sampai di rumah Bapaknya dan ia langsung masuk kedalam.
"Assalamualaikum."ucap Isyah dan senyap tidak ada yang menjawab.
Kenapa setiap aku kesini tidak ada orang sama sekali, sebaiknya aku pergi saja ke Swalayan atau ...Batin Isyah.
Isyah masuk kedalam kamar Kakaknya dan ia melihat Fia dan Nyia tertidur pulas, jiwa jahilnya meronta-ronta untuk segera menjahili saudaranya.
Siapa suruh kalian tidur, aku benar-benar merasa sangat bahagia biasa menjahili mereka lagi. Batin Isyah.
Isyah berjalan keluar menuju dapur ia mengambil garam satu sendok lalu ia kembali ke kamar saudaranya.
Isyah tersenyum menahan tawanya lalu ia mendekati Fia ia meletakkan garam didalam mulut Fia, ia juga menaruh garam didalam mulut Nyia sontak membuatnya tersenyum dan tertawa-tawa.
"Uhuk, uhuk."Fia memuntahkan garam didalam mulutnya sedangkan Nyia masih tertidur pulas.
"Hahaha ..."Isyah tertawa-tawa melihat ekspresi wajah Fia sedangkan Fia langsung diam dan terlihat sangat marah.
"Kurang ajar sekali jadi adik, aku kutuk baru tahu."ucap Fia dengan sangat ketus.
"Hehehe, maaf ..."
"Apa cuma Kakak aja yang kamu kerjain?"tanya Fia sambil meminum segelas air putih.
"Nyia juga, tapi. Dia masih asik tidur biarkan sajalah Isa juga mau tidur ..."ucap Isyah yang langsung tidur di samping tubuh Nyia.
...
Siang hari saat hujan sudah redah Amit hendak membawa Isyah untuk berbelanja, ia mencari keberadaan Isyah di kamar Isyah akan tetapi ia tidak menemukan Isyah.
Dimana Isa, apa Gilang yang menculik Isa lagi kalau benar terjadi aku tidak akan mengampuninya, batin Amit.
Amit bergegas pergi menuju rumah Gilang sebab ia begitu kesal dan marah kepada Gilang, ia menaiki motor sport miliknya menuju rumah Gilang tanpa berfikir panjang.
Setelah sampai ia langsung bergegas masuk saat di depan gerbang ia di cegah oleh anak buah Gilang.
"Sebaiknya kau pergi saja, sebelum ajal mu sampai."ucap anak buah Gilang.
"Bajingan kau! Gilang! Gilang ! Aku tahu kau yang membawa Isa pergi bukan!"teriak Amit sampai di telinga Gilang.
Bajingan sialan itu lagi, untuk apa dia datang lagi. Batin Gilang.
__ADS_1
Gilang keluar dan ia menghampiri Amit yang berada di depan gerbang rumahnya.
"Untuk apa kau kemari, bajingan?"ucap Gilang dengan sangat pelan.
"Cik, akhirnya kau keluar juga, dimana kau menyembunyikan Isa."ucap Amit dengan sangat sinis.
"Cik. Mana aku tahu dia dimana dan kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Sebaiknya kau pergi saja sebelum aku marah,"ucap Gilang yang bergegas masuk kedalam rumahnya.
Sial, aku rasa dia tidak berbohong lalu dimana Isa aku tidak biasa menemukannya, batin Amit.
Amit bergegas pergi untuk mencari keberadaan Isyah dengan mengelilingi Kota.
...
Jihan sangat merasa sangat cemas akan keadaan Gilang sebab ia mendapatkan kabar dari anak buah Gilang, kalau Gilang sedang sakit dan terluka di rumahnya ia langsung bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah Gilang.
Jihan menaiki Taksi agar ia biasa segera sampai di rumah Gilang setelah beberapa menit kemudian akhirnya ia sampai.
Ia berjalan menuju rumah Gilang saat ia hendak masuk rumah Gilang ia menemui anak buah Gilang, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Papi angkatnya tersebut.
"Om, apa yang terjadi pada papi?"tanya Jihan sambil celingak-celinguk agar orang tidak dapat mendengar ucapannya.
"Sebenarnya ..."anak buah Gilang menceritakan semua kejadian kemarin pada Jihan membuat Jihan kesal.
"Terimakasih atas informasinya, saya masuk kedalam dulu ya."ucap Jihan yang bergegas pergi masuk kedalam rumah.
Aku rasa papi ada didalam kamar, aku langsung masuk saja kedalam kamar papi. Batin Jihan.
Jihan berjalan menuju kamar utama sesampainya ia di depan pintu kamar Gilang, ia mengetuk-ngetuk pintu kamar Gilang dan pintunya terbuka.
"Papi ..."Jihan langsung memeluk Gilang sontak membuat Gilang menjerit kesakitan.
"Sakit, sayang tubuh Papi ini semuanya terluka."ucap Gilang yang menahan sakit.
"Maaf, Jihan tidak tahu, Papi."ucap Jihan dengan sangat lirih.
"Sudah tidak apa, ayo masuk kedalam Papi mau istirahat."ucap Gilang yang masuk kedalam dan di ikuti oleh Jihan.
Jihan duduk di samping Papinya sambil menatap wajah Papinya yang terluka, lalu ia mengelus pipi Papinya dengan perlahan dan tangannya di tarik oleh Gilang.
"Ada apa?"tanya Gilang.
"Siapa yang melukai Papi, apa laki-laki itu?"tanya Jihan sambil menatap bilah mata Papinya.
__ADS_1
"Iya, sudahlah biarkan saja sebab Papi akan membalasnya."ucap Gilang sambil tersenyum manis kepada Jihan.
"Baiklah, sekarang Papi istirahat saja ..."ucap Jihan sambil memijat kepala Gilang membuat Gilang diam dan merasa sangat nyaman.
"Terimakasih, sayang. Kamu selalu biasa membuat Papi tenang seperti ini dari dulu."ucap Gilang dengan sangat lembut membuat Jihan bahagia.
Jihan sangat bahagia kalau melihat Papinya bahagia seperti saat ini sebab ia sangat mencintai Papinya, seperti ia mencintai Ayah kandung yang tidak pernah ia tahu dimana keberadaannya bahkan ia tidak tahu siapa Ayahnya yang sebenarnya.
Aku benar-benar mencintai Papi, seperti aku mencintai ayah ku yang tidak aku ketahui keberadaan dan wajahnya, batin Jihan.
Gilang tidak pernah menceritakan tentang siapa Ayah Jihan yang sebenarnya, sebab ia takut Jihan akan pergi meninggalkannya dan memilih bersama dengan Ayah kandungnya.
..
Amit menghentikan motornya di tepi jalan ia mencoba memikirkan kemana Isyah pergi sampai ia teringat, kalau ia belum mencari Isyah di rumah Pak Salam dengan sangat terburu-buru ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Setelah ia sampai di rumah ia langsung berjalan menuju rumah Pak Salam setelah ia sampai, ia melihat sandal Isyah lalu ia mengusap kasar wajahnya dengan sangat kesal ia mengetuk-ngetuk pintu rumah Pak Salam.
"Bisa-bisanya dia pergi tidak bilang-bilang, membuat aku salah sangka pada orang."ucap Amit sambil terus mengetuk-ngetuk pintu rumah Pak Salam.
"Sebentar, "
Ceklek!
Fia membuka pintu rumahnya dan Amit terus-menerus menatap wajahnya.
Waduh, dia seperti ini membuat aku meleleh saja tapi, tidak boleh menyukainya sebab di jodoh adikku. Batin Fia.
"Ada Isa?"tanya Amit membuat Fia tersadar dari lamunannya.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.😘