Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
12. Makan Siang.


__ADS_3

Dengan sigap Almira membuka agendanya dan bersiap-siap mencatat point-point penting saat meeting. Sebetulnya ini bukan meeting lebih disebut memberikan pengarahan tentang tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Almira. Pokoknya semua poin-poin penting dibahas di sini.


To…tok….tok…terdengar sura pintu diketuk.


“Nah itu mungkin makanannya sudah datang,” kata Faisal.


Almirah hendak bangun untuk membuka pintu namun dicegah oleh Faisal.


“Eh….udah kamu duduk saja. Biar saya yang bukakan pintu,” kata Faisal lalu beranjak dan membuka pintu.


“Terima kasih, Min,” ucap Faisal kepada orang yang mengantarkan makanan.


Lalu Faisal menutup kembali pintu ruang kerjanya.


“Nah ini makanannya sudah datang,” kata Faisal sambil membawa rantang dan ditaruh ke atas meja.


“Oh…dianterin makanan dari rumah, ya?”


“Bukan dari rumah saya tapi dari Mamah,” jawab Faisal.


“Mamah tau hari ini hari pertama masuk kerja. Jadi Mamah menyiapkan makanan special untukmu.”


“Terima kasih. Maaf jadi merepotkan,” ucap Almira.


“Nggak merepotkan kok. Yang masak ART di rumah Mamah. Mamah cuma memberikan instruksi.”


“Sekarang kita kita makan dulu. Kamu pasti sudah lapar.”


Almira mengosongkan meja di depannya, lalu ia mulai membuka rantang dan ditaruh diatas meja satu persatu.


“Piring makan dan sendoknya ada di pantry,” kata Faisal.


Almira berjalan menuju pantry yang berada di luar ruangan Faisal mengambil piring, sendok dan garpu.


“Bapak mau minum apa?’ tanya Almira sambil meletakan piring, sendok dan garpu di meja.

__ADS_1


“Air putih saja,” jawab Faisal.


Almira keluar ruangan menuju ke pantry mengambil dua buah gelas dan diisi air mineral lalu di bawa ke ruangan Faisal


“Ayo makan,” ajak Faisal.


Faisal mengambil nasi beserta lauk pauknya. Almira memilih menghabiskan nasi goreng yang dibawakan oleh Bibinya.


“Ayo dimakan dong lauk pauknya!” seru Faisal ketika melihat Almirah hanya memakan nasi goreng yang dibawanya.


“Iya, Pak.” Almira pun mengambil lauk pauk beserta sayuran dari dalam rantang.


Almira mencicipi makanannya satu persatu.


Hmm ternyata enak, puji Almira di dalam hati.


Mungkin Tante Rosita mempunyai tukang masak khusus.


Almira menikmati makanan yang dihidangkan sampai perutnya kenyang. Dilihatnya Faisalpun sudah selesai makannya. Almira langsung membereskan meja. Rantang ia tumpuk kembali, piring dan sendok bekas makan ia cuci di pantry. Setelah semuanya beres dan bersih Almirah melanjutkan pekerjaannya.


Tak terasa waktu cepat berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Almira baru ingat kalau ia belum sholat ashar. Almirapun pamit kepada Faisal untuk sholat ashar. Setelah selesai sholat ashar Almira bersiap-siap untuk pulang.


“Pak, ada lagi yang harus saya kerjakan?” tanya Almira sebelum pulang.


“Tidak ada. Kamu boleh pulang,” jawab Faisal.


“Baiklah, Pak. Assalamualaikum,” ucap Almira.


“Waalaikumsalam.”


Baru saja Almira menutup pintu ruangan Faisal, namun tiba-riba Faisal memanggil Almira.


“Almira.”


Almira membuka kembali pintu ruangan Faisal. Faisal menghampiri Almira.

__ADS_1


“Saya belum tau nomor ponselmu.” Faisal memberikan ponselnya kepada Almira.


Almira mengambil ponsel dari tangan Faisal lalu mengetik nomor ponsel miliknya di ponsel Faisal.


“Ini, Pak.” Almira mengembalikan ponsel milik Faisal.


“Terima kasih,” ucap Faisal.


Faisal men save sambil tersenyum.


“Sekarang kamu boleh pulang,” kata Faisal.


“Assalamualaikum,” ucap Almira.


“Waalaikumsalam.” Faisal menutup pintu ruangannya.


Almira mengambil tasnya lau berjalan menuju liff.


Almira berdiri di pinggir jalan menunggu ojol yang ia pesan. Jalan raya sore hari cukup padat, mungkin karena jam bubar kantor. Tiba-tiba sebuah mobil lewat lalu membunyikan klakson dan si pengemudi melambaikan tangannya ke Almira. Almira tersenyum dan membalas lambaian tangan pengemudi itu. Para karyawan yang sedang berdiri di pinggir jalan memperhatikan Almira. Almira baru sadar kalau dia ini sedang berada di dekat lingkungan kantor, bukan di mall atau di public area yang lain. Sedangkan yang barusan yang melambaikan tangan ke Almira adalah bos mereka.


Hadeuh ini mah bakalan jadi bahan gunjingan, bisik Almira di dalam hati


Tapi biarkan saja, toh mereka sama-sama single. Jadi tidak akan ada pelakor atau pebinor. Jadi santai aja jika nanti mendengar gunjingan orang, pikir Almira.


“Mbak Almira?” tanya seorang  supir ojol yang berhenti di depannya.


“Iya, saya.”


Lalu supir ojol itu memberikan helm kepada Almira.


Hmm mulai besok harus membawa helm sendiri, bisik Almira di dalam hati.


Hari ini ia harus pasrah memakai helm yang dipinjamkan supir ojol.


Setelah memakai helm Almira langsung naik ke atas motor dan setelah Almira sudah siap motorpun melaju di jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2