
Sore harinya Almira sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya. Padahal di rumah Faisal ada Bi Cani yang biasa masak untuk Faisal dengan anak-anaknya. Namun Almira ingin memasak untuk keluarga kecilnya.
“Bunbun agih matak apa?” tanya Akbar yang mendatangi Almira di dapur.
“Bunda lagi masak ayam untuk makan malam kita makan malam,” jawab Almira yang lagi sibuk mengulek sambel untuk teman ayam goreng.
“Akbar, jangan dekat-dekat nanti kecipratan sambel. Nanti perih kena mata,” kata Almira.
“Albal mau di cini cama Bunbun,” kata Akbar sambil merajuk.
Almira membawa Akbar ke meja makan yang berada di dapur.
“Akbar lihat Bundanya dari sini,” kata Almira.
“Nanti Albalnya cena cambel, Bunbun?” tanya Akbar.
“Iya, sayang,” jawab Almira.
Lalu Almira meneruskan mengulek sambel. Tiba-tiba datang Amelia masuk ke dalam dapur dan mendekati Almira.
“Amel tata Bunbun jangan decat-decat Bunbun nanti cena cambel pelih matanya,” kata Akbar kepada saudara kembarnya.
Almira menoleh ke belakang.
“Amelia, duduk di kursi, ya sayang. Bunda lagi ngulek sambel. Nanti kena mata Amel,” kata Almira.
Amelia menurut, ia duduk di kursi di sebelah saudara kembarnya. Tak lama kemudian Faisal datang ke dapur.
“Almira masih lama masaknya?” tanya Faisal.
“Sebentar lagi, Mas,” kata Almira sambil membalik ayam yang sedang goreng.
Faisal melihat kedua anak kembarnya yang sedang duduk manis di kursi.
“Loh kok, anak-anak Ayah ada di sini?” tanya Faisal.
“Mau liat Bunbun,” jawab Akbar.
“Mau cama Nda,” jawab Amelia.
Almira mengangkat ayam yang telah digoreng, lalu ia mematikan kompornya.
“Ayo, kita makan. Bunda sudah selesai masaknya,” kata Almira mengajak kedua batita kembarnya untuk pindah ke ruang makan.
“Atu mau mamam cama Nda,” kata Amelia.
“Atu uga,” kata Akbar.
“Sabar, ya Nak. Bunda bawakan dulu makanannya ke sini,” kata Almira.
Almira membawa makanan yang baru saja ia masak yaitu ayam goreng, tempe goreng, sambel dan sayur kacang mereh. Dan tak lupa penambah rasa yaitu kerupuk.
“Ayah mau makan sekarang atau nanti saja setelah sholat magrib?” tanya Almira.
__ADS_1
“Nanti saja, Bun. Ayah masih kenyang,” jawab Faisal.
Almira mengambil nasi dan ayam goreng untuk menyuapi anak kembarnya.
“Ayah, tolong panggilkan Kakak Naura. Suruh makan dulu,” kata Almira sambil menyuapi Akbar.
“Iya, Bun.”
Faisalpun naik ke lantai atas untuk memanggil putri sulungnya. Tak lama kemudian Faisal datang bersama Naura.
“Kak, makan dulu,” kata Almira yang sedang menyuapi Amelia.
“Makan sama apa?” tanya Naura sambil mendekati meja makan dan melihat makanan yang tersaji di atas meja.
Naura mengambil satu potong ayam goreng. Ia mencoba rasanya, lalu ia memotek ayam goreng dan dicolek ke sambel. Naura memakan ayam yang sudah dicolek dengan sambel dan tiba-tiba Naura mengerutkan alisnya.
“Siapa yag masak?” tanya Naura.
“Tante yang masak, ya?” tanya Naura.
“Kenapa, Kak? Nggak enak, ya rasanya?” tanya Almira dengan was-was
“Rasanya beda dengan masakan Bi Cani. Lebih enak rasanya,” jawab Naura.
“Alhamdullilah kalau Kakak suka,” ucap Almira.
Tadi Almira sempat deg-degan takut kalau Naura tidak menyukai masakannya.
Naura langsung menuangkan nasi di atas piring dan mengambil sepotong ayam goreng beserta dengan sambelnya.
“Apa saja, terserah Tante,” jawab Naura.
“Napa Tata Nola panggil Ante butan Bun nda?” tanya Amelia kepada Almira.
“Nggak apa-apa kalau Kakak Naura mau panggil Tante,” jawab Almira.
Almira tidak mempermasalahkan Naura memanggilnya dengan sebutan Tante, yang penting baginya Naura mau menerimanya sebagai ibu sambung.
Setelah selesai makan Almira mengajak putra putrinya untuk sholat magrib berjamaah di mushola. Ini pertama kalinya Akbar dan Amelia belajar sholat. Mungkin karena terlalu sibuk hingga Faisal tidak pernah mengajak anak kembarnya untuk sholat. Sedangkan Naura belajar sholat di sekolahnya. Karena Amelia belum mempunyai mukena, Almira memasangkan mukenanya kepada Amelia.
“Pakai mukenah Bunda dulu, ya. Nanti kapan-kapan kita beli mukenah untuk Amelia,” kata Almira. .
“Nanti dibeliin cama Nda?” tanya Amelia.
“Iya sayang,,” jawab Almira.
Setelah semua siap Faisal mulai komat dan memulai sholat magrib. Akbar dan Amelia sholat sambil main-main, namun Almira membiarkanya. Wajar anak sebesar Akbar dan Amelia sholat sambil main-main. Yang penting mereka mau ikut sholat berjamaah. Selesai sholat Almira mencium tangan Faisal yang kemudian dibalas dengan ciuman dikening oleh Faisal. Naura, Akbar dan Amelia mencium tangan Faisal dan Almira. Hati Almira begitu bahagia, inilah saat-saat selalu ditunggu Almira yaitu sholat berjamaah bersama dengan suami dan anak-anaknya.
Setelah sholat magrib Almira beralih ke putri sulungnya yaitu Naura.
“Kakak besok berangkat sekolah jam berapa?” tanya Almira kepada putri sulungnya.
“Jam enam lewat lima belas menit,” jawab Naura.
__ADS_1
“Sudah disiapkan belum buku-bukunya?” tanya Almira.
“Sudah,” jawab Naura singkat.
“PR nya sudah dikerjakan?” tanya Almira lagi.
“Sudah,” jawab Naura.
“Kalau ada PR dan tugas yang tidak dimengerti, boleh kok tanya ke Tante,” kata Almira.
“Iya Tante,” jawab Naura.
Akbar dan Amelia menghampiri Almira yang sedang berada di kamar Naura.
“Bunbun ngantuk,” kata Akbar yang mulai mengkucek-kucek mata.
“Ngantuk sayang? Kita gosok gigi dulu, ya.” Almira mengajak Akbar dan Amelia untuk gosok gigi.
“Kakak Naura, nanti sebelum tidur jangan lupa sholat isya dulu, ya!” pesan Almira.
Naura menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Lalu Almira mengajak Akbar dan Amelia menuju ke kamar mandi untuk mengosok gigi.
Setelah menggosok gigi Almira mengajak kedua batita kembarnya tidur. Sesuai dengan janjinya Almira membacakan buku cerita sebelum tidur. Namun baru saja membacakan beberapa kalimat, kedua batita itu sudah tertidur. Mungkin Akbar dan Amelia kecapean setelah seharian mereka menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan Ayah dan Bunda mereka.
Almira mengecup kening anak-anak batitanya satu persatu.
“Jadi anak yang sholeh, ya Akbar. Bunda sayang sama Akbar,” bisik Almira lalu mengecup kening Akbar.
Lalu Almira beralih kepada Amelia.
“Jadi anak soleha, ya Amelia. Bunda sayang sama Amelia,” bisik Almira lalu mengecup kening Amelia.
Setelah mengecup kening batita satu persatu Almira keluar dari kamar batitanya. Almira beralih ke kamar putri sulungnya. Lampu kamar Naura sudah mati, pertanda anak remaja itu sudah tidur. Almira membuka pintu kamar Naura lalu menghampiri Naura yang sedang tidur.
“Jadi anak sholeha Naura. Bunda sayang sama Naura,” bisik Almira lalu mengecup kening putri sulungnya. Setelah itu Almira keluar dari kamar Naura.
Almira turun menuju ke lantai dasar dilihatnya suaminya tertidur di depan tv.
“Mas…bangun Mas. Tidurnya pindah ke kamar,” kata Almira sambil menepuk-nepuk kaki suaminya.
Mendengar suara istrinya Faisal langsung bangun dari tidurnya.
“Mas sudah sholat isya belum?” tanya Almira.
“Belum, Mir,” jawab Faisal dengan mata yang mengantuk.
“Ayo sholat dulu, baru tidur,” ajak Almira.
Sambil sempoyongan Faisal masuk ke dalam kamarnya dan diikuti oleh Almira dari belakang. Faisal langsung masuk ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah Faisal selesai wudhu baru Almira berwudhu. Setelah itu mereka sholat isya bersama. Selesai sholat isya Faisal dan Almira langsung naik ke peraduan.
“Mas ngantuk, Mir. Mas tidur dulu, ya,” kata Faisal dengan mata yang terpejam.
“Iya, Mas. Nggak apa-apa,” jawab Almira lalu mengecup pipi suaminya.
__ADS_1
Faisal langsung tidur sambil memeluk Almira. Almira akhirnya tertidur menyusul suaminya ke alam mimpi.