Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
51


__ADS_3

Almira merasa ingin buang air kecil sehingga ia terbangun dari tidurnya. Perlahan ia bangun dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Almira berjalan sambil memegang tembok, karena kepalanya masih terasa sakit dan kadang-kadang masih suka pusing. Ketika Almira keluar dari kamar mandi seseorang membuka pintu kamarnya.


“Bunbun…..” Akbar memasuk ke dalam kamar Almira langsung naik ke atas tempat tidur.


“Nda…..” Amelia ikut masuk ke dalam kamar Almira dan ikut naik ke atas tempat tidur.


“Eh…. anak sholeh dan sholeha belum salam sama Bunda.” Almira duduk di sebelah kedua batitanya.


“Acalamualaicum, Nda.” Amelia mencium tangan Almira.


“Waalaikumsalam,” jawab Almira.


“Acalamualaicum, Bunbun.” Akbar mencium tangan Almira.


“Waalaikumsalam,” jawab Almira.


“Sudah belanjanya?” tanya Almira kepada kedua batitanya yang sedang asyik memaikkan mainan yang baru dibeli dari supermarmarket.


“Udah,” jawab Akbar sambil mengangguk-nganggukan kepala.


“Kakak mana?” tanya Almira.


“Tata ajih malah-malah cama Ayah di depan,” jawab Amelia.


“Marah-marah sama Ayah?” tanya Almira.


“Iya, malah-malah,” jawab Akbar.


“Marah-marah kenapa?” tanya Almira.


Akbar dam Amelia menjawabnya sambil mengangkat bahu. Almira langsung berjalan menuju ke pintu kamar. Ketika Almira membuka pintu kamarnya, kedua pengasuh anaknya sedang berdiri di depan kamar.


“Mbak ada apa diluar?” tanya Almira.


Kedua pengasuh itu kaget ketika ditanya oleh Almira.


“Anu…Bu, Kakak sedang marah-marah sama kedua tamu Bapak,” jawab pengasuh Akbar.


“Marah? Memangnya kenapa?” tanya Almira tidak mengerti.


“Bajunya…bajunya….” Pengasuh Akbar tidak meneruskan kata-katanya karena diberi kode oleh pengasuh Amelia.


“Kenapa dengan bajunya?” tanya Almira penasaran.


“Bajunya…..” Pengasuh Akbar tidak melanjutkan kata-katanya.


“Kalau tidak ada yang mau membertitahu kepada saya, biar saya lihat sendiri.” Almira langsung ke luar dari kamar menuju ke ruang tamu.


Dengan tergopoh-gopoh pengasuh Akbar mengikuti majikannya dari belakang ia takut terjadi sesuatu pada majikannya.


Terdengar suara Faisal,


“Kakak jangan kencang-kencang! Nanti Bunda bangun,” kata Faisal kepada Naura.


“Memang kenapa kalau sampai Almira bangun, Mas?” tanya Almira dengan tiba-tiba.


Semua orang di ruangan itu kaget dengan kedatangan Almira.

__ADS_1


“Almira.” Faisal mendekati istrinya.


“Almira, duduk dulu.” Faisal menuntun istrinya untuk duduk. Namun Almira menepis tangan suaminya.


“Ada apa ini, Mas? Kenapa Mas tidak ingin sampai Almira bangun?” tanya Almira.


“Mas, akan jelaskan tapi kamu duduk dulu,” kata Faisal.


“Almira tidak akan duduk, kalau Mas belum menjelaskan!” seru Almira dengan marah.


Lalu Almira beralih kepada Naura.


“Kakak, apakah Kakak bisa terangkan kepada Bunda ini sebenarnya ada apa?”


“Mereka pakai baju seperti pe-la-cur. Masa kancing bajunya dibuka sampai dadanya mau loncar keluar. Terus roknya cuma sampai sebatas sepertiga pa-ha,” kata Naura.sambil menunjuk kearah Nadia dan Ina.


“Oh…jadi mereka sengaja pakai baju seperti itu di depan Ayahmu?” tanya Almira.


“Iya, Bunda,” jawab Naura.


“Pantesan Ayah tidak ingin Bunda bangun. Biar nggak ketahuan sama Bunda, ya?” kata Almira.


“Waktu Naura masuk Ayah lagi membaca kertas itu. Mereka berdua lagi duduk di dekat Ayah sambil menyodorkan dadanya yang hampir loncat keluar dan memamerkan pa-ha-nya di dekat Ayah,” jawab Naura sambil menunjuk ke dokumen yang diletakkan di atas meja ruang tamu.


“Oh, ya? Coba Bunda mau lihat itu dokumen apa sih? Itu dokumen beneran atau dokumen bohongan akal-akalan mereka biar ketemu Ayah,” kata Almira.


“Kak, tolong ambilin dokumen yang di atas meja!”


Naura mengambil dokumen yang di atas meja lalu diberikan kepada Almira. Almira membuka dokumen itu satu persatu.


“Saya, Bu,” jawab Nadia.


Almira tersenyum sinis.


“Sengaja, ya ketikannya disalah-salahin biar bisa ketemu sama sugar daddynya?” kata Almira dengan sinis.


“Almira, jaga omongan kamu!” kata Faisal.


“Kenapa? Takut, ya rahasianya terbongkar di depan anaknya?” tanya Almira.


Almira melanjutkan membaca dokumen itu. Almira menutup dokumen itu setelah membacanya lalu tersenyum sinis.


“Pantesan saja disuguhi dada mon-tog dan pa-ha mu-lus, isi dokumennya bisa membuat perusahaan menjadi rugi. Sepertinya manager pemasaran kerjasama dengan pembeli agar mendapatkan keuntungan besar,” kata Almira.


“Coba Mas lihat.” Faisal mengambil dokumen dari tangan Almira.


Faisal membaca dokumen itu dengan muka masam seperti orang menahan marah.


“Sialan si Teddy! Berani-beraninya main curang,” kata Faisal dengan geram.


“Makanya dia sengaja ngirim nih kedua ulat keket ini buat mengacaukan konsentrasi Mas. Tapi kedua ulat keket ini sedang berusaha menarik perhatian Mas agar bisa menggantikan Almira yang geger otak, jadinya dokumennya sengaja diketik dengan banyak kesalahan biar bisa bolak-balik ketemu Mas,” kata Almira.


“Maksud untuk apa mereka menggantikan Bunda?” tanya Naura dengan penuh rasa ingin tau.


“Coba, Naura tanya sendiri kenapa mereka pakai baju seperti itu dan mengapa dokumennya banyak kesalahan,” kata Almira.


Naura mendekati kedua perempuan itu.

__ADS_1


“Heh….maksud Tante-Tante apa pakai baju seperti itu?” tanya Naura dengan kesal.


“Kami disuruh oleh Pak Teddy,” jawab Ina.


“Biar apa pakai baju seperti itu?” tanya Naura.


“Biar bisa merayu Pak Faisal apalagi Ibu Almira mengalami geger otak, sehingga ada peluang bagi kami bisa menggantikan Bu Almira,” jawab Nadia.


“Maksunya menggantikan Bundaku untuk apa?” tanya Naura.


“Ya menjadi Ibu sambung Mbak Naura. Ibu Almira saja bisa menggoda Pak Faisal, masa kami tidak bisa,” jawab Nadia blak-blakan.


“Tante-Tante ini menyumpahi Bundaku cepat mati, biar bisa jadi Ibu sambungku? Lagi pula Bunda tidak pernah merayu Ayah, malah Ayah yang mengejar-ngejar Bunda dan merayu Bunda. Kalau Tante-Tante tidak percaya aku ini saksinya yang melihat sendiri bagaimana cara Ayah mendekati Bunda. Jadi jangan harap Ayah bisa berpaling dari Bunda!” kata Naura dengan kesal.


“Sudah Naura.” Faisal mencoba menjauhkan Naura dari kedua perempuan itu. Faisal takut Naura akan berbuat kasar kepada kedua perempuan itu.


“Sebetulnya saya ingin memecat kalian, tapi karena kelakuan kalian juga akhirnya niat busuk Teddy bisa terungkap. Jadi saya menyuruh kalian untuk resign. Besok surat resign kalian sudah harus sampai ke tangan Pak Joko! Sekarang kalan boleh kembali ke kantor.”


“Tapi ingat, Teddy tidak boleh mengetahui hal ini! Kalau sampai Teddy tau,surat resign kalau akan berganti dengan pemecatan dengan tidak hormat dan dianggap bersekongkol dengan Teddy,” ancam Faisal.


“Baik, Pak. Kami permisi.” Kedua perempuan itu meninggalkan rumah Faisal  lalu masuk ke dalam mobil perusahaan yang sudah lama menunggu mereka di depan rumah Faisal.


Setelah kedua perempuan itu pergi Faisal mendekati Almira yang masih kelihatan marah lalu mengusap-usap punggung Almira.


“Sudah dong, jangan marah lagi. Kan semuanya sudah jelas, Mas tidak ngapa-ngapain dengan mereka,” kata Faisal.


“Kalau Kakak belum datang mungkin Mas akan berbuat sesuatu dengan mereka,” kata Almira dengan kesal.


“Kalau Mas mau mungkin dari dulu Mas punya hubungan dengan mereka,” jawab Faisal.


Almira langsung menoleh ke arah Faisal.


“Mereka sering berpakaian seperti itu di depan Mas?” tanya Almira penasaran.


“Iya, dan Mas tidak tertarik melihat mereka,” jawab Faisal.


“Kenapa?” tanya Almira.


Setau Almira semua laki-laki pasti akan tertarik melihat kemolekan tubuh mereka.


“Karena kalau mereka berani berbuat seperti itu di depan Mas. Berarti mereka juga berani seperti itu di depan laki-laki lain.”


“Mas lebih suka yang tertutup seperti ini. Bikin Mas penasaran pengen melihat isinya,” bisik Faisal .


“Dasar mesum!”


“Biarin mesum asalkan dengan istri sendiri,” bisik Faisal kemudian mengecup pipi istrinya.


“Mas tidak ke kantor?” tanya Almira.


“Tidak, besok saja.” Faisal memapah istrinya menuju ke kamar mereka.


“Apa Mas tidak takut Pak Teddy kabur?” tanya Almira.


“Nanti saja Mas pikirkan caranya. Sekarang Almira istirahat dulu di kamar.”


Ketika Faisal membuka pintu kamarnya mereka dikejutkan oleh ketiga anaknya yang sedang asyik memakan snack di atas tempat tidur Ayah dan Bunda mereka. Almira dan Faisal cuma bisa bengong melihat tempat tidur mereka berantakan oleh bungkus snack dan mainan anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2