
Faisal berdiri dan menghampiri Almira. Lalu Faisal memapah Almira menuju kursi sofa.
“Duduk, ada yang hendak Mas katakan padamu.” Almira mengikuti perkataan Faisal.
Faisalpun duduk di sebelah Almira. Almira dan Faisal duduk saling berhadapan.
“Almira, kamu tidak bisa terus menerus menghindar dari Tomy. Sampai kapanpun dia akan terus terusan mengejarmu. Hanya ada satu cara yang dapat menghentikan Tomy mengejarmu,” kata Faisal.
“Apa itu, Mas?” tanya Almira penasaran.
“Menikah denganku. Hanya itu satu-satunya cara Tomy berhenti mengejarmu,” jawab Faisal.
“Ihhh Mas, orang lagi serius malah becanda,” ujar Almira sambil tertawa.
“Almira, saya serius bukan becanda,” kata Faisal sambil menatap Almira.
“Dengan menjadi istri saya statusmu akan berubah bukan lagi wanita single. Dan saya rasa Tomy tidak akan berani macam-macam, karena statusmu sudah menjadi istri orang lain. Dan sebagai suami saya berhak untuk melindungimu.”
“Mas, kalau mau menolong saya tidak usah harus menikahi saya. Saya tidak ingin Mas menikahi saya karena terpaksa,” kata Almira.
“Kata siapa saya terpaksa? Saya mengambil keputusan ini karena saya ingin melindungimu Almira. Melindungimu dari Tomy dan Ibunya dan dari orang-orang yang mempunyai niat tidak baik terhadapmu.”
“Lagi pula tidak selamanya saya harus hidup menduda, saya juga membutuhkan seorang istri yang mendampingi dan menemani saya. Dan anak-anak juga membutuhkan kasih saya seorang ibu,” kata Faisal.
“Bagaimana kalau saya tidak bisa menyayangi anak-anak Mas Faisal?” tanya Almira.
Faisal menatap Almira sambil tersenyum.
“Mas percaya kamu pasti menyayangi mereka. Sebab sikapmu tulus kepada anak-anak saya,” jawab Faisal.
“Bagaimana dengan Naura? Dia pasti tidak ingin saya menjadi ibu sambungnya,” tanya Almira.
“Siapa bilang? Justru sebelum saya melamarmu, saya bertanya dulu pada Naura. Dan ia jawab boleh,” kata Faisal.
“Yang bener, Mas?” tanya Almira dengan tidak percaya.
“Kelihatan kok dari sikap Naura. Biasanya Naura tidak mau menyalami perempuan-perempuan yang sedang berusaha mendekati saya. Bahkan Naura akan memandangi mereka dengan tatapan jijik,” jawab Faisal.
__ADS_1
“Tapi terhadapmu dia berbeda. Dia mau menyalamimu dan tidak memandangmu dengan tatapan jijik.”
“Ada pertanyaan lagi?” tanya Faisal sambil menatap Almira dengan lembut.
“Tidak ada, Mas. Kasih saya waktu untuk berpikir,” jawab Almira.
“Boleh, tapi jangan lama-lama, ya! Saya takut Tomy mengganggumu lagi,” kata Faisal.
“Iya, Mas.”
Lalu Almira keluar dari ruangan Faisal untuk melanjutkan pekerjaannya. Dan Faisal merasa lega karena ia sudah mengutarakan niat baiknya. Apalagi menurut perhitungan Faisal sebentar lagi masa iddha Almira akan berakhir. Jika Almira menerima pinangannya maka Faisal akan segera menikahi Almira.
Sore harinya…
“Mas, saya pamit pulang, ya,” kata Almira.
“Tunggu, Mir. Pulangnya saya antar,” kata Faisal sambil mematikan computer dekstopnya.
“Eh…nggak usah Mas. Saya naik ojol saja,” kata Almira.
“Nggak apa-apa. Sekalian saya ada perlu dengan Om Rahmat,” kata Faisal lalu mengambil suit nya yang tergantung di kursi.
“Rahasia,” jawab Faisal lalu keluar dari ruangannya. Setelah menutup pintu ruang kerjanya Faisal dan Almira berjalan menuju liff.
“Tapi kasihan anak-anak, pasti menunggu Mas Faisal,” kata Almira ketika menunggu liff.
“Kalau kamu tidak ingin anak-anak menunggu, maka kamu harus terima pinangan saya. Agar kita bisa pulang ke arahnya sama yaitu ke rumah kita,” jawab Faisal.
Jawaban Faisal langsung membuat Almira tersipu malu.
“Malu Mas, nanti ada yang dengar,” bisik Almira.
“Biarkan saja, toh kita sama-sama single. Bukan pasangan selingkuh,” bisik Faisal.
Tak lama kemudian pintu liff terbuka, Faisal dan Almira masuk ke dalam liff.
****
__ADS_1
Faisal memarkirkan sedan mewahnya di depan rumah Almira.
“Mas sebetulnya Mas apa ketemu dengan Mamang?” tanya Almira sekali lagi sebelum turun dari mobil.
“Pokoknya rahasia. Kalau dikasih tau bukan rahasia dong,” jawab Faisal sambil tersenyum simpul.
“Ya sudah kalau tidak mau kasih tau,” gerutu Almira.
Almira keluar dari mobil Faisal dan masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut. Faisal mengikuti Almira dari belakang.
“Assalamualaikumsalam,” ucap Almira dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa mempersilahkan Faisal untuk masuk.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Lia.
Dengan wajah yang masih cemberut Almira mencium tangan Ibu Lia.
“Almirah, kenapa wajah kamu cemberut begitu?” tanya Ibu Lia.
“Lagi kesel, Bi,” jawab Almira.
Tiba-tiba terdengar suara Faisal mengucapkan salam.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal.
“Mir, itu seperti suara Faisal, deh. Kenapa tidak kamu suruh masuk?” tanya Ibu Lia.
“Males ah, Bi. Mas Faisalnya nyebelin,” jawab Almira lalu duduk di ruang keluarga dengan wajah yang masih ditekuk.
“Oh…ceritanya lagi marah sama Faisal. Ya, sudah Bibi saja yang menemui Faisal,” kata Ibu Lia.
Ibu Lia menghampiri Faisal yang masih berdiri di depan pintu.
“Waalaikumsalam. Silahkan masuk Faisal,” ucap Ibu Lia.
Faisalpun masuk ke dalam ruang tamu.
“Om Rahmat ada, Tante?” tanya Faisal.
__ADS_1
“Oh…ada. Silahkan duduk dulu,” kata Ibu Lia.
“Tante panggil Om dulu, ya!” Kemudian Ibu Lia masuk ke dalan rumah untuk memanggil Pak Rahmat.