
Sebelum adzan magrib berkumandang Almira sudah sampai di rumah. Sehingga Almira tidak telat sholat magrib. Selesai sholat magrib Almira makan bersama dengan Paman, Bibi dan Nina, sedangkan Rafi belum datang dari kantor.
“Bagaimana dengan pekerjaan barumu? Ada kesulitan nggak atau bisa mengikuti dengan baik?” tanya Pak Rahmat kepada Almira ketika kumpul dengan keluarganya setelah makan malam.
“Alhamdullilah sejauh ini Almira bisa mengikuti yang diperintahkan Pak Faisal,” jawab Almira.
“Syukurlah kalau kamu bisa mengikuti,” ucap Pak Rahmat.
“Mas Faisal galak nggak Teh?” tanya Nina.
“Nggak galak. Pak Faisal tidak seperti bos-bos yang dalam novel-novel yang galak dan jaim. Atau yang kegenitan dan tangannya suka gerayangan,” jawab Almira.
“Yang suka kegenitan dan tangannya suka gerayangan itu seperti siapa ya, Teh?” tanya Nina pura-pura polos.
“Nina, jangan suka membahas yang sudah berlalu! Biarkan Teteh kamu dengan kehidupan barunya,” tegur Ibu Lia.
“Iya, Mah.” Nina memasang muka menyesal.
“Tadi sempat sarapan lagi nggak?” tanya Ibu Lia.
“Nggak sempat, Bi. Interview saja sudah berapa jam. Terus langsung diantar ke ruangan tempat Almira kerja. Pas baru mau makan siang Pak Faisal datang nyuruh sholat terus meeting di ruangannya sambil makan siang,” jawab Almira.
“Untuk makan siang dikirimin makanan sama Tante Rosita. Udah aja Almira makan nasi goreng dengan lauk pauk dari Tante Rosita.”
“Kata Pak Faisal sih, Tante Rosita membawakan makanan special untuk Almira,” kata Almira dengan rasa tidak bersalah.
Tapi orang-orang yang mendengar perkataan Almira langsung memandang wajah Almira dengan rasa ingin tau.
“Kenapa?” tanya Almira bingung ketika semua orang memandang ke arahnya.
“Wah….Mah, sepertinya Mamah bakalan hajatan dua kali dalam setahun,” kata Nina kepada Mamahnya.
“Kenapa hajatannya sampai dua kali?” tanya Almira yang masih belum juga mengerti.
“Aduh Teteh……Teteh ini sudah dewasa tapi kenapa masih polos kayak anak ABG?” sahut Nina.
“Apa sih maksud Nina? Teteh nggak ngerti,” tanya Almira lagi.
Nina memegang dahinya dan sikut lengannya bertumpu pada meja. Seperti orang yang sedang berpikir keras.
“Dengerin, ya Teh. Tante Rosita ngirim makanan untuk Teteh karena ada maunya,” kata Nina dengan penuh penekanan.
“Maksudmu Tante Rosita punya niat tertentu ke Teteh?” tanya Almira.
“Iya.”
“Tapi punya niat apa?’ tanya Almira yang masih belum bisa menangkap.
“Apalagi kalau bukan menjadikan Teteh sebagai menantunya,” jawab Nina terus terang.
Mendengar perkataan Nina sontak Almira kaget lalu menahan nafasnya sambil menutup mulutnya dengan tangannya dan matanya membelalak.
“Nah….baru sadarkan. Kemana aja Teteh dari tadi?” kata Nina.
“Tapi nggak mungkin ah. Selera Pak Faisal pasti tinggi.”
“Kita lihat saja besok, Tante Rosita nganterin makanan lagi nggak,” kata Nina.
“Nina kamu kenapa sih? Ibu Rosita baik ke Almira sudah kamu curigai,” tegur Ibu Lia.
“Bukannya curiga, Mamahku sayang. Tapi kebaikan Ibu Rosita itu seperti ada udang dibalik nasi,” kata Nina.
“Kalau ada udang dibalik nasi juga nggak apa-apa. Mamah setuju aja,” kata Ibu Lia dengan tenang.
__ADS_1
“Mamah setuju kalau Teh Almira dijodohkan dengan Mas Faisal?” tanya Nina dengan tidak percaya.
“Iya setuju aja, Faisal kan orangnya baik, sopan pada orang tua dan taat pada agama,” jawab Ibu Lia.
“Kalau Ayah?” tanya Nina kepada Pak Rahmat.
“Kalau Ayah apa?” tanya Pak Rahmat balik.
“Setuju nggak kalau Teteh dijodohkan dengan Mas Faisal?” tanya Nina lagi.
“Ayah setuju saja. Cuma Teteh kamu mau nggak sama Faisal? Faisal kan anaknya banyak,” kata Pak Rahmat.
“Tuh Teh, semua orang setuju kalau Teteh dijodohin dengan Mas Faisal.”
“Nina, Teteh lagi dalam masa iddah. Lagipula Pak Faisal mana mau sama Teteh,” kata Almira.
“Begitu saja Teteh udah menyerah. Yang semangat dong, Teh!” seru Nina.
“Udah ah, Teteh mau tidur saja. Teteh cape, besok harus berangkat pagi-pagi,” kata Almira lalu pergi ke kamar tidurnya.
“Ah….Teteh mah nggak asyik,” kata Nina dengan kecewa.
🐰🐰🐰
Keesokan harinya seperti hari kemarin Almira sibuk dengan pekerjaan yang diberikan oleh Faisal. Almira berusaha bekerja secara professional. Ia tidak boleh mengecewakan Faisal yang telah memberinya pekerjaan.
Hari ini tidak ada suruhan Ibu Rosita mengantarkan makan siang.
Selamet-selamet, kata Almira dalam hati.
Namun ketika seorang OB yang bernama Ujang datang ke ruangan Faisal, Faisal langsung memanggil Almira ke ruangannya.
“Saya mau pesan makan siang, sekalian kamu saya pesankan,” kata Faisal.
Almira berpikir sebentar.
“Terserah Bapak saja,” jawab Almira.
“Kok terserah saya? Nanti kamu nggak suka dengan makanan yang saya pesan.”
Almira beralih ke Ujang
“Ada makanan apa saja?” tanya Almira ke Ujang.
“Banyak Mbak, segala macam ada,” jawab Ujang.
Almira berpikir lagi.
“Nasi bebek ada nggak?” tanya Almira.
“Nasi bebek yang pakai bumbu hitam?” tanya Ujang.
“Iya yang itu,” jawab Almira.
“Ada, Mbak. Mbak mau?”
“Iya, saya mau nasi bebek. Jangan lupa sambelnya, ya!”
“Sip, Mbak.”
“Kalau Bapak mau makan sama apa?” tanya Ujang kepada Faisal.
“Almira tadi pesan apa?” Faisal balik bertanya.
__ADS_1
“Mbak Almira pesan nasi bebek, Pak,” jawab Ujang.
“Saya pesan nasi bebek juga,” kata Faisal.
“Pedes loh, Pak.” Ujang mengingatkan.
“Ya, jangan pakai sambal. Atau sambalnya dipisah.”
“Nanti sambalnya buat saya,” kata Almira kepada Ujang.
“Sip, Mbak.”
“Ini uangnya, Jang.” Faisal memberikan uang seratus ribu rupiah.
Ujang mengambil uang itu dan lalu pergi keluar dari ruangan Faisal.
Adzan zuhur berkumandang, Almira pamit ke Faisal untuk sholat dzuhur.
“Pak saya sholat dulu,” pamit Almirah.
“Iya,” jawab Faisal sambil membuka suit nya. Mungkin Faisal juga hendak sholat dzuhur.
Almira keluar dari ruangan Faisal menuju ke musholah yang berada di lantai bawah.
Setelah selesai sholat Almira kembali ke ruangannya.
Setengah jam kemudian Ujang datang membawa makan siang pesanannya.
“Ini kembaliannya, Mbak,” kata Ujang sambil menaruh uang diatas meja Almira.
“Terima kasih, Ujang,” ucap Almira.
“Sama-sama, Mbak.”
Setelah itu Ujang pergi meninggalkan ruangan Almira. Almira masuk ke ruangan Faisal sambil membawa makanan beserta piring untuk Faisal.
Ketika masuk ke dalam ruangan Faisal, Faisal sedang duduk di meja kerjanya sambil fokus ke ponselnya. Lengan kemejanya digulung hingga ke siku, rambutnya agak basah nampak seperti baru selesai sholat.
“Pak, ini makan siangnya.” Almira meletakkan makan dan piring diatas meja sofa.
“Bapak mau minum apa?” tanya Almira.
“Air putih saja.” Faisal meletakkan ponselnya di meja kerja. Lalu Faisal berjalan menuju kursi sofa.
Almira mengambil gelas Faisal yang terletak di atas meja kerja Faisal, lalu ia isi dengan air putih dari dispenser setelah itu ia letakkan di meja sofa.
“Loh, makanan kamu mana?” tanya Faisal.
Karena ia melihat hanya ada 1 piring di atas meja.
“Ada di meja saya, Pak,” jawab Almira.
“Makannya di sini saja, temenin saya makan,” kata Faisal.
Almira menghela nafas.
“Baik, Pak.” Almira keluar dari ruangan Faisal untuk mengambil makanannya.
.
.
hari ini up nya 1 kali ya. Deche mau refresing 😁
__ADS_1