
Ternyata gangguan Tomy tidak hanya berhenti sampai di situ. Keesokan harinya ketika jam pulang kantor tanpa Almira sadari ada seseorang yang memantaunya dari jauh. Ketika hendak naik ojol tiba-tiba ada tangan yang mencekram tangannya dengan erat. Tangan itu menariknya dengan paksa, dengan sekuat tenaga Almira melawan.
“TOLONG……..” Almira berteriak.
“Eh Mas, lepasin!!! Jangan main paksa aja!” kata supir ojol.
“Jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga gue!!!” seru Tomy.
“Dia bukan suami saya, Pak,” kata Almira.
Almira terus berjuang agar terlepas dari cengkraman Tomy. Orang-orang yang melihatnya berusaha untuk menolong Almira. Namun Tomy terus saja beralasan kalau ini urusan rumah tangga dia dengan Almira, orang lain larang ikut campur. Sehingga orang-orang cuma menonton tanpa bisa menolong Almira.
Faisal hendak keluar dari halaman kantornya namun terhalang oleh kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan Almira yang sedang ditarik paksa oleh Tomy.
“Pak, ada ribut-ribut apa?” tanya Faisal kepada Dadang security.
“Itu Pak, Ibu Almira sedang dipaksa oleh Pak Tomy. Kata Pak Tomy, Ibu Almira adalah istrinya,” jawab Dadang.
“Kenapa kamu biarin aja, bukannya ditolongin!!” seru Faisal.
Dengan cepat Faisal langsung turun dari mobil menghampiri Almira yang sedang menangis karena tangannya ditarik oleh Tomy.
“Ba-ng-sat !!!!” Faisal langsung menonjok Tomy hingga Tomy jatuh tersungkur.
Begitu terlepas dari Tomy, Almira langsung jongkok sambil menangis. Tangannya terasa sakit karena dicengkram dan ditarik-tarik Tomy.
“Sal, dia istri gue. Lu jangan ikut campur urusan rumah tangga gue!!!” seru Tomy dengan marah.
“Rumah tangga lu yang mana? Rumah tangga lu, lu hancurin gara-gara main gila dengan perempuan lain?” sahut Faisal.
“Sialan lu!!!” Tomy hendak menonjok Faisal namun Faisal berhasil menghindar sehingga Tomy jatuh tersungkur. dan meringis kesakitan. Faisal menghampiri Tomy lalu jongkok di depan Tomy.
“Sekali lagi lu menyakiti Almira, gue nggak akan segan-segan masukin lu ke penjara!” seru Faisal lalu Faisal berdiri dan menghampiri Almira yang sedang menangis. Faisal membantu Almira berdiri lalu membawanya ke dalam mobilnya.
“Dang urus tuh Pak Tomy! Telepon Ibunya atau gundiknya atau ceweknya atau simpanannya, suruh mereka ke sini jemput Pak Tomyi!” seru Faisal.
“Baik, Pak,” jawab Dadang.
Faisal langsung masuk ke dalam mobilnya.
“Mas, kasihan supir ojol yang Almira pesan harus cancel,” kata Almira.
“Yang mana supir ojolnya?” tanya Faisal.
Almira menunjuk supir ojol yang sedang memandang ke arah mereka.
“Kamu tunggu, di sini.”
Faisal keluar dari mobilnya lalu menghampiri supir ojol yang ditunjuk Almira.
__ADS_1
“Maaf ya, Pak. Pesanannya terpaksa dicancel. Ini sebagai penggantinya,” kata Faisal lalu memberikan uang seratus ribu rupiah kepada supir ojol.
‘Terima kasih, Pak,” ucap supir ojol lalu pergi dari hadapan Faisal.
Faisal memandangi Tomy yang masih tersungkur di pinggir jalan.
“Tomy…Tomy….punya istri soleha dan cantik malah kau sia-siakan,” kata Faisal lalu kembali ke mobilnya.
Mobil Faisalpun meluncur meninggalkan halaman kantornya.
Sepanjang jalan Almira terus saja menangis sambil memegang pergelangan yang bekas dicengkram oleh Tomy. Pas lampu merah, kesempatan Faisal untuk memeriksa tangan Almira.
“Sakit ya tangannya? Coba Mas lihat.”
Almira memberikan tangannya yang sakit kepada Faisal.
“Hmm tangannya memar dan lecet. Nanti kita salep di apotik.”
Lampu sudah berubah menjadi hijau sehingga Faisal harus melajukan kendaraannya.
Seperti yang Faisal janjikan, Faisal berhenti di sebuah apotik.
“Kamu tunggu dulu di sini, Mas beli salep untuk mengobati tanganmu.” Faisal melepas seat beltnya lalu keluar dari mobil meuju ke apotik.
Almira memperhatikan Faisal dari dalam mobil.
Betapa beruntungnya wanita yang menjadi istri Mas Faisal, bisik Almira di dalam hati.
“Mana tangan yang sakit?” tanya Faisal.
Almira menyodorkan tangan kirinya. Dengan telaten Faisal mengusapkan salep pada tangan Almira yang lecet dan memar.
“Besok kamu istirahat beberapa hari. Nggak usah masuk kantor dulu, sampai kamu benar-benar sembuh,” kata Faisal.
“Nanti siapa yang membantu Mas Faisal? Mas Faisal pasti sibuk karena harus mengerjakan pekerjaan Mas sendiri,” tanya Almira.
“Kan Mas punya staf banyak, suruh saja mereka yang menggantikanmu selama kamu istirahat. Pokoknya Mas ingin kamu pulih dulu,” jawab Faisal.
“Iya, Mas,” kata Almira.
Lalu Faisal mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman apotik.
Sesampainya di rumah Almira, Faisal langsung memarkirkan mobilnya di depan pagar.
“Tunggu sebentar, biar Mas membukakan pintu,” kata Faisal.
Faisal keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Almira. Faisal memapah Almira masuk ke dalam rumahnya. Nina yang sedang duduk di depan teras rumah langsung berseri melihat Almira dipapah oleh Faisal. Seperti biasa Nina hendak mengoda Almira, namun langsung ditahannya ketika melihat wajah Almira seperti habis menangis. Nina langsung menghampiri Almira.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab Nina.
“Teteh kenapa?” tanya Nina.
Almira hanya diam saja tidak menjawab.
“Biar Nina bantu Mas,” kata Nina lalu Nina yang mengambil alih memapah Almira.
“Om Rahmat ada, Nin?” tanya Faisal.
“Ada, Mas. Silahkan masuk dulu. Nanti Nina panggilkan Ayah,” jawab Nina.
Nina memapah Almira masuk ke dalam rumah.
Di ruang keluarga Nina dan Almira bertemu dengan dengan Ibu Lia. Ibu Lia kaget melihat wajah Almira yang berantakan karena habis menangis.
“Astagfirullahaladzim. Teteh kamu kenapa, Nin?” tanya Ibu Lia yang kaget.
“Mah, ada Mas Faisal ingin bertemu dengan Ayah,” kata Nina.
“Sini biar Mamah yang mengantar Teteh ke kamar! Kamu panggil Ayahmu di ruang kerjanya!” seru Ibu Lia.
“Iya, Mah.” Nina langsung berjalan menuju ruang kerja Pak Rahmat.
Tak lama kemudian Pak Rahmat datang menemui Faisal di ruang tamu.
Faisal langsung menyalami Pak Rahmat ketika Pak Rahmat datang menghampirinya.
“Silahkan duduk Faisal.”
“Sebetulnya apa yang terjadi pada Almira?” tanya Pak Rahmat.
Faisal mulai menceritakan semuanya, mulai dari kedatangan Tomy ke kantornya sampai kejadian yang baru saja terjadi di depan kantornya.
“Oh, jadi ini semua kerjaan ba- ji-ng-an itu,” kata Pak Rahmat.
“Terima kasih, karena sudah menjaga Almira,” ucap Pak Rahmat.
“Sama-sama, Om. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai atasan Almira,” jawab Faisal.
“Saya pamit pulang, Om. Kasihan anak-anak sudah menunggu,” kata Faisal.
“Ya. Hati-hati di jalan,” jawab Pak Rahmat.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Rahmat.
Faisalpun pergi meninggalkan rumah Almira. Pak Rahmat memperhatikan Faisal dari jauh.
__ADS_1
Alhamdullilah, masih ada orang yang baik yang menjaga Almira, bisik Pak Rahmat.