
Melihat Dini dan Rafi bingung menentukan tempat untuk pernikahan mereka, membuat Faisal menjadi gemas.
“Loh, kalian ini bagaimana? Kan kalian yang mau nikah, kenapa kalian jadi bingung memilihnya? Kasihan tuh Almira, jadi bingung mengurusnya,” tegur Faisal.
“Masa Teteh Almira sendiri yang mengurusnya. Mas Faisal juga harus bantuin, dong!” seru Dini.
“Mas Faisal cuma bagian jadi juru kemudi dan juru bayar. Almira yang jadi bosnya. Yang mengatur dan menentukan semuanya,” jawab Faisal.
“Kok jadi saya yang mengurus sendiri? Bantuin dong, Pak! Jangan semuanya saya yang mengerjakan sendiri,” Almira protes karena Faisal tidak mau membantunya.
“Kamu saja yang mengurus dan mengatur. Nanti kalau cape, saya bantu pijitin,” kata Faisal dengan tersenyum jahil.
Mendengar perkataan Faisal, Dini dan Nina saling berpandangan.
“Woy, Mas. Bukan mahrom!!! Mau pegang-pegang aja,” teriak Dini.
“Bukannya “bukan” tapi belum jadi mahrom,” jawab Fsisal santai.
Dini dan Nina saling berpandangan lagi.
“Berarti Teteh akan menjadi mahrom dong, Mas?” celetuk Nina.
“Insya Allah, doain aja, ya. Semoga semuanya lancar,” jawab Faisal dengan wajah tak berdosa.
Almira mendengarnya cuma bisa bengong, Faisal ngomong dengan seenaknya aja. Sebetulnya dia ingin protes dan menyemprot bos nya. Namun Almira tidak enak dengan Ibu Rosita, yang masih berdiri di sebelah sofa tempat Dini duduk.
“Mamah sih terserah kalian saja. Yang penting teman-teman almarhum Papah jangan lupa diundang,” pesan Ibu Rosita.
“Tante tinggal dulu, ya Mir. Tante masih ada urusan di dalam,” pamit Ibu Rosita.
“Iya, Tante,” jawab Almira.
__ADS_1
Kemudian Ibu Rosita masuk ke dalam, namun tiba-tiba kembali lagi.
“Oh, ya Mir. Tante sampai lupa nanya, kue yang buat hantaran pesan dimana?” tanya Ibu Rosita.
“Almira bikin sendiri. Kenapa Tante, nggak enak, ya?” Almira balik bertanya.
“Enak kok. Faisal dan anak-anaknya suka,” jawab Ibu Rosita.
“Alhamdullilah kalau semua suka. Tadinya Almira takut nggak sesuai dengan selera keluarga di sini,” kata Almira.
“Suka kok, Mir. Kuenya enak jadi semuanya suka,” ujar Ibu Rosita.
“Udah, ya. Tante ke dalam lagi.” Ibu Rosita langsung masuk ke dalam rumah.
Setelah Ibu Rosita masuk ke dalam, mereka melanjutkan kembali diskusinya.
“Jadinya bagaimana nih? Mau di gedung atau di ballroom hotel? Mau in door atau out door?” tanya Almira ke Dini sekali lagi.
“Kalau mau sesuai dengan keinginan Teteh, dilarang protes, ya!” seru Almira.
“Oke, Tetehku sayang. Kami akan menerima tanpa protes,” jawab Dini.
“Ya, sudah kalau begitu. Teteh bisa cari sendiri di rumah. Biar besok bisa survey gedung atau hotelnya.”
“Sekarang Teteh pamit pulang,” kata Almira.
Faisal langsung kaget mendengar Almira mau pulang.
“Eh…..mau kemana? Belum makan siang, kok sudah mau pulang?” tanya Faisal.
“Tidak ada yang harus dibahas lagi, jadi kami pamit mau pulang,” jawab Almira.
__ADS_1
“Makan dulu, baru pulang. Mamah sedang menyiapkan makan siang,” kata Dini.
“Tidak usah, Din. Makannya nanti saja di rumah.” Almira menolah dengan halus.
“Sekali-sekali makan di sini dong, Mir. Almira kan tidak setiap hari ke sini,” bujuk Faisal.
Mendengar bujuk rayu Dini dan Faisal, Almira menghela nafas.
Akhirnya Almira mengalah mengikuti permintaan Dini dan Faisal untuk makan siang di rumah Ibu Rosita. Sambil menunggu masakan siap di sajikan, Almira gunakan kesempatan itu untuk mendiskusikan persiapan pernikahan dengan Dini, Rafi dan Faisal.
Amelia yang tadi duduk di pangkuan Dini langsung beralih ke pangkuan Ayahnya. Faisal mengusap kepala putri kecilnya yang berada di pangkuannya.
“Amelia sudah salam belum sama Tante Almira?” tanya Faisal.
“Udah,” jawab Amelia.
“Tapi Amelia sombong tidak mau di pangku Tante. Padahal sudah sering bertemu,” kata Almira.
“Kenapa Amelia tidak mau dipangku Tante Almira?” tanya Faisal kepada Amelia.
Amelia bukannya menjawab, tapi malah mengumpetkan wajahnya di dada Ayahnya karena malu. Sedikit demi sedikit Amelia melihat ke Almira dengan mengintip.
“Tante Almira mau punya anak secantik Kakak Naura dan Amelia,” kata Faisal kepada Amelia.
Mendengar perkataan Ayahnya Amelia membisikkan sesuatu ke telinga Ayahnya. Dengan sabar Faisal mendengarkan apa yang dibisikkan oleh putrinya.
“Oh, Tante belum punya anak. Makanya mau punya anak secantik Kakak Naura dan Amelia.” kata Faisal sambil membelai rambut putrinya.
Tiba-tiba Akbar turun dari pangkuan Dini lalu naik ke pangkuan Ayahnya. Melihat kedua batita duduk di pangkuan Faisal, langsung Almira membujuk Akbar untuk pindah ke pangkuan Almira.
“Akbar sini duduknya di pangku sama Tante,” kata Almira sambil menepuk-nepuk kakinya sendiri.
__ADS_1
Dengan malu-malu Akbar turun dari pangkuan Ayahnya lalu mendekati Almira. Almira langsung mengangkat Akbar dan di dudukkan di atas pangkuannya. Almira sangat senang ketika Akbar duduk di atas pangkuannya. Sesekali Almira mencium kepala batita itu.