
Hari ini dimanfaatkan Almira untuk menghabiskan waktu bersama dengan kedua batitanya, karena besok Almira sudah harus kembali bekerja. Selama Faisal belum mendapatkan sekretaris pengganti Almira, selama itu pula Almira masih harus bekerja membantu suaminya. Almira tidak merasa khawatir meninggalkan kedua batita kembaranya karena ada pengasuh yang bertugas untuk menjaga mereka. Sebernarnya Almira ingin membawa Mbok Silah ke rumah ini untuk mengawasi anak-anaknya selama Almira bekerja. Namun Almira merasa tidak enak kepada Bibinya, karena Ibu Lia belum mendapatkan pengganti pembantunya yang berhenti karena menikah. Jadi keputusannya untuk membawa Mbok Silah ke rumah suaminya harus Almira pikirkan lagi.
Almira ingat ia punya janji sama Amelia untuk membelikan mukenah.
“Mas.” Almira memanggil suaminya yang sedang sibuk di ruang kerjanya.
“Kenapa?” Faisal mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
“Saya mau membelikan Amelia mukenah,” kata Almira.
“Nggak apa-apa, beli saja,” jawab Faisal.
“Uangnya mana?” tanya Almira sambil menengadahkan telapak tangannya.
“Oh, iya Mas lupa. Ayo kita ke kamar ada yang mau Mas bicarakan.” Faisal keluar dari ruang kerjanya mengajak Almira ke kamar tidur mereka.
“Duduk, Mir.” Faisal menyuruh Almira duduk di atas tempat tidur mereka.
Sementara itu Faisal mengambil dompetnya yang ia simpan di lemari baju. Setelah mengambil dompetnya Faisal duduk di sebelah Almira.
Faisal mengambil beberapa kartu debet dari dompetnya.
“Sekarang kamu sudah menjadi istri Mas. Semua mengenai keuangan di rumah ini menjadi tanggung jawab kamu. Kamu berhak mengatur semua pengeluaran di rumah ini,” kata Faisal.
Lalu Faisal memberikan kartu berwarna biru kepada Almira.
“Ini kartu untuk semua keperluan anak-anak sehari hari sampai keperluan sekolah mereka. Nomor pin nya tanggal lahir Naura.”
Lalu Faisal memberikan kartu berwarna hijau lumut kepada Almira.
“Ini kartu untuk semua keperluan rumah ini. Mulai dari bayar listrik, gaji ART sampai untuk keperluan makan sehari hari. Nomor pinnya tanggal lahir Akbar."
Dan terakhir Faisal memberikan kartu berwarna abu-abu.
“Ini kartu adalah nafkah dari Mas untuk kamu. Kamu bisa gunakan untuk apa saja semau kamu. Nomor pinnya tanggal lahir Amelia,” kata Faisal.
“Mas, ini nggak usah. Almira kan masih punya gaji dari kantor.” Almira menolak kartu yang terakhir.
“Kalau gaji kan upah kamu selama seharian bekerja di kantor, itu hak kamu sebagai karyawan. Kalau ini adalah nafkah dari Mas sebagai seorang suami untuk kamu sebagai seorang istri. Dan ini hak kamu untuk menerimanya.” Faisal mencoba untuk menerangkan kepada Almira.
__ADS_1
“Mau kamu belikan lingerie berwarna warni boleh. Atau mau beli underwear yang seksi dan transparan juga boleh. Mas nggak keberatan kok kamu beli barang-barang seperti itu. Kan untuk menservice suami di atas tempat tidur,” kata Faisal dengan tenang.
“Mas! Mas pikirannya nggak jauh dari soal urusan di atas tempat tidur!” seru Almira dengan kesal.
“Mau bagaimana lagi Mira, Mas punya istri secantik ini bawaannya pengen bersetubuh terus,” kata Faisal dan tangannya sudah mulai bergerilya kemana-mana.
Namun tiba-tiba…
“Nda…” Amelia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Almira.
.Lalu Akbar menyusul dari belakang.
“Bunbun…uwehnya udah matang tata Bi Cani,” kata Akbar.
“Bilang ke Bi Cani matikan saja kompornya. Nanti kalau kuenya sudah dingin Amelia dan Akbar boleh makan kuenya,” jawab Almira.
“Sekarang Akbar dan Amelia mainnya sama Mbak, ya. Bunda lagi bicara sama Ayah,” kata Almira sambil menuntun kedua batita kembarnya keluar dari kamar.
Ternyata di depan kamar sudah ada pengasuh Akbar dan Amelia.
“Mbak, titip Akbar dan Amelia. Nanti kalau kuenya sudah dingin tolong kasihkan ke Akbar dan Amelia. Kalau Mbak-mbak mau juga ambil saja, saya bikin kuenya banyak kok cukup untuk semua orang di rumah ini,” kata Almira kepada pengasuh Akbar dan Amelia.
Almira menutup pintu kamar dan menguncinya.
“Wah…istri Mas sudah siap untuk dinaikin,” kata Faisal dengan semangat dan langsung mendekati Almira dan memeluknya.
Faisal mencium bibir istrinya dengan rakus. Almira langsung mendorong tubuh Faisal hingga Faisal melepaskan ciumannya.
“Mas, kita kan mau membelikan Amelia mukenah,” kata Almira yang berusaha agar suaminya tidak melanjutkan aktivitasnya.
“Nanti saja kalau sudah sholah dzuhur,” jawab Faisal lalu beralih pada leher istrinya yang jenjang.
“Tapi sebentar lagi sewaktu adzan dzuhur,” kata Almira.
Faisal menghentikan kegiatanya lalu melirik ke jam yang menempel di dinding kamarnya.
“Masih lama, masih ada waktu empat puluh lima menit lagi,” jawab Faisal.
Faisal langsung menggendong istrinya dan membawanya ke tempat tidur. Faisal tanpa berkata apa-apa Faisal langsung mengungkung istrinya dan tangannya beralih kepada dada istrinya. Dengan lihai Faisal membuka kancing daster istrinya dan mencari dada istrinya lalu ia keluarkan dari tempatnya. Dengan rakus Faisal menyedot puncak dada istrinya, sedangkan tangan Faisal sibuk memainkan dada istrinya sebelah lagi.
__ADS_1
“Mas,” panggil Almira.
“Hmm,” jawab Faisal yang masih asik menyedot puncak dada istrinya.
“Mas, jangan cari sekretaris, ya! Cari assisten aja!” kata Almira ditengah-tengah kegiatan menyenangkan suaminya.
Faisal melepaskan puncak dada istrinya lalu menjawab,” Iya.” Kemudian Faisal melanjutkan lagi kegiatannya.
“Tapi harus lelaki tulen nggak mau lelaki lembayung,” kata Almira.
Faisal melepaskan lagu puncak dada istrinya.
“Kenapa?” tanya Faisal sambil memandangi istrinya.
“Almira nggak mau Mas di sentuh laki-laki lembayung apalagi perempuan,” jawab Almira.
“Oke.” Faisal melanjutkan lagi kegiatannya dan Almirapun pasrah membiarkan suaminya menyetubuhi dirinya hingga puas.
*****
Seperti yang sudah di rencanakan setelah sholat dzuhur dan makan siang Almira mengajak kedua batitanya pergi membeli mukenah. Namun sebelumnya mereka menjemput dulu Naura di sekolahnya.
“Tata…Tata Nola, Amel mau dibeliin Nda mukena,” kata Amelia ketika Naura masuk ke dalam mobil. Naura duduk di depan di samping Ayahnya. Sedangkan Almira duduk di belakang bersama dengan batita kembarnya.
“Udah tau,” jawab Naura dengan ketus.
“Nanti Kakak Naura juga beli mukenah baru dan kerudung baru. Kalau ada acara keagamaan di sekolah Kakak pakai kerudung,” kata Almira ke Naura.
“Iya,” jawab Naura dengan singkat.
“Kita kemana nih, Bun?” tanya Faisal ke Almira.
“Ke Rakanti di jalan Metro Indah , Yah. Tempat baju-baju muslim untuk anak-anak,” jawab Almira.
“Oke, Bunda. Siap meluncur.” Faisal mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang Almira katakan.
Almira sengaja tidak membawa kedua pengasuh anak-anaknya karena Almira ingin menghabiskan waktu bersama dengan suami dan ketiga anaknya tanpa ada orang lain di tengah-tengah mereka.
Ketika sampai ke tempat yang dituju Almira mengajak turun kedua batitanya, sedangkan Naura mengikuti dari belakang bersama dengan Faisal. Almira langsung mencari barang-barang yang hendak dibelinya, yaitu mukenah untuk Amelia dan Naura, Sarung dan kopeyah untuk Akbar, baju-baju muslim untuk ketiga anaknya dan yang terpenting adalah membelikan kerudung untuk Naura. Almira memilih kerudung yang lagi ngetrend untuk remaja seumuran Naura. Almira ingin sedikit demi sedikit Naura menutup auratnya. Almira berusaha untuk tidak dengan memaksa Naura, namun Almira akan memberi pengertian kepada Naura sedikit demi sedikit agar Naura mau setiap hari menggunakan kerudung.
__ADS_1