Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
21. Café.


__ADS_3

Almira hanya diam mendengar perkataan Faisal. Kalau saja mantan suaminya berpikiran sama seperti Pak Faisal, mungkin saat ini ia tidak bercerai dengan Tomy.


Astagfilrullahaladzim, kenapa jadi ingat Mas Tomy, ucap Almira di dalam hati.


Faisal membelokkan mobilnya ke sebuah café. Café itu terlihat cukup ramai oleh pengunjung.


“Turun, yuk. Kita makan siang di sini,” kata Faisal setelah memarkirkan mobinya.


Almira membuka seat beltnya lalu membuka pintu mobil, namun tiba-tiba Faisal memegang tangannya. Almirah menoleh ke Faisal.


“Kalau ketemu Tomy di dalam, saya harap kamu tenang. Biar saya yang menghadapinya,” kata Faisal.


Almira menoleh ke café itu lalu kembali menoleh ke Faisal.


“Mengapa Mas membawa saya ke sini?” tanya Almira.


“Makanan di sini enak, tempatnya luas dan cocok untuk pesta kebun. Saya bawa kamu ke sini agar kamu melihat suasananya. Tempat ini rekomended untuk pesta pernikahan,” kata Faisal.


“Tapi cukup nggak untuk tiga ribu orang?” tanya Almira.


“Nanti kita tanyakan itu kepada managernya,” kata Faisal.


Kemudian Faisal melepaskan tangan Almira.


“Ayo kita turun,” kata Faisal.


Almira keluar dari mobil Faisal. Terus terang dia agak sedikit ketakutan ketika Faisal menyebut nama Tomy. Ia takut bertemu Tomy di sini.


Ya, Allah semoga saya tidak bertemu dengan Mas Tomy. Aaamiin, ucap Almira di dalam hati.


“Ayo, Mir,” kata Faisal yang menyadarkan Almira dari lamunannya.


Lalu Almira berjalan di sebelah Faisal menuju ke café itu. Suasana café cukup ramai dengan para pengunjung yang sedang makan siang. Walaupun jam makan siang sudah lewat, namun café itu masih terlihat ramai.


“Kamu mau duduk dimana? Disini atau di luar? Atau mau di atas kita mojok,” kata Faisal sambil menggoda Almira.

__ADS_1


“Mas!” seru Almira sambil melotot.


“Iya, maaf Ibu bos,” kata Faisal dengan muka menyesal.


Akhirnya Almira memilih makan di dalam ruangan. Mereka duduk di sebelah jendela kaca, sehingga bisa melihat ke kebun di belakang café.


Seorang pelayan café datang sambil memberi daftar menu. Almira melihat daftar menu, ia jadi bingung mau pilih makanan semua terlihat enak.


“Di sini yang burung dara goreng menteganya enak loh,” kata Faisal.


“Burung dara? Keras nggak, Mas?” tanya Almira.


Karena setau Almira kalau daging burung biasanya keras.


“Dagingnya empuk, nggak keras,” jawab Faisal.


“Boleh deh, Almira mau burung dara goreng mentega,” kata Almira.


“Minumnya apa?” tanya Faisal.


“Ice lemon tea,” jawab Almira.


Setelah mencatat pesanan pelayan itu pergi.


Almira memperhatikan kebun di belakang café. Benar kata Faisal, kebun di belakang café memang cocok untuk pesta kebun. Namun apa cukup untuk menampung tiga ribu orang lebih?


“Mas,” panggil Almira.


“Hmm,” jawab Faisal sambil fokus ke ponselnya.


“Café ini cukup nggak untuk menampung tamu tiga ribu orang?” tanya Almira.


Faisal meletakkan ponselnya.


“Kenapa?” tanya Faisal.

__ADS_1


“Kira-kira café ini cukup nggak untuk menampung tamu tiga ribu orang?” tanya Almira sekali lagi.


“Mas juga tidak tahu, tapi nanti kita tanya ke managernya,” jawab Faisal.


Almira terus memerhatikan ke sekeliling café.


“Mas, pasti harga makanannya mahal. Apalagi ini untuk tiga ribu orang,” kata Almira.


“Ada kemungkinan makanannya mahal mungkin satu porsinya paling murah seratus dua puluh lima ribu. Tapi untuk tempat biasanya mereka tidak menarik bayaran. Keuntungannya mereka dapat hanya dari makanan.”


“Tapi nanti kita tanyakan ke managernya. Sengaja Mas ajak kamu ke sini biar kamu lihat-lihat suasananya dan bisa kamu masukkan ke dalam daftar tempat untuk pernikahan Rafi dan Dini,” kata Faisal.


Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.


“Teima kasih,” ucap Almira setelah pelayan itu menyajikan makanan di atas meja.


“Sekarang kita makan dulu,” kata Faisal sambil mengelap sendok dan garpunya dengan tissue.


Merekapun makan dengan tenang. Ternyata memang benar kata Faisal buru dara gorengnya sangat enak dan empuk, tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra sewaktu memakannya.


“Bagaimana, enak nggak makanannya?” tanya Faisal melihat Almira menikmati makanannya.


“Enak, Mas,” jawab Almira sambil mengacungkan jari jempolnya.


Setelah selesai makan, Faisal menyuruh Almira menunggu sebentar, karena Faisal hendak membayar makanan.


“Mbak, manager café ada nggak?” tanya Faisal kepada petugas kasir setelah membayar tagihan makanan,


“Manager kami sedang keluar, Pak. Bapak ada perlu apa, ya?” tanya petugas kasir.


“Saya mau booking café ini buat pernikahan. Bisa nggak kira-kira, Mbak?” tanya Faisal.


“Waduh yang bisa menjawab hanya manager kami. Bapak hubungi saja manager kami,” jawab petugas kasir.


“Minta nomor telepon café dong, “ kata Faisal.

__ADS_1


Lalu petugas kasir memberikan kartu nama café.


“Terima kasih, Mbak.” Lalu Faisal meninggalkan kasir.


__ADS_2