Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
48


__ADS_3

Cukup lama juga Faisal membaca dokumen satu persatu. Sebagai pengusaha dia harus lebih teliti dalam menandatangani sebuah dokumen. Bahkan Faisal beberapa kali menelepon ke kantor untuk menanyakan isi dokumen yang ia tidak mengerti. Kedua orang staf Faisal itu masih setia menunggu bos mereka membaca dokumen satu persatu. Memang sudah tugas mereka harus sabar menunggu bos mereka.


Almira memindahkan channel tv ke acara gosip dengan maksud agar kedua orang staf suaminya itu tidak merasa bosan menunggu bos mereka.


Setelah satu setengah jam berlalu akhirnya Faisal memberikan dokumen itu kepada kedua stafnya. Tapi dokumen itu tidak Faisal tanda tangani karena banyak coretan-coretan yang diberikan oleh Faisal. Dokumen itu harus dipebaiki kembali.


“Bilang sama Pak Iwan perbaiki lagi dokumennya!” kata Faisal kepada kedua stafnya itu.


“Baik,” jawab kedua staf itu berbarengan.


“Kami permisi dulu, Pak,” kata salah satu stafnya.


“Hmm,” jawab Faisal sambil menganggukkan kepalanya.


Sikap Faisal kepada kedua stafnya sungguh jauh berbeda dengan sikap Faisal kepada Almira sebelum mereka menikah. Kepada semua staf perempuan Faisal bersikap tegas namun kepada Almira sekretarisnya, Faisal bersikap ramah dan lembut. Dulu Almira berpikir Faisal bersikap seperti itu kepadanya karena mereka memiliki hubungan kekerabatan. Namun setelah berjalan seiring waktu, Almira baru mengerti mengapa Faisal bersikap demikian kepada dirinya. Ternyata ada udang dibalik siomay.


“Mereka itu siapa, Mas?” tanya Almira ketika kedua staf suaminya pergi.


“Kamu tidak kenal dengan mereka?” Faisal malah balik bertanya.


“Tidak, tapi Almira sering melihat mereka,” jawab Almira.


“Oh….Mas kirain kamu kenal dengan mereka,” kata Faisal.


“Bagaimana Almira kenalan dengan staf lainnya? Almira kan lebih sering berada di ruangan Mas. Bahkan sholat saja selalu berjamaah dengan Mas di ruangan Mas,” jawab Almira dengan cemberut.


“He…he…he….” Faisal tertawa menanggapi perkataan istrinya.


Faisal menghampiri Almira lalu dikecupnya bibir Almira yang sedang cemberut.


“Mas, tidak mau kamu dilihat oleh para staf pria di kantor kita,” bisik Faisal.


“Nanti saingan Mas bertambah,” bisik Faisal lagi.


“Idih…curang!” seru Almira.


“Biarin, yang penting kamu sukakan,” bisik Faisal lalu mencium bibir istrinya dengan dalam.


Almira berusaha melepaskan ciuman suaminya.

__ADS_1


“Mas, ini rumah sakit nanti ada yang lihat,” bisik Almira.


“Biarkan saja, kitakan suami istri. Wajar jika kita melakukan ini,” jawab Faisal dengan seenaknya.


“Tapi kan malu kalau dilihat orang,” kata Almira.


“Mas tutup gordennya.” Faisal menarik kain gorden di sebelah tempat tidur Almira. Lalu Faisal kembali mencium istrinya dengan dalam dan penuh perasaan sambil memeluk Almira dengan erat.


“Mas menyukaimu ketika kita bertemu di Mall,” kata Faisal ketika mengakhiri ciumannya.


“Entah mengapa melihatmu membuat Mas ingin mengakhiri status duda Mas.” Faisal membelai lembut pipi Almira.


“Kamu wanita sholeha yang cantik dan sederhana. Kamu berbeda dengan wanita lain yang Mas kenal.”


“Mendengar statusmu telah menjadi janda rasanya seperti  mendengar kabar gembira. Apalagi ditambah dengan ide cemerlang Mamah untuk menjadikanmu sebagai sekretaris, rasanya lengkap sudah cara untuk mendekatimu.’


Faisal duduk diatas tempat tidur lalu Almira menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Faisal mengusap lembut kepala istrinya yang tertutup jilbab.


“Melihat caramu memperlakukan anak-anak sepertinya tulus. Hanya satu yang membuat Mas cemas yaitu Naura, apakah dia mau menerimamu dengan baik. Lalu Mas memutuskan melihat sikap Naura terhadapmu dipertemuan kalian berikutnya.”


“Ketika acara lamaran Dini ada sikap Naura yang berbeda, dia mau mencium tanganmu dan ia tidak menatapmu dengan jijik. Dan pertemuan kalian yang ketiga di pernikahan Rafi dan Dini, Naura juga bersikap sama. Sehingga Mas memutuskan untuk mendekatimu dan akan segera melamarmu,” kata Faisal masih dengan posisi membelai kepala istrinya.


“Iya tapi kan mereka mengganggap Almira sombong tidak mau berbaur dengan mereka,” protes Almira.


“Biarkan mereka mengganggap kamu sombong, yang penting kamu menjadi istri bos mereka,” jawab Faisal.


“Mas, belum menjawab dua orang perempuan tadi siapa,” kata Almira sambil menengadahkan kepalanya memandang wajah suaminya.


“Oh mereka itu Nadia dan Ina. Nadia sekretaris manager pemasaran dan Ina staf di bagian pemasaran,” jawab Faisal.


“Mas kalau sama yang cantik-cantik hafal, ya? Bahkan posisi mereka juga Mas hafal,” ujar Almira.


“Kamu kenapa sih, Mir? Kamu lagi cemburu, ya?” tanya Faisal.


“Hebat saja seorang bos bisa hafal semua nama stafnya bahkan posisinya. Padahal jumlahnya  lebih dari seratus orang. Biasanya bos hafal dengan pegawai yang berada diposisi tertentu,” jawab Almira.


“Atau jangan-jangan Mas hanya hafal dengan staf perempuan saja? Kalau dengan staf laki-laki Mas tidak hafal,” kata Almira.


“Sudah ah. Sini.” Faisal meluk Almira dalam dekapannya lalu mengusap-usap punggung istrinya.

__ADS_1


“Mas tau kamu sedang cemburu.” Faisal mengecup bibir Almira.


“Tapi satu hal yang harus kamu tahu Mas hanya cinta sama kamu. Satu-satunya wanita yang ingin selalu Mas peluk, Mas cium dan Mas setubuhi cuma kamu Almira.” Faisal kembali mencium istrinya dengan dalam.


“Sudah jangan cemburu lagi, ya!” Faisal memeluk istrinya dengan erat.


***


Almira sedang memperhatikan suaminya membereskan barang-barang bawaan mereka. Hari ini Almira sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara ia bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan anak-anaknya.


Seorang suster masuk ke dalam ruang rawat inap dengan membawa kursi.


“Sudah siap, Bu?” tanya suster.


“Sebentar lagi sus, suami saya sedang membereskan barang bawaan kami,” jawab Almira.


“Sudah beres,” ujar Faisal.


Semua barang bawaan sudah di masukin ke dalam tas travel.


“Mas, jangan lupa laptopnya!” kata Almira.


“Ini.” Faisal menunjukkan tas laptop yang dipegang olehnya.


Suster membantu Almira turun dari tempat tidur lalu dipapah menaiki kursi roda. Suster mendorong kursi roda ke luar dari kamar dan di ikuti oleh Faisal dari belakang sambil membawa barang-barang mereka.


Merekapun sampai di depan lobby rumah sakit.


“Tunggu di sini! Mas ambil mobil dulu,” kata Faisal kepada Almira.


“Mas, barang-barangnya simpan di sini saja dulu! Berat dibawa ke tempat parkir,” kata Almira.


Faisal menyimpan tas travel di sebelah kursi roda dan memberikan tas laptopnya kepada Almira. Lalu Faisal berjalan menuju ke tempat parkir mobil untuk mengambil mobilnya.


Tak lama kemudian sedan mewah milik Faisal sudah sampai di depan lobby rumah sakit. Faisal langsung turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Almira dan membantu Almira masuk ke dalam mobil. Setelah  itu Faisal memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil.


“Terima kasih, suster,” ucap Faisal kepada suster yang telah membantu mendorong kursi roda.


“Sama-sama, Pak,” jawab suster.

__ADS_1


Setelah pamit dengan suster Faisalpun kembali ke mobilnya dan tak lama kemudian mobilpun meluncur meninggalkan halaman rumah sakit.


__ADS_2