
Hari berganti hari kehamilan Almira bertambah besar. Kebiasaan makan banyak selama hamil tidak membuat Almira menjadi gendut. Almira tetap terlihat cantik dan langsing, yang membesar hanya bagian perut, dada dan belakang bawah. Sekarang kehamilan Almira sudah memasuki bulan kesembilan sudah mendekati waktu melahirkan. Almira sudah mempersiapkan segala kebutuhan untuk melahirkan ke dalam tas. Setiap Almira pergi, tas untuk melahirkan tidak pernah ketinggalan.
Hari ini, Almira bersama-sama anak-anaknya pergi ke Mall terkenal di daerah Jakarta Selatan mencari buku pelajaran untuk Naura. Almira sengaja membawa Akbar dan Amelia karena ia tidak ingin Akbar dan Amelia merasa tersingkirkan setelah Almira hamil. Almira juga membawa kedua pengasuh Akbar dan Amelia, karena Almira tidak sanggup memegang dua batita sekaligus. Harus ada yang membantu Almira memegang Akbar dan Amelia.
Almira menuntun Akbar dan Amelia menuju ke sebuah toko buku yang cukup terkenal di Indonesia. Namun ketika Almira melewati sebuah butik tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.
“Almira.”
Mendengar seseorang memanggil namanya Almira langsung berhenti lalu menoleh ke belakang. Ternyata yang memanggilnya adalah Ibu Giatri. Ibu Giatri dan Tita menghampiri Almira.
Ibu Giatri langsung memeluk Almira.
“Apa kabar, Mir?” sapa Ibu Giatri sambil mengusap punggungnya.
“Baik, Tante,” jawab Almira.
Lalu Ibu Giatri melepaskan pelukannya.
Ibu Giatri memandangi Almira dari atas sampai ke bawah.
“Kamu sedang hamil, Mira?” tanya Ibu Giatri.
Sebenarnya Ibu Giatri sempat ragu ketika hendak memanggil Almira karena ia tak percaya melihat Almira dalam keadaan hamil besar. Sedangkan dulu sewaktu Almira masih menjadi istri Tomy, Almira tidak bisa hamil.
“Iya, Tante. Sudah sembilan bulan,” jawab Almira sambil mengusap-usap perutnya.
Lalu Almira beralih ke Tita yang sedang menggendong bayi.
“Apa kabar, Tita?” Almira menyapa Tita.
“Alhamdullilah baik, Bu,” jawab Tita.
“Jangan panggil saya Ibu lagi! Saya bukan lagi istri atasanmu!” seru Almira.
Almira mengusap kepala bayi yang tertutup oleh kain gendongan.
“Anakmu laki-laki atau perempuan?” tanya Almira.
“Laki-laki, Bu,” jawab Tita.
“Boleh saya lihat?” tanya Almira.
“Boleh, Bu.” Tita membuka kain gendongan yang menutupi kepala bayi.
“Lucunya. Persis seperti Ayahnya,” puji Almira ketika melihat bayi tampan yang sedang tidur nyenyak di dalam dekapan ibunya.
“Sudah berapa bulan?” tanya Almira.
“Sudah delapan bulan,” jawab Tita.
“Itu anak-anak Mbak Almira?” Tita menunjuk ke arah Amelia.
“Oh…iya sampai lupa ngenalin. Ini anak-anak saya,” kata Almira.
“Yang paling besar namanya Naura.” Almira merangkul punggung Naura.
“Kak, salam dulu sama Nenek dan Tante,” kata Almira kepada Naura.
__ADS_1
Naura menempelkan punggung telapak tangan Ibu Giatri di keningnya dan ia juga melakukann hal yang sama kepada Tita.
“Yang nomor dua namanya Akbar.” Almira mengusap kepala Akbar.
Akbar mencium tangan ibu Giatri dan memcium tangan Tita.
“Dan ini nomor tiga namanya Amelia,” Almira mengusap kepala Amelia.
Amelia mencium tangan Ibu Giatri dan mencium tangan Tita juga.
“Mereka kembar, Mir?” Ibu Giatri menunjuk Amelia dan Akbar.
“Iya, tante. Amelia dan Akbar kembar,” jawab Almira.
“Kamu tidak kerepotan mengurus mereka? Apalagi kamu sedang hamil,” tanya Ibu Giatri.
“Tidak, Tante. Ada pengasuh yang membantu saya, saya hanya memantau saja,” jawab Almira.
Sepertinya suami Almira kaya raya, sampai-sampai satu anak satu pengasuh, kata Ibu Giatri dalam hati.
“Bunda ayo.” Naura menarik tangan Almira.
“Tante, Tita. Maaf saya permisi dulu, saya mau mengantar anak saya ke toko buku,” pamit Almira.
“Oh….silahkan,” jawab Ibu Giatri.
Almira beserta anak-anaknya dan para pengasuhnya pergi meninggalkan Ibu Giatri dan Tita.
Ibu Giatri menatap punggung Almira yang mulai menjauh. Almira nampak bahagia dengan keluarga barunya.
“Ayo, Mah kita ke butik lagi,” kata Tita yang menyadarkan Ibu Giatri dari lamunannya.
.
.
.
Almira dengan sabar menunggu Naura memilih buku Sebetulnya Almira merasa sakit pada pangkal kakinya seperti ada yang ingin mendesak keluar, namun ia tahan. Ia merasa ini belum waktunya ia untuk melahirkan karena baru sembilan bulan pas belum lebih satu minggu.
Akbar dan Amelia juga sedang asyik mencari buku cerita dengan ditemani oleh para pengasuhnya.
Naura melihat perubahan di muka Almira seperti sedang menahan sakit.
“Bunda kenapa?” tanya Naura dengan khawatir.
“Kaki Bunda pegel, Kak,” jawab Almira dengan berbohong.
Ia tidak ingin Naura khawatir jika ia menjawab yang sebenarnya.
Mendengar kaki Bundanya yang pegal Naura menghampiri pegawai toko.
“Mas, bisa pinjam kursi nggak? Ibu saya sedang hamil besar, kakinya pegal kalau berdiri terus,” kata Naura.
“Oh..., bisa-bisa, Mbak. Sebentar saya ambilkan.” Pegawai itu berjalan menuju ke customer service yang berada di sebelah kasir. Lalu ia mengambil kursi dari tempat customer service.
“Silahkan, Bu.” Pegawai itu menaruh kursi di dekat Almira berdiri.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Almira.
Almira bisa menarik nafas lega, setidaknya ia tidak harus cape berdiri.
Setelah menunggu lama akhirnya Naura selesai mencari bukunya. Naura membeli buku pelajaran satu dan novel satu. Akbar dan Amelia juga membeli buku cerita.
“Kakak yang bayar, Bunda tunggu di sini.” Almira memberkan kartu debit kepada Naura.
Naura pun menuju ke kasir untuk membayar buku yang ia dan adik-adiknya beli. Setelah membayar buku, Naura menghampiri Almira yang masih duduk di kursi.
“Ayo, Bun kita pulang,” kata Naura.
Almira berusaha berdiri, namun kakinya terasa sakit. Melihat Bundanya meringis kesakitan Naura memberikan tanganmya agar Bundanya bisa berpegang pada tangannya. Akhirnya Almira bisa berdiri. Almira jalan pelan-pelan, jujur saja kaki Almira terasa sakit sekali.
“Bisa jalan nggak, Bun?” tanya Naura dengan khawatir.
“Bisa, tapi jalannya pelan-pelan,” jawab Almira.
Almira berjalan sambil memegang lengan Naura. Ia berjalan pelan-pelan sekali. Akbar dan Amelia mengikuti Bunda mereka dari belakang.
Almira berjalan sambil mengelus perutnya, karena perut bagian bawahnya terasa sakit sekali seperti orang sedang mensturasi yang akan mengeluarkan gumpalan darah.
Naura melihat Bundanya meringis kesakitan sambil mengusap-usap perutnya.
“Bun, kita ke rumah sakit, ya? Kakak takut Bunda kenapa-kenapa,” kata Naura.
“Bunda nggak apa-apa kok, Kak. Hanya saja kaki Bunda sakit dan perut bagian bawah Bunda juga sakit. Nanti juga hilang,” jawab Almira.
Namun karena dari toko buku ke lobby mall lumayan jauh, sakit kaki Almira mulai bertambah malah agak sulit untuk digerakkan. Namun Almira paksakan untuk berjalan. Ketika mereka hendak sampai di lobby mall, Naura langsung menelepon Pak Ali agar cepat-cepat membawa mobil menuju ke lobby mall.
Akhirnya mereka sampai di lobby mall, namun mobil mereka belum kelihatan. Almira mulai meringis kesakitan.
“Kak, perut dan kaki Bunda rasanya sakit sekali,” kata Almira.
“Kita ke rumah sakit ya,” kata Naura.
Almira pun mengangguk. Ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan.
Akhirnya mobil merekapun datang.
Almira kesulitan untuk naik ke atas mobil karena kakinya sakit jika di gerakkan. Naura menahan tubuh Almira agar tidak jatuh. Akhirnya Almira berhasil naik ke dalam mobil.
“Pak Ali ke rumah sakit PI!” seru Naura ketika mobil mulai jalan.
“Baik, Non,” jawab Pak Ali.
Naura pun menelepon Faisal,
“Assalamualaikum,” ucap Naura.
“Waalaikumsalam,” jawab Faisal.
“Ayah, Kakak sekarang mau bawa Bunda ke rumah sakit PI. Kaki Bunda sakit susah digerakkan. Perut bagian bawah Bunda juga sakit,” kata Naura.
“Iya, nanti Ayah menyusul ke sana. Jaga Bunda baik-baik ya, Kak!”
“Baik, Ayah. Assalamualaikum,” ucap Naura.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” balas Faisal.