
Namun tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi jalan Faisal. Seorang lelaki bertubuh tegap menghalangi jalannya.
“Eh…lu, Dit. Gue kirain siapa, ngehalangin jalan orang saja,” seru Faisal ketika melihat laki-laki yang menghalangi jalannya ternyata temannya yang bernama Adit. Lalu mereka melakukan salam kepal.
“Elo mau booking tempat buat pernikahan siapa?” tanya Adit dengan curiga.
“Kok tau?” tanya Faisal kaget.
“Taulah, kan gue dari tadi berdiri di sebelah lu. Elu aja yang nggak sadar kalau gue ada di sebelah lu,” jawab Adit.
“Oh…Gue mau booking tempat buat pernikahan Dini adik gue,” jawab Faisal.
“Gue kirain elu booking tempat buat pernikahan lu,” kata Adit.
“Gue nikahnya entar aja. Sekarang adik gue dulu yang nikah,” jawab Faisal.
Tak ingin berbicara panjang lebar dengan Adit, cepat-cepat Faisal pamit ke Adit.
“Udah ya, kasihan Ibu bos menunggu,” pamit Faisal.
Mendengar kata-kata Ibu bos membuat Adit menjadi penasaran.
“Eh…Ibu bos siape?” tanya Adit penasaran.
“Itu tuh Ibu bos gue.” Faisal menunjuk kearah Almira yang sedang memperhatikan Faisal dan Adit.
Adit memicingkan matanya ketika melihat Almira.
“Kok kayaknya gue kenal deh sama tuh cewek,” ujar Adit.
“Ah…elu, semua cewek pasti elu bilang kenal,” jawab Faisal.
Padahal di dalam hati Faisal sempat deg-degan, karena Adit berteman dengan Tomy. Sudah pasti tahu siapa Almira. Tapi Adit pasti belum tau kalau Almira sudah bercerai dengan Tomy
“Udah, ya kasihan Ibu bos gue kelamaan menunggu,” ujar Faisal sambil menepuk bahu Adit.
Lalu Faisal pergi meninggalkan Adit.
“Eh, Faisall kenalin dong sama Ibu bos lu,” seru Adit dengan suara agak kencang.
__ADS_1
“Entar kapan-kapan,” sahut Faisal tanpa menoleh ke Adit.
Faisal menghampiri Almira yang sedang menunggunya.
“Maaf, ya lama. Soalnya ketemu teman lama,” kata Faisal.
“Nggak apa-apa,” jawab Almira.
“Yuk kita pulang sekarang,” ajak Faisal.
“Bagaimana dengan managernya? Ada tidak?” tanya Almira sambil menyelempangkan tali tasnya.
“Nggak ada, managernya sedang keluar. Tapi Mas sudah minta nomor telepon café ini,” jawab Faisal.
“Ya sudah. Ayo kita kembali ke kantor saja,” kata Almira lalu bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar café. Faisal berjalan di sebelah Almira.
Tanpa Faisal dan Almira sadari, Adit sedang memperhatikan mereka dari jauh.
Kok kayaknya gue kenal itu cewek, tapi siapa, ya? Gue lupa, kata Adit di dalam hati sambil memperhatikan Faisal yang keluar dari café bersama Almira.
Di dalam mobil Faisal tampak lebih banyak diam dari biasanya. Tidak ada satu katapun keluar dari bibir Faisal. Menyadari Faisal yang tidak seperti biasanya Almira melirik ke arah Faisal.
“Mas, sekarang kita mau kemana?” tanya Almira.
Faisal diam tidak menjawab pertanyaan Almira.
“Mas?” Faisal tetap diam.
“Mas?” Faisal tetap saja diam fokus menyetir mobil.
“Mas!!!” panggil Almira dengan keras.
Mendengar panggilan Almira yang keras, Faisal langsung kaget.
“Iya, Mir,” jawab Faisal dengan kaget.
“Mas kenapa? Jangan menyetir sambil melamun begitu! Bahaya, Mas,” tegur Almira.
“Mas tidak sedang melamun, Mir. Hanya saja…..” Faisal tidak melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
“Hanya saja apa, Mas?” tanya Almira.
“Mir, kita kembali ke kantor, ya? Ada yang hendak Mas ceritakan sama kamu,” kata Faisal.
“Apa harus bicara di kantor? Apa tidak bisa di bicarakan di tempat lain? Ini kan bukan membicarakan urusan kantor,” tanya Almira.
“Bisa Mir. Kita cari tempat untuk berbicara,” jawab Faisal.
Dan kini Faisal dan Almira sedang berada di sebuah kedai baso di pinggir jalan. Mereka sedang menunggu pesanan mereka, yaitu es teller.
“Bicaralah, Mas,” kata Almira setelah memesan es teller.
“Mir, Mas mau tanya apakah kamu siap jika keberadaanmu diketahui oleh Tomy?” tanya Faisal.
“Maksud, Mas?” tanya Almira tidak mengerti.
Lalu Faisal menceritakan pertemuannya dengan Adit.
“Tadinya Mas kira Adit tidak akan ingat wajahmu. Tapi ternyata Mas salah, Adit berkata seperti mengenalmu. Makanya tadi Mas buru-buru mengajakmu pergi, Mas takut Adit menghampiri kita,” kata Faisal.
Merasa tidak mengenal Adit Almira malah balik bertanya.
“Mas, Adit itu siapa?” tanya Almira yang tidak mengerti.
Faisal menoleh ke arah Almira.
“Adit itu temannya Tomy. Apa kamu tidak tahu?” tanya Faisal.
“Tidak,” jawab Almira.
“Kamu tidak pernah dikenalkan ke teman-teman Tomy?” tanya Faisal.
“Tidak pernah. Makanya saya kaget waktu Mas mengenal saya,” jawab Almira.
“Mas tau saya menikah dengan Pak Tomy darimana?” tanya Almira penasaran.
“Waktu kalian menikah Mas diundang. Di situlah Mas mengenalmu sebagai istri Tomy. Dan Mas pernah melihat kalian sedang makan di sebuah restaurant,” jawab Faisal.
“Tadi sebelum masuk café Mas bilang kalau bertemu Pak Tomy di café saya harus tenang. Apa itu berarti Pak Tomy sering ke café itu?” Tanya Almira dan ia merubah panggilan Tomy yang tadinya Mas menjadi Pak Tomy.
__ADS_1
Tak ada gunanya memanggil Pak Tomy dengan kata-kata Mas. Toh Pak Tomy bukan siapa-siapa aku lagi, bisik Almira di dalam hati.