
Faisal masuk ke dalam kamar inap Almira sambil membawa sarapan.
“Cepat sekali beli sarapannya, Mas?” tanya Almira ketika melihat suaminya datang.
“Cepat, dong. Tadi Mas dikasih tau sama suster tempat pegawai rumah sakit biasa beli sarapan,” jawab Faisal.
Faisal menaruh bubur pesanan Almira diatas nakas.
“Mau makan sekarang?” tanya Faisal.
“Mau, Mas. Almira sudah lapar,” jawab Almira.
Faisal mendorong overbed table ke hadapan Almira. Kemudian Faisal mengambil bubur ayam yang tadi di belinya lalu ditaruh di atas overbed table. Almira membuka kotak makanan di atas overbed table yang berisi bubur ayam, lalu ia memasukkan toping beserta sambal dan kecap ke atas bubur. Almira mengaduk buburnya dan mencicipinya.
“Hmm enak, Mas,” puji Almira.
“Alhamdullilah kalau enak,” ucap Faisal.
Almira memakan bubur ayam beserta dengan sate telur puyuh dan sate ati ampela. Ketika Almira sedang makan Almira menoleh ke arah Faisal yang sedang makan di kursi sofa.
“Mas sedang makan apa?” tanya Almira melihat suaminya sedang makan sarapannya dengan nikmat.
“Lontong sayur,” jawab Faisal.
“Coba Amira lihat,” kata Almira.
Faisal membawa kotak makanannya lalu diperlihatkan kepada Almira. Isi kotak makanan Faisal adalah seporsi lontong sayur yang diberi semur tahu dan semur telor, kelihatannya benar-banar menggiurkan.
“Mau coba?” tanya Faisal.
“Mau, Mas,” jawab Almira.
Faisal mengambil sesendok lontong sayur lengkap dengan telor dan semur tahu, lalu disuapkan ke mulut Almira. Almira mengunyah lontong sayur yang disuapi ke dalam mulutnya dan menikmati rasanya.
“Enak, Mas,” puji Almira.
“Besok Almira mau sarapan sama lontong sayur,” kata Almira.
“Iya, boleh,” jawab Faisal.
Naf-su makan Almira sedang meningkat, mungkin sedang menuju ke tahap penyembuhan. Faisal membawa kembali lontong sayurnya ke meja sofa, lalu ia melanjutkan sarapan paginya yang sempat tertunda.
Ketika mereka baru selesai sarapan pagi, seorang pegawai catering rumah sakit datang membawa sarapan pagi untuk Almira lalu diletakkan diatas nakas.
“Mbak telat nganterin makanannya. Saya sudah sarapan bubur ayam,” kata Almira.
“Sarapan pagi biasa diantarkan jam tujuh, Bu,,” jawab. petugas catering
Lalu petugas catering itu pergi meninggalkan kamar Almira. Almira melirik ke sarapan yang dibawakan oleh petugas catering tadi. Ada setangkap roti berisi selai, telur rebus, susu serta buah pepaya yang sudah dipotong.
“Hmmm sarapannya lumayan juga,” kata Almira.
Almira melanjutkan makan buburnya. Sarapan dari rumah sakit akan dimakan nanti kalau perutnya lapar lagi.
Setelah selesai sarapan Almira menonton tv sedangkan Faisal melanjutkan berkutat dengan laptopnya.
__ADS_1
Setelah bosen menonton tv Almira menoleh ke arah suaminya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Mas lagi apa?” tanya Almira.
"Lagi membaca dan mengirim email,” jawab Faisal.
Lalu Faisal mengalihkan pandangannya dari laptop ke Almira.
“Almira mau mandi sekarang?” tanya Faisal.
“Nanti aja, Mas. Lagi malas mandi,” jawab Almira.
“Lebih baik mandi sekarang. Sebentar lagi ada visit dokter, loh,” kata Faisal.
“Mas aja yang duluan mandi. Almira mandinya nanti setelah Mas mandi,” jawab Almira.
Faisal langsung bangkit dari tempat duduknya.
“Ya, sudah Mas duluan yang mandi,” kata Faisal.
Lalu Faisal masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Seperempat jam kemudian Faisal sudah keluar dari kamar mandi lalu menghampiri istrinya.
“Ayo sekarang giliran Almira mandi. Mau mandi sendiri atau mau dimandikan sama Mas?” tanya Faisal.
“Mandi sendiri aja,” jawab Almira.
Faisal membantu istrinya turun dari tempat tidur, lalu memapahnya menuju ke kamar mandi.
“Mandinya jangan jauh-jauh dari dari besi ini, ya! Dan pintunya jangan dikunci!” Faisal menunjuk besi alumunium yang menempel di tembok di dekat shower.
“Iya, Mas.” Faisal keluar dari kamar mandi agar Almira bisa segera mandi.
“Kenapa, Mas?” tanya Almira melihat suaminya menghembus nafas lega.
“Mas, takut ada apa-apa sama kamu waktu di kamar mandi,” jawab Faisal.
“Ayo ke tempat tidur lagi dan cepat dipakai lagi jibabnya! Takut dokter keburu datang untuk visit,” kata Faisal.
Faisal memapah Almira menuju ke tempat tidur. Setelah nai ke tempat tidur Almira langsung menyisir rambutnya dan memakai jilbabnya.
Beruntung Almira sudah mandi, beberapa menit kemudian dokter masuk ke dalam kamar inap Almira bersama seorang suster.
“Selamat pagi,” ucap dokter ketika masuk ke dalam kamar.
“Pagi, dok,” jawab Faisal.
Dokter langsung menghampiri Almira di tempat tidur.
“Bagaimana keadaan Ibu sekarang?” tanya dokter.
“Kemarin dia muntah, dok,” jawab Faisal.
“Muntah, ya? Memang geger otak menyebabkan mual dan muntah,” jawab dokter.
“Kepalanya masih sakit dan masih suka pusing kepalanya,” kata Almira.
__ADS_1
“Begitu, ya? Saya periksa dulu, ya!” Dokter mulai melakukan serangkai pemeriksaan dan melakukan beberapa test untuk meyakinkan jika keadaan Almira tidak mengalami penurunan.
“Bagus! Keadaan Ibu sudah membaik dan tidak mengalami penurunan. Besok Ibu sudah boleh pulang, Dan datang ****** setelah seminggu!” kata dokter setelah melakukan serangkai pemeriksaan.
“Alhamdullilah,” ucap Faisal.
“Oke semoga cepat sembuh, ya Bu,” kata dokter sebelum keluar dari kamar Almira.
“Terima kasih, dok,” ucap Almira.
“Sama-sama, Bu.”
Kemudian dokter keluar dari kamar Almira.
“Mas, tolong dong ambilkan makanannya!” kata Almira sambil menunjuk ke nampan yang berisikan makanan diatas nakas.
Faisal mengambilkan nampan lalu di taruh di atas overbed table.
“Habiskan makannya! Biar cepat sembuh,” kata Faisal.
“Iya, Mas.” Almira menikmati makanannya sambil menonton tv.
Tok…tok…tok… terdengar suara pintu diketuk. Faisal membuka pintu kamar. Dua orang perempuan berdiri di depan pintu kamar Almira.
“Selamat pagi, Pak,” ucap seorang perempuan.
“Ada dokumen yang harus Bapak tanda tangan,” kata perempuan itu lagi.
“Oh…silahkan masuk,” kata Faisal.
Kemudian kedua perempuan itu masuk ke dalam kamar Almira.
“Selamat pagi, Bu,” ucap kedua perempuan itu ketika masuk ke dalam kamar Almira.
“Pagi,” jawab Almira.
Almira sering melihat kedua perempuan itu di kantor. Namun Almira tidak tau siapa namanya. Maklum karena kesibukannya menjadi sekretaris Faisal, Almira jarang bergaul dengan staf-staf di kantor. Kecuali mereka yang sering datang ke ruangan Faisal baru Almira mengenalnya.
Salah satu perempuan itu memberikan dokumen kepada Faisal. Kedua perempuan berdiri di sebelah meja sofa menunggu Faisal membaca dokumen satu persatu.
“Mbak-Mbak nunggunya sambil duduk! Kalau berdiri terus nanti pegel kakinya,” kata Almira.
“Iya, Bu terima kasih. Nggak apa-apa sambil berdiri juga,” jawab salah satu perempuan.
Faisal menoleh kepada keduanya.
“Duduk dulu! Saya harus membaca dokumennya satu persatu,” kata Faisal.
“Iya, Pak,” jawab salah satu perempuan.
Karena dipersilakan duduk oleh Faisal, akhirnya kedua perempuan itupun duduk di sofa.
Almira melanjutkan makannya.
“Makan, Mbak,” kata Almira kepada kedua perempuan itu.
__ADS_1
“Eh silahkan, Bu,” jawab salah satu perempuan itu.
Almira menyantap sarapan pagi yang diberikan oleh rumah sakit sambil menonton tv. Namun sekali-kali Almira melirik ke arah suaminya.