Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
18. Akbar Dan Amelia.


__ADS_3

Lalu Nina menghampiri Rafi dan Almira yang sudah mau berangkat.


“Kata Ayah, naik mobil Ayah saja. Biar Nina bisa ikut,” kata Nina kepada Almira dan Rafi.


“Huh…dasar bocil, mau ikut aja,” ujar Rafi.


“Sana cepetan mandi!” seru Rafi.


“Awas jangan ditinggalin,” kata Nina lalu pergi menuju ke kamar mandi.


Setelah Nina siap merekapun pamit kepada Pak Rahmat dan Ibu Lia.


“Rafi, hati-hati menyetir mobilnya!” pesan Pak Rahmat.


“Iya, Ayah,” jawab Rafi.


Kemudian Rafi, Almira dan Nina mencium tangan Pak Rahmat dan Ibu Lia.


“Assalamualaikum,” ucap Rafi, Almira dan Nina.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Rahmat dan Ibu Lia.


Perjalanan menuju ke rumah Dini sangat lancar, mungkin karena masih pagi jadi belum banyak kendaraan yang keluar.


Sesampainya mereka di rumah Dini mereka disambut oleh Dini di depan teras.


“Assalamualaikum,” ucap Almira ketika menghampiri Dini.


“Waalaikumsalam,” jawab Dini dan mereka pun langsung cipika-cipiki.


“Eh…Nina ikut juga,” sapa Dini ketika Nina menghampiri Dini.


“Iya dong, Teh. Masa di rumah saja sama Ayah dan Mamah,” jawab Nina.


“Biasa, Din. Bocil yang satu ini suka pingin tau saja,” kata Rafi menyusul di belakang Nina.


“Aa ih…bilang Nina bocil terus. Memangnya Nina masih kecil?” kata Nina yang protes.


“Memang kamu masih kecil,” jawab Rafi.


“Udah ah, Fi. Jangan ribut-ribut di rumah orang malu.” Almira merelaikan.


Dini mempersilahkan masuk ke dalam rumah.


“Mau duduk dimana? Di ruang tamu atau di teras belakang?” tanya Dini.

__ADS_1


“Di sini aja, Din,” jawab Almira.


“Silahkan duduk dulu. Dini mau nyuruh ART buatkan minum, ” kata Dini.


“Nggak usah repot-repot, Din,” ujar Almira.


“Nggak repot kok,” kata Dini.


Dini masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian Amelia mengintip dari balik tembok. Almira melihatnya.


“Amelia sini,” panggil Almira.


Namun Amelia hanya diam saja dari balik tembok. Tak lama kemudian Akbar datang.


“Akbar sini,” panggil Almira.


Namun Akbar juga tak mau menghampiri Almira.


“Eh….lagi pada ngapain di sini? Udah salam belum sama Om dan Tante?” tegur Dini melihat kedua keponakannya hanya mengintip dari balik tembok.


Akbar dan Amelia hanya menggeleng kepala.


Kemudian Amelia dan Akbar berjalan di belakang Dini sambil memegang baju Dini. Kemudian menghampiri Almira dan  mencium tangan Almira, Rafi dan Nina.


Setelah itu Akbar dan Amelia duduk di pangkuan Dini.


“Kenapa dipangku Tante Dini semua? Kasihan Tantenya keberatan. Sini dong satu dipangku sama Tante Almira,” kata Almira.


Akbar dan Amelia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Mereka malah memeluk Dini namun matanya memandangi Almira terus.


“Masih malu, ya sama Tante?” tanya Almira.


Akbar dan Amelia menjawab dengan menganggukkan kepala.


“Ya, sudah deh kalau masih malu. Tapi kapan-kapan mau, ya dipangku sama Tante,” kata Almira.


Akbar dan Amelia menjawab hanya dengan menganggukkan kepala.


“Eh, ini kenapa jawabnya cuma mengangguk dan geleng kepala? Kenapa nggak pada bersuara?” tanya Dini ketika mengetahui kedua keponakannya enggan berbicara.


“Masih malu kali, Din,” kata Almira.


“Nggak ah, biasanya nggak seperti itu. Sama Rafi biasa-biasa saja,” kata Dini.

__ADS_1


“Akbar dan Amelia lagi memperhatikan Teteh,” sahut Nina.


“Tante Almira siapanya Ayah mereka? Kenapa kok sering kelihatan di dekat Ayah mereka?” celetuk Nina.


Langsung saja Almira melotot ke arah Nina.


“Kamu ngomongnya ngaco! Nanti kedengeran Tante Rosita, Teteh yang nggak enak,” kata Almira dengan berbisik.


“Nggak apa-apa kok, Teh. Kedengaran Mas Faisal juga nggak apa-apa,” kata Dini.


Mendengar nama Faisal Almira langsung tegang. Matanya mengarah ke pintu yang menuju ke ruang keluarga.


“Memang ada Pak Faisal?” tanya Almira dengan tegang.


“Ada. Semuanya lagi menginap di sini,” jawab Dini.


Almira tiba-tiba jadi menyesal telah menyetujui pertemuan di rumah Dini. Kalau tau Faisal ssedang menginap di rumah Mamahnya, Almira akan memaksa Dini untuk ketemuan di luar.


Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, kata Almira di dalam hati.


“Apa Teteh lupa? Kan Mas Faisal juga panitia,” bisik Nina.


“Iya, Teteh tidak lupa,” kata Almira dengan gemes.


Tiba-tiba Ibu Rosita datang dengan membawa kue, di belakangnya ada ART yang membawakan minuman.


“Tante, kami jadi ngerepotin Tante,” kata Almira.


“Nggak ngerepotin, kok. Hanya menyajikan yang ada di rumah,” jawab Ibu Rosita.


Kemudian Faisal datang menghampiri mereka. Faisal hanya menggunakan celana pendek dibawah lutut serta kaos. Rambutnya di sisir rapih namun agak sedikit basah, sepertinya baru selesai mandi. Penampilannya kelihatan lebih segar.


“Wah, pagi-pagi sudah ada tamu,” kata Faisal ketika melihat ada Almira, Rafi dan Nina.


Ia berdiri di sebelah Ibu Rosita.


“Ini Teteh Almira mau menanyakan, acara pernikahannya akan di adakan dimana? Di gedung atau di hotel? Out door atau in door?” kata Dini.


“Terserah kamu, kamu maunya dimana? Tinggal pilih,” kata Faisal.


“Dini bingung, Mas. Mau out door takut hujan. Mau in door sepertinya sumpek kalau lihat orang banyak,” jawab Dini.


“Kalau Rafi maunya bagaimana?” tanya Faisal.


“Kalau Rafi terserah Dini saja,” jawab Rafi.

__ADS_1


__ADS_2