
Mobil yang dikemudikan Faisal memasuki areal pemakaman. Sebuah taman pemakaman Islam modern yang berada di daerah Karawang.
Akbar dan Amelia ketika melihat areal pemakaman langsung berseru, “Mbu……”
Sepertinya kedua anak itu sudah hafal dengan tempat pemakaman ibu mereka. Faisal memarkirkan kendaraannya di sebelah makam.
“Ayo kita turun,” kata Faisal sesudah mematikan mesin mobilnya.
Almira dan anak-anak turun terlebih dahulu lalu disusul oeh para pengasuh. Sedangkan Faisal dan Naura turun belakangan.
“Tau nggak yang mana makam ibu?” tanya Almira kepada Akbar dan Amelia.
Akbar dan Amelia menggelengkan kepalanya.
“Aya, makam mbu yang mana?” tanya Akbar kepada Faisal.
“Jalan terus aja, Bar,” jawab Faisal.
Akbar dan Amelia jalan terus sesuai dengan arahan yang diberikan oleh ayah mereka. Akhirnya mereka sampai di makam ibu mereka.
“Mbu…..” Akbar dan Amelia memeluk batu nisan ibu mereka lalu menciumnya..
Almira melihat apa yang dilakukan Akbar dan Amelia merasa terharu. Faisal mendekati Almira lalu merangkul bahu Almira.
“Ayo.” Faisal membawa Almira ke samping makam Karisa.
Almira dan Faisal jongkok di samping makam.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal.
“Karisa, Mas Faisal datang bersama dengan Almira istri Mas dan Bundanya anak-anak.” Faisal berbicara seolah-olah almarhumah Karisa bisa mendengarkan apa yang Faisal katakan
“Ia sangat sayang kepada anak-anak kita, dan mengurus anak-anak dengan baik. Anak-anak pun sayang kepadanya.”
“Amelia Akbar ayo kita berdoa untuk Ibu!” kata Faisal.
Akbar dan Amelia mengangkat kedua tangannya dan mulai membaca doa untuk ibu mereka. Naura berdoa sambil terisak dan sesekali menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Naura pasti masih merasa sedih, karena ibu mereka meninggal baru satu setengah tahun yang lalu.
Setelah selesai berdoa mereka pun kembali ke mobil dan pergi meninggalkan areal pemakaman.
****
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Almira sudah berkutat di dapur membuat sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Hari ini Almira kembali bekerja di kantor membantu suaminya.
Naura masuk ke dapur dan mendekati Almira.
“Bunda, boleh nggak Kakak belajar masak?” tanya Naura yang berdiri di samping Almira.
Almira menoleh ke Naura.
“Kakak mau belajar memasak?” tanya Almira.
“Iya, Bunda,” jawab Naura.
“Boleh, nanti belajar sama Bi Cani. Jangan memasak sendiri! Harus ada yang mengawasi,” kata Almira.
“Asyiiikkk!!!” seru Naura.
“Terima kasih, Bunda,” ucap Naura sambil memeluk Almira.
“Sama-sama, sayang,” balas Almira sambil meneruskan memasaknya.
Setelah selesai memasak Almira langsung mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Faisal menghampiri Almira yang sedang merias wajahnya dengan make up.
“Almira pasangkan dasinya, Mas.” Almira bangkit dari tempat duduknya dan membantu Faisal memakaikan dasi.
“Tamu kita seorang bos besar, pemilik beberapa hotel berbintang. Semua keperluan hotelnya yang harus dicetak, dia serahkan kepada kita. Dia termasuk pelanggan tetap kita. Namanya Hendra, kalau tidak salah dia seusia dengan Tomy.”
Almira yang sedang memakaikan dasi Faisal, langsung berhenti. Almira memandang ke Faisal.
“Teman Pak Tomy, bukan?” tanya Almira.
“Bukanlah. Hendra tidak kenal Tomy, Tomy tidak kenal Hendra,” jawab Faisal.
Almira menarik nafas lega. Ia melanjutkan memakaikan dasi Faisal.
“Sudah, Mas.” Almira memandang sekali lagi dasi yang menempel di kerah Faisal.
Faisal memeriksa penampilannya melalui kaca meja rias.
“Terima kasih, sayang.” Faisal mengecup kening istrinya.
“Kalau dikecup bibirnya nanti nggak jadi ke kantornya,” bisik Faisal di telinga Almira.
__ADS_1
“Mas!” Almira melotot ke arah Faisal.
Faisal hanya tersenyum dengan tengil dan berlalu dari hadapan Almira. Almira melanjutkan merias wajahnya.
Setelah selesai merias wajah dan memakai kerudung, Almira langsung menuju ke meja makan untuk sarapan pagi bersama dengan suami dan anak-anaknya.
*****
“Bunda ke kantor dulu, ya. Jangan nakal! Nurut sama Kakak dan Mbak-Mbak! Kalau habis main beresin lagi!” kata Almira yang sedang berjongkok di depan Akbar dan Amelia.
“Iya, Bunbun.”
“Iya, Nda.”
“Nda, bibim uweh nggak?’ tanya Amelia.
“Bikin dong, sayang. Tapi dimakannya nanti siang, sekarangkan Amelia masih kenyang baru sarapan,” jawab Almira.
“Aciikkkk, Bunda bibim uweh,” seru Amelia kegirangan.
“Akbal mau uga, Bunbun,” kata Akbar
“Iya, boleh. Tapi nanti makan kuenya,” jawab Almira.
“Bunda berangkat, ya.” Almira mencium pipi Akbar dan Amelia satu persatu. Kemudian Akbar dan Amelia mencium tangan Almira.
Almira beralih ke Naura.
“Bunda titip adik-adik, ya. Kalau ada apa-apa telepon Bunda!” Kata Almira kepada Naura.
“iya, Bunda.” Naura mencium tangan Almira.
Kemudian Almira mencium kedua pipi Naura.
“Assalamualaikum,” ucap Almira.
“Waalaikumsalam,” jawab Naura
“Walaicumcalam,” jawab Akbar dan Amelia.
Almira dan Faisal berjalan menuju ke mobil mereka yang sudah di siapkan oleh Pak Ali. Almira melambaikan tangan kepada anak-anaknya melalui kaca jendela mobil. Perlahan-lahan mobilpun keluar dari pekarangan rumah dan meluncur di jalan raya.
__ADS_1