Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
55


__ADS_3

Setelah Faisal dan Akbar pulang dari masjid, Faisal mengajak anak-anak dan istrinya makan siang di restaurant TS yang bernuasa sunda yang masih berada di dalam lingkungan Ancol. Faisal memilih duduk di dalam saung yang berada di pinggir danau.


“Nda, liat banyak ikannya,” seru Amelia yang sedang berdiri di pinggir danau.


“Amelia Akbar jangan terlalu pinggir berdirinya! Sini agak ke tengah sedikit,” kata Almira ketika melihat Akbar dan Amelia berada di pinggir danau. Almira takut Akbar dan Amelia kecebur ke dalam danau.


“Iya, Nda.” Amelia agak mendur sedikit ke belakang. Akbar juga ikut mundur ke belakang.


“Mau makan apa, Bun?” tanya Faisal.


Almira membaca daftar yang diberikan oleh pegawai restaurant.


“Hmmm sepertinya ayam bakakak enak deh. Bunda sudah lama tidak makan ayam bakakak,” jawab Almira.


“Oke ayam bakakak dua porsi. Terus mau apa lagi?” tanya Faisal.


“Gurame terbang,” jawab Almira.


“Gurame terbang 2.” Faisal menulis di kertas yang telah disediakan.


“Apalagi, Bun?”


“Sayur asem sama lalap dan sambel,” jawab Almira.


Faisal menulis apa yang diminta Almira.


“Ayah, Kakak mau sate maranggi,” sahut Naura.


“Iya, boleh. Empat porsi cukupkan?” kata Faisal.


“Cukup,” jawab Naura.


Faisal menambah pesanan mereka.


“Minumnya apa?” tanya Faisal kepada Naura dan Almira.


“Es kelapa,” jawab Naura.


“Udah samain saja semuanya es kelapa,” kata Almira.


Faisal memberikan daftar pesanan mereka kepada pegawai restaurant.


“Bunbun, kikannya kacih mamam, kacian lapal,” kata Akbar.


“Nanti, ya Nak. Tunggu nasinya datang. Nanti Akbar dan Amelia kasih makan ikan dengan nasi,” jawab Almira.


“Acik…kacih mamam kikan,” seru Akbar kegirangan.


Tidak harus menunggu lama, pesanan merekapun datang. Almira memberikan sedikit nasi di tangan Amelia dan Akbar.


“Kasih makannya sedikit sedikit, ya!” kata Almira.


“Iya, Nda.”


“Iya, Bunbun.”


Akbar dan Amelia memberikan makan ikan-ikan itu, langsung saja ikan-ikan datang menghampiri. Mereka berebutan makanan.


Akbar dan Amelia bersorak kegirangan ketika banyak ikan yang berebut makanan di depan saung mereka.


“Tata-Tata liat,” panggil Amelia sambil menunjuk kea rah ikan-ikan.


Naura mendekati adik-adiknya.


“Ikan-ikannya kelaparan, jadi berebut makanan,” kata Naura.


Amelia menyuapi Akbar dan Amelia sambil melihat ikan, sedangkan para pengasuh Almira suruh makan terlebih dahulu. Karena makannya sambil melihat ikan jadi Akbar dan Amelia makan dengan lahap.

__ADS_1


Setelah menyuapi Akbar dan Almelia, giliran Almira makan. Sedangkan Akbar dan Amelia ditemani oleh pengasuh mereka.


“Makan yang banyak!” kata Faisal sambil mengumpulkan sisa-sisa lauk pauk ke depan Almira.


“Iya, ini juga sudah banyak.” Almira menununjuk ke piringnya yang penuh dengan nasi dan lauk pauk.


“Kalau mau hamil harus makanan yang banyak dan bergizi. Agar nanti bayi dalam kandungan tubuh dengan sehat,” kata Faisal.


“Memang Bunda lagi hamil?” tanya Naura tiba-tiba.


Almira dan Faisal langsung kaget ditanya oleh Naura. Tanpa mereka sadari pembicaraan mereka didengar oleh Naura.


“Bunda belum hamil, Kak. Lagi persiapan untuk hamil,” jawab Faisal.


“Oh…Kakak kira Bunda lagi hamil.”


“Bunda juga nggak tau bisa hamil atau tidak. Karena dari pernikahan Bunda yang terdahulu Bunda tidak dikaruniai anak,” kata Almira.


“Kakak doain dong! Supaya Bundanya cepat hamil. Kasihankan Bunda juga ingin merasakan hamil dan melahirkan seperti Ibu-Ibu yang lain,” kata Faisal.


“Iya, nanti Kakak doain supaya Bunda bisa hamil. Tapi Kakak nggak mau punya adik banyak-banyak berisik dengerin ocehannya,” jawab Naura.


“Tuh, Kakak mau doain Bunda supaya cepat hamil. Sekarang tinggal Bunda harus mempersiapkan diri agar nanti hamil dalam keadaan sehat,” seru Faisal.


“Iya Ayah, iya.” Almira melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan Faisal mengajak ke Ocean Dream Samudra Ancol untuk melihat pertunjukan lumba-lumba dan singa laut. Faisal memilih tempat yang paling depan agar Akbar dan Amelia bisa melihat pertunjukan lebih dekat.


Akbar dan Amelia senang melihat atraksi-atraksi yang dilakukan oleh lumba-lumba dan singa laut. Setelah pertunjukan para pengunjung di perbolehkan untuk berfoto dengan lumba-lumba.


“Aya, Amel’ia au diphoto cama lumba-lumba,” seru Amelia.


“Akbal uga au, Ya,” kata Akbar.


“Iya, boleh.” Faisal membawa Akbar dan Amelia untuk di foto bersama lumba-lumba.


Almira dan Naura duduk menunggu Akbar dan Amelia yang sedang difoto. Karena yang ingin di foto lumayan banyak, jadi mereka harus mengantri.


“Ihhh yakkk, bau amis,” komentar Naura.


“Bunda, nanti Akbar dan Amelia bau amis gara-gara dicium lumba-lumba,” seru Naura.


“Nggak apa-apa, Kak. Nanti dilap pakai tissue basah,” jawab Almira.


Setelah menunggu lama akhirnya giliran Akbar dan Amelia untuk difoto. Dengan riang gembira Akbar dan Amelia menunjukkan hasil jepretan sang fotografer kepada Bunda dan Kakaknya.


“Nda, liat Amel’ia diphoto cama lumba-lumba.” Amelia memperlihatkan fotonya.


“Wah, bagus fotonya,” puji Almira.


“Akbal uga diphoto.” Akbar menunjukkan hasil fotonya kepada Almira.


“Punya Akbar bagus juga,” puji Almira.


“Memang nggak bau amis dicium lumba-lumba?” tanya Naura kepada Akbar dan Amelia.


“Nggak,” jawab Akbar dan Amelia berbarengan.


“Mbak, minta tissue basah,” kata Naura kepada para pengasuh.


Pengasuh Akbar dengan sigap memberikan tissue basah kepada Naura.


“Sini, Kakak lap dulu pipi bekas dicium lumba-lumba.” Naura menglap pipi Akbar dan Amelia satu persatu.


“Coba Kakak cium dulu, masih bau amis nggak?” Naura mencium pipi Akbar dan Amelia satu persatu.


“Udah nggak bau,” kata Naura setelah mencium pipi Akbar dan Amelia.

__ADS_1


“Ayo sekarang kita ke Sea World,” kata Almira.


“Acikkkk!!!!” seru Akbar dan Amelia.


Akbar dan Amelia begitu antusias ketika memasuki Sea World. Mereka disuguhi oleh pemandangan binatang-binatang yang berada di dalam laut. Akbar dan Amelia sampai terkagum-kagum melihatnya. Setelah puas di sea world merekapun kembali ke hotel.


*****


“Mas,” panggil Almira setelah mereka melakukan ibadah menyenangkan mereka.


“Hmm kenapa?” jawab Faisal yang mulai mengantuk.


“Kok, Kakek dan Nenek anak-anak dari Ibu mereka tidak pernah mencari anak-anak?” tanya Almira.


Faisal diam sebentar.


“Oh…orang tua Karisa (mendiang istri Faisal) tinggal di luar negeri,” jawab Faisal.


“Kakaknya juga tinggal di luar negeri.”


“Jadi Mbak Karisa di sini sendiri?” tanya Almira.


“Iya. Mas ketemu dia ketika Karisa bekerja di sini,” jawab


Faisal.


“Waktu kita menikah, Mas mengundang orang tua dan Kakak Karisa. Namun karena kita menikahnya terlalu mendadak jadi mereka tidak bisa datang. Mereka menitip salam padamu dan menguscapkan selamat atas pernikahan kita,” kata Faisal.


“Kok, Mas tidak pernah menyampaikan?” tanya Almira.


“Menyampaikan apa?” Faisal malah balik bertanya.


“Salam dari orang tua Karisa,” jawab Almira.


“Oh…Mas lupa. Saking senangnya bisa menikahimu, Mas jadi lupa menyampaikan salam dari Granny dan Grandpa anak-anak,” kata Faisal.


Almira diam sesaat.


“Mas…,” panggil Almira lagi.


“Hmmm,” Faisal menjawab dengan mata yang terpejam karena sudah mengantuk.


“Mas tidak pernah ajak Almira ke makamnya Mbak Karisa?” tanya Almira.


Faisal langsung membuka matanya dan menoleh kepada Almira.


“Kamu mau diajak ke makam ibunya anak-anak?” tanya Faisal dengan tidak yakin.


“Mau, Mas. Mbak Karisa kan Ibunya anak-anak,” jawab Almira.


“Nanti kamu cemburu,” kata Faisal.


“Mungkin Almira akan cemburu, karena Mbak Karisa sudah meninggal masih mendapat tempat di hati Mas Faisal. Tapi Mbak Karisa sudah meninggal dan sekarang yang berada di sisi Mas Faisal dan anak-anak adalah Almira. Jadi tidak ada alasan untuk merasa cemburu,” jawab Almira.


“Kalau begitu maumu, besok sebelum pulang kita mampir ke makam Karisa,” kata Faisal.


“Sekarang tidur! Mas sangat cape dan ngantuk.” Faisal memejamkan matanya sambil memeluk Almira.


.


.


.


saya tidak bisa crazy up, ya. karena saya ikut kelas menulis.


yang menunggu Almira hamil harap sabar, ya. kita lihat nanti apa Almira bisa hamil atau tidak.

__ADS_1


novel ini akan tamat sebentar lagi. semua rasa penasaran akan terjawab.


tapi saya nggak bisa nulis novel panjang-panjang, terus terang saja novel ini agak tersendat karena sebenarnya mereka sudah bahagia jadi bingung mau dibikin apa.


__ADS_2