
“Sekarang Bunda tanya, Kakak sanggup nggak bawa adik-adik? Kalau kakak nggak sanggup jangan dibawa adik-adiknya! Kakak saja yang pergi dengan pengasuh Amelia atau pengasuh Akbar. Tapi kalau Kakak sanggup, boleh dibawa adik-adiknya,” kata Almira.
Sebelum menjawab pertanyaan Bundanya, Naura menoleh ke adik-adiknya. Wajah Akbar dan Amelia seperti mengharapkan untuk ikut bersama Kakaknya. Selama ini Naura pergi kemana-mana ditemani oleh adik-adiknya dan para pengasuhnya serta supirnya.
“Sanggup, Bunda,” jawab Naura.
Sungguh itu bukan jawaban yang diinginkan oleh Almira. Almira lebih baik mendengar kata tidak sanggup dari Naura sehingga Akbar dan Amelia tidak ikut dengan Naura.
Almira menghela nafas dengan berat.
“Kan Bunda sendiri yang bilang, kalau Kakak sudah besar dan sudah bisa diberi tanggung jawab,” kata Naura.
Benar kata Naura, beberapa menit yang lalu ia mengatakan hal demikian. Namun sebagai seorang Ibu, Almira tidak tega melepas anak-anak sambungnya pergi begitu saja tanpa ada pengawasan dari orang tua. Akan tetapi anak-anak sambungnya sudah diajar mandiri, mereka sudah terbiasa pergi kemana-mana tanpa ditemani orang tuanya. Mereka hanya ditemani oleh para pengasuh dan supir. Benar-banar tragis.
“Ya sudah, kalau Kakak sanggup Bunda ijinkan Akbar dan Amelia dibawa,” kata Almira.
“Tapi Kakak harus janji, kalau ada apa-apa harus telefon Bunda! Dan kalau Bunda telefon kakak harus cepat-cepat jawab!” seru Almira.
“Iya, Bunda,” jawab Naura.
Setelah selesai sholat dzuhur dan makan siang Naura pergi ke supermarket dengan membawa adik-adiknya beserta para pengasuhnya. Kebetulan perginya setelah sholat dzuhur dan makan siang sehingga Naura punya kesempatan untuk memberi peringatan kepada adik-adiknya, yang makannya tidak habis dan tidak mau sholat dzuhur tidak akan di bawa ke supermarket. Apalagi tadi sewaktu sholat dzuhur berjamaah Bundanya tidak ikut sholat karena mendadak mendapakan haid.
Karena tidak ingin ditinggalkan oleh Kakaknya, Akbar dan Amelia ikut sholat dzuhur bersama Ayah dan Kakaknya. Serta merekapun memakan habis makan siang yang disuapi oleh para pengasuh mereka.
Setelah anak-anaknya pergi bersama pengasuh dan supirnya, Almira dan Faisal tinggal berdua di dalam kamar.
“Mas, tadi Pak Ali disuruh mengikuti anak-anak tidak?” tanya Almira.
“Pak Ali sudah tidak harus disuruh lagi. Kalau mengantarkan anak-anak suka mengikuti kemanapun anak-anak pergi. Kemarin sewaktu di rumah sakit, Pak Ali yang menemai Naura di depan IGD,” jawab Faisal.
Almira merasa bersyukur ternyata supir anak-anaknya bisa dipercaya dan bisa dititipi anak-anaknya. Mungkin karena suaminya memenuhi semua kebutuhan pegawainya sehingga mereka bersikap loyal kepada majikannya.
“Sekarang Bundanya relax saja, jangan terlalu tegang.” Faisal memeluk istrinya sambil mencumbu mesra.
“Mas, Almira kan sedang haid.” Almira memperingatkan suaminya agar tidak kebablasan.
“Tuh haid mengganggu orang saja. Tadinya mau mensetubuhi kamu pas anak-anak pergi, eh….ada haid yang datang tanpa permisi,” ujar Faisal dengan kecewa.
“Sabar Mas, acaranya diundur setelah haid,” jawab Almira sambil menahan ketawa melihat wajah suaminya yang kecewa.
__ADS_1
“Biasanya berapa hari kamu haid?” tanya Faisal.
“Hmm….berapa, ya?” Almira pura-pura mikir.
“Dua minggu, Mas,” jawab Almira.
“Lama amat.” Faisal protes.
“Bukannya paling lama seminggu?” tanya Faisal.
“Seminggu bisa, delapan hari bisa. Bahkan lima hari juga bisa,” jawab Almira.
“Ah…yang bener?” Faisal langsung mengangkat sedikit badannya dan ditahan oleh sikutnya.
“Mas kan tau kalau siklus haid suka berubah-ubah dan tidak pasti. Kadang cepat selesainya, kadang juga lama selesainya. Tergantung keadaan tubuh kami masing-masing,” jawab Almira.
“Jadi ada kemungkinan selesai pas hari kelima dong?” tanya Faisal dengan senang.
“Iya, tapi Almira nggak tahu kapan selesainya,” jawab Almira.
Faisal mencium pipi istrinya.
“Mas doain kamu selesainya pas hari kelima,” bisik Faisal pas di dekat pipi Almira.
Tok..tok…tok….
“Mas, ada yang ketuk pintu,” kata Almira.
Faisal langsung bangun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Seorang asisten rumah tangga berdiri di depan pintu kamar.
“Pak, ada tamu. Katanya dari kantor,” kata asisten rumah tangga.
“Siapa, Mbak?” tanya Faisal.
“Nggak tau, Pak. Orangnya nggak nyebutin nama,” jawab asisten rumah tangga.
“Perempuan atau laki-laki?” tanya Faisal lagi.
“Perempuan dua orang,” jawab asisten rumah tangga.
__ADS_1
“Suruh mereka duduk di ruang tamu! Dan tolong buatkan minuman untuk mereka!” kata Faisal.
“Baik, Pak.” Asisten rumah tanggapun pergi.
Faisal menutup pintu kembali dan menghampiri Almira.
“Kenapa, Mas?” tanya Almira.
“Ada tamu dari kantor perempuan dua orang. Nggak tau siapa, karena mereka tidak menyebutkan namanya,” jawab Faisal.
“Pasti Nadia dan Ina lagi,” kata Almira.
“Almira heran, memang di bagian pemasaran tidak ada orang lagi? Kenapa sih harus mereka terus?” kata Almira dengan kesal.
“Sudah ah, jangan marah terus. Kamu mau di kamar atau mau ikut Mas keluar?” tanya Faisal.
“Almira mau di kamar saja. Almira ngantuk mau tidur,” jawab Almira.
“Ya sudah, Mas nemuin mereka dulu, ya.” Faisal membuka pintu kamar.
“Tapi duduknya tidak boleh di ruang kerja, harus di ruang tamu!” sahut Almira.
“Iya, sayang,” jawab Faisal.
“Awas, nggak boleh macam-macam!” sahut Almira lagi.
“Iya,” jawab Faisal.
“Ada lagi?” tanya Faisal di depan pintu.
“Sudah sana! Almira ngantuk mau tidur,” kata Almira.
Almirapun memeluk guling dan memejamkan matanya.
Faisalpun keluar dari kamar dan menemui tamu tersebut.
Sebenarnya Almira mau menemani suaminya, bagaimanapun Almira merasa tidak percaya kepada kedua orang itu. Namun apa daya obat yang tadi ia minum setelah makan siang sepertinya mulai bekerja dan sekarang Almira mulai mengantuk lalu tertidur dengan pulas.
.
__ADS_1
.
segitu dulu, ya. ntar siang disambung lagi.