
Setelah Almira, menerima pinangan Faisal. Faisal langsung bergerak cepat. Ketika mengantarkan Almira pulang setelah makan malam, Faisal langsung menemui Pak Rahmat.
“Mas, ini sudah malam. Besok saja kalau mau bicara sama Mamang,” kata Almira yang mencegah Faisal untuk ikut turun dari mobil.
“Justru karena sudah malam, harus pamit pada Om Rahmat. Karena mengajak Almira pergi hingga larut malam,” jawab Faisal sambil melepaskan seat belt.
“Ayo turun. Jangan terlalu lama berduaan di dalam mobil pada malam hari. Nanti digerebek hansip,” kata Faisal.
Mendengar perkataan Faisal, Almira langsung keluar dari mobil. Faisal tersenyum melihat Almira yang terburu-buru keluar dari mobil.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal ketika berdiri di depan rumah Pak Rahmat.
Tak lama kemudian ada yang membuka pintu rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Rahmat ketika membuka pintu rumah.
Almira langsung mencium tangan Pak Rahmat lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Faisal yang akan berbicara dengan Pak Rahmat.
“Mohon maaf Om, saya sudah mengajak Almira pergi hingga larut malam. Sekalian saya mau memberitahukan kalau Jumat malam saya beserta keluarga saya akan datang melamar Almira,” kata Faisal.
“Almira sudah menerima pinanganmu?” tanya Pak Rahmat.
“Sudah, Om,” jawab Faisal.
“Bagus, lebih cepat lebih baik. Akan saya tunggu kedatangan Faisal beserta keluarga,” kata Pak Rahmat.
“Terima kasih, Om. Saya pamit dulu. Assalamualaikum,” ucap Faisal.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Rahmat.
Faisal meninggalkan rumah Pak Rahmat dengan wajah yang gembira. Pak Rahmat memperhatikan Faisal dari teras rumahnya.
Mudah-mudahan dialah jodoh yang terbaik untuk Almira, kata Pak Rahmat di dalam hati.
****
Tak terasa sudah hari Jumat, hari dimana Faisal akan datang melamar Almira. Faisal melarang Almira untuk masuk kerja bahkan untuk bekerja setengah haripun tidak boleh. Faisal juga tidak masuk kerja hari ini. Ia sibuk untuk mempersiapkan lamaran.
“Kenapa tidak hari sabtu saja sih, Mas?” tanya Dini yang ikut membantu.
Ia dan Rafi terpaksa ijin tidak masuk kantor karena harus membantu untuk mempersiapkan acara lamaran. Dini membantu Faisal, sedangkan Rafi membantu Almira. Mereka terpaksa terpisah untuk sementara waktu.
“Ini kan hari kerja,” kata Dini.
“Mas mu itu ingin cepat-cepat menikahi Almira. Agar Tomy tidak bisa mengganggu Almira,” kata Ibu Rosita.
“Ah…ini gara-gara Tom kelek yang suka mengganggu Almira. Jadi semua serba terburu-buru,” gerutu Dini.
“Heh….tidak boleh menghina nama orang sembarangan!” tegur Ibu Rosita.
“Habisannya, tuh orang nyebelin banget. Orang nggak mau rujuk malah maksa ngajak rujuk,” kata Dini dengan wajah cemberut.
Setelah sholat magrib Faisal beserta keluarga pergi ke rumah Almira. Mereka di sambut oleh keluarga Pak Rahmat.
“Selamat datang di rumah kami, Pak Edy,” ucap Pak Rahmat ketika menyalami pamannya Faisal.
“Terima kasih Pak Rahmat. Nggak nyangka kita akan ketemu lagi. Dasar anak-anak dari panitia pernikahan dilanjutkan ke pelaminan. Ha...ha…ha……” Pak Edi tertawa.
“Ha…ha…ha…” Pak Rahmatpun juga ikut tertawa.
Pak Edy dan Pak Rahmat tertawa bersama-sama.
Sedangkan Ibu Lia melihat Akbar dan Amelia yang tertidur di gendongan para pengasuhnya.
“Tidur, Mbak?” tanya Ibu Lia sambil melihat ke Amelia.
“Iya, Bu,” jawab pengasuh Amelia.
“Tidurkan saja di kamar Almira,” kata Ibu Lia.
“Nggak usah, Bu. Biar nggak apa-apa,” tolak pengasuh Amelia.
“Eh…jangan, kasihan nanti badannya sakit semua. Mbaknya juga keberatan ngegendong terus.”
__ADS_1
Ibu Lia mengajak ke dua pengasuh itu ke kamar Almira. Ibu Lia membuka pintu kamar Almira.
“Almira, ini Akbar dan Amelia bobo,” kata Ibu Lia.
Almira menoleh ke pintu kamar.
“Oh…sini….sini….Mbak, bawa masuk!” seru Almira.
Kemudian pengasuh Akbar dan pengasuh Amelia masuk ke dalam kamar Almira.
“Tiduri aja di tempat tidur,” kata Almira.
Akbar dan Amelia di taruh di atas tempat tidur Almira.
“Maaf, ya Bu. Jadi ngerepotin,” kata pengasuh Akbar.
“Nggak ngerepotin kok. Almira kan calon Ibunya Akbar dan Amelia,” jawab Ibu Lia.
“Oh…..iya, Bu. Saya lupa,” kata pengasuh Akbar.
Kemudian Ibu Lia dan para pengasuh ke luar dari kamar Almira. Tinggal Almira bertiga dengan Akbar dan Amelia di kamarnya.
Tak lama kemudia Nina membuka pintu kamar Almira.
“Teteh, dipanggil Ayah disuruh ke depan,” kata Nina.
“Tapi bagaimana dengan Akbar dan Amelia? Teteh takut mereka bangun,” kata Almira.
“Ada Mbok Silah yang nungguin di depan kamar,” jawab Nina.
Kemudian Almira bersiap-siap untuk bertemu dengan Faisal dan keluarganya. Ketika keluar dari kamarnya Almira melihat Mbok Silah yang sedang duduk di depan tv.
“Mbok, titip anak-anak, ya!” kata Almira.
“Iya, Non,” jawab Mbok Silah.
Lalu Almira pergi menuju ruang tamu, dimana Faisal dan keluarganya menunggu kehadirannya. Semua orang matanya tertuju kepada Almira.
“Ini dia keponakan kami yang bernama Almira,” kata Pak Rahmat memperkenalkan Almira kepada keluarga Faisal.
“Almira, Faisal dan keluarganya datang ke sini untuk melamarmu. Apakah kamu mau menerima lamarannya atau tidak?” tanya Pak Rahmat.
“Almira terima lamaran Mas Faisal,” jawab Almira.
“Alhamdullilah,” ucap semua orang yang berada di ruangan itu.
“Sekarang tinggal penentuan tanggal penikahannya. Kapan kalian akan menikah?” tanya Pak Rahmat kepada Faisal dan Almira.
“Hari Selasa, Om,” jawab Faisal.
Semua orang kaget mendengar jawaban Faisal.
“Mas!” tegur Almira dengan mata melotot.
Faisal hanya tersenyum simpul menanggapi teguran Almira.
“Faisal, apa tidak terlalu terburu-buru?” tanya Pak Edy.
“Tidak, Om. Seperti yang pernah saya katakan kepada Om Rahmat, saya akan segera menikahi Almira setelah selesai masa iddhanya. Dan hari Minggu besok masa iddha Almira akan berakhir, jadi saya memutuskan hari selasa untuk menikahi Almira,” jawab Faisal.
“Apakah kamu ingin akad nikah dulu?” tanya Pak Edy.
“Tidak, Om. Saya akan mengadakan akad nikah sekaligus resepsi. Saya akan membooking sebuah café jadi kami tidak usah mencari gedung dan catering. Mengenai undangan biar staf saya yang di kantor yang mengurusnya. Kalau mengenai baju pengantin dan sebagainya kami bisa sewa melalui MUA. Pokoknya untuk mengurus semuanya biar staf kami yang mengurus semuanya,” jawab Faisal.
“Wah…wah….Pak Rahmat sepertinya keponakan saya ini ingin cepat-cepat menikah,” kata Pak Edy kepada Pak Rahmat.
Pak Rahmat hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sebetulnya Pak Rahmat tau alasan Faisal bertindak secepat ini. Karena Faisal tidak ingin Tomy mengganggu Almira.
Setelah penentuan tanggal pernikahan semua tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan makan malam. Ketika semua orang menuju meja prasmanan yang terdapat di halaman depan rumah Pak Rahmat, Faisal dan Almira duduk berdua di ruang keluarga.
“Mas, kita menikah di resto tempat Dini dan Rafi menikah?” tanya Almira.
“Bukan, tapi di café yang tidak jadi kita booking,” jawab Faisal.
__ADS_1
“Mas, apa tidak terlalu nekad menikah di sana?” tanya Almira.
“Nggak. Mas menyewa beberapa orang bodyguard untuk mengamankan tempat pernikahan kita.,” jawab Faisal.
Almira kaget mendengarnya.
“Mas, daripada harus menyewa bodyguard mendingan kita cari café yang lain,” kata Almira.
“Bagaimanapun juga kita harus memperlihatkan kepada Tomy kalau kamu sudah menikah lagi. Dan sekaligus memperlihatkan kepada teman-teman Tomy bahwa kamu bukan lagi istri Tomy,” kata Faisal.
“Tapi resikonya besar, Mas. Ada kemungkinan terjadi keributan,” ujar Almira dengan cemas.
“Kita berdoa semoga semuanya berjalan lancar dan tidak terjadi keributan,” kata Faisal yang berusaha menenangkan Almira.
“Aamiin,” ucap Almira.
Kemudian datanglah Dini dan Rafi yang membawa makanan dan ikut bergabung dengan mereka.
“Eh….calon pengantin lagi mojok di sini. Nggak pada makan?” ujar Dini.
“Astagfirullahaladzim. Almira lupa mengajak Mas Faisal makan,” kata Almira.
“Pacaran terus sih, jadi lupa makan,” celetuk Nina yang baru datang sambil membawa makanan.
“Ayo, Mas kita makan dulu,” ajak Almira.
Namun Faisal tidak lekas berdiri, ia seperti sedang mencari seseorang.
“Mir, kok Mas tidak melihat anak-anak?” tanya Faisal.
“Oh, Akbar dan Amelia sedang tidur di kamar Almira,” jawab Almira.
“Kalau Naura kemana?” tanya Faisal.
Benar juga, Almira juga tidak melihat Naura.
“Coba kita cari ke kamar,” kata Almira.
Faisalpun mengikuti Almira menuju ke kamar Almira. Almira membuka pintu kamarnya, ia melihat Akbar dan Amelia sedang tidur dan di sebelah Amelia ada Naura yang sedang tidur-tiduran sambil asyik bermain ponsel. Almira menarik nafas lega.
“Kenapa, Mir?” tanya Faisal.
“Kakak Naura lagi main ponsel di kamar,” jawab Almira.
Faisal langsung masuk ke kamar Almira. Ia mendapatkan anak gadisnya yang sedang asyik tidur-tiduran sambil bermain ponsel.
“Kakak, Ayah dari tadi cari Kakak, nggak taunya Kakak di sini. Ayo makan dulu!” kata Faisal.
Naura menoleh ke arah Faisal dan Almira. Lalu bangun dari tempat tidur.
“Pelan-pelan bangunnya, nanti Akbar dan Amelia bangun,” kata Faisal.
Setelah bangun dari tempat tidur Naura langsung keluar dari kamar Almira.
“Anak-anak sudah pernah ngerasin tidur di kamar calon ibu sambung mereka. Ayahnya belum pernah ngerasain tidur di situ,” kata Faisal.
“Mas!” seru Almira sambil melotot. Ia takut ada yang dengar.
“Ayahnya kan juga mau ngerasain,” kata Faisal dengan cueknya.
“Terserah Mas, aja.” Almira pergi meninggalkan Faisal.
“Jangan marah, dong. Mas kan cuma becanda,” ujar Faisal sambil mengikuti Almira dari belakang.
“Mas, becandanya nggak lucu,” kata Almira yang terus berjalan menuju meja prasmanan.
.
.
.
.
__ADS_1
maaf, ya kalau akhir-akhir ini saya up nya tidak menentu. karena saya positif covid 19. kami sekeluarga positif covid 19 bergejala. hanya anak saya yang paling kecil yang negatif. alhamdullilah, Allah masih menyisakan satu yang sehat. untuk menjadi penghubung kami dengan lingkungan luar.
jadi harap maklum kalau saya up agak kacau. karena saya menulis dalam keadaan demam, batuk, pilek dan sakit kepala.