Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
17. Ke Rumah Ibu Rosita.


__ADS_3

Almira selesai mengambil makanannya dan sekarang mencari bangku kosong.


“Atau mau saya ambilkan?” tanya Almira setelah duduk di bangku yang kosong.


“Nggak usah! Kamu makan aja,” jawab Faisal yang ikut duduk di sebelah Almira.


Almira menikmati makanannya. Melihat Almira makan dengan nikmat tiba-tiba Faisal menjadi lapar.


“Kamu tunggu di sini. Saya mau ambil makanan dulu,” kata Faisal.


Lalu Faisal menuju ke meja prasmanan untuk mengambil makanan. Tak lama kemudian Faisal datang sambil membawa makanan.


“Anak-anak kemana, Pak? Kok tidak kelihatan?” tanya Almirah sambil menikmati makanannya.


“Akbar dan Amelia mungkin sudah tidur. Kalau Naura ada di kamar Mamah,” jawab Faisal.


Ketika mereka sedang makan, Faisal melihat Naura keluar dari dalam rumah.


“Tuh Naura keluar.” Faisal  melambaikan tangannya memanggil Naura.


Naura menghampiri Faisal.


“Ada apa, Yah?” tanya Naura dengan muka jutek.


“Salam dulu dengan Tante Almira,” kata Faisal.


Naura mencium tangan Almira.


“Kakak, sudah makan belum?” tanya Faisal.


“Ini baru mau makan,” jawab Naura.


“Ya sudah. Sekarang Kakak makan dulu,” kata Faisal.


Naura langsung meninggalkan Faisal dan Almira.


“Pak, kalau saya membantu mengurus pernikahan Dini dan Rafi apa tidak akan mengganggu pekerjaan kantor?” tanya Almira kepada Faisal.


“Kita kan bisa atur kapan waktunya kita kerja urusan kantor. Kapan kita mengurus pernikahan Dini dan Rafi,” jawab Faisal.


“Waktunya mepet cuma sebulan. Saya takut nggak kekejar,” kata Almira


“Saya percaya sama kamu, kamu pasti bisa mengurus semuanya dengan baik dan tepat waktu,” kata Faisal memberikan motivasi kepada Almira.


“Aamiin ya robialamin. Semoga semuanya berjalan lancar,” ucap Almira.


Setelah semua selesai makan Pak Rahmat dan keluarga pamit pulang karena hari sudah malam.


☀☀☀☀


Keesokan harinya Almira mulai mulai menjalankan tugas yang diberikan kepadanya yaitu mempersiapkan pernikahan Dini dan Rafi.

__ADS_1


“Fi, kira-kira Dini mau mengadakan pernikahannya di gedung mana? Atau Ballroom hotel mana?” tanya Almira kepada Rafi.


“Rafi nggak tau Teh, soalnya belum penah ngebahas hal ini dengan Dini,” jawab Rafi.


“Eh…. gimana sih, niat nikah nggak sih?” tanya Almirah dengan gemas.


“Niat Teh, tapi kan kami belum punya bayangan mau nikah dimana?” jawab Rafi.


“Ya sudah, sekarang telepon Dini! Tanya mau nikah dimana? Terus acaranya in door atau out door. Buruan tanya, gih!!! Waktunya mepet nih,” seru Almira.


“Iya, iya.” Rafi mulai menghubungi Dini.


“Assalamualaikum, Din.”


“Waalaikumsalam, Aa.”


“Ini Teteh nanya, pernikahan kita mau di laksanakan dimana?”


“Aa maunya dimana?”


“Aa mah gimana Dini aja.”


“Dini juga masih bingung, A. Kalau milih satu tempat takutnya full booking, tidak bisa di prediksi.”


Rafi menjauhkan ponselnya lalu berbicara pada Almira.


“Dini juga masih bingung,” kata Rafi.


“Assalamualaikum, Din. Ini Teteh.”


“Waalaikumsalam, Teh.”


“Din, kita bisa ketemuan nggak hari ini? Banyak yang harus Teteh bicarakan dengan Dini. Mumpung hari  libur.”


“Bisa, Teh. Di rumah Dini aja, ya. Sekalian Teteh dan Aa makan siang di rumah Dini.”


“Jangan di rumah Dini, nanti merepotkan Tante Rosita.”


“Nggak apa-apa, Teh. Mamah malah senang Teteh mau datang ke rumah.”


“Tunggu sebentar, Teteh tanya Rafi dulu.”


Almira menjauhkan ponselnya.


“Fi, bagaimana nih? Kita disuruh ke rumah Dini,” tanya Almira.


“Ya sudah kita ke sana saja,” jawab Rafi.


“Bener nih?” tanya Almira sekali lagi.


“Iya, Teteh,” jawab Rafi.

__ADS_1


Lalu Almira mendekatkan ponsel Rafi lagi.


“Halo, Din. Kata Rafi iya, kami akan ke sana.”


“Alhamdullilah. Dini tunggu ya, Teh.”


“Iya, Din. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Almira menyudahi pembicaraannya.


“Ayo, Fi mandi dulu. Kita berangkat sekarang. Soalnya banyak yang harus Teteh bicarakan dengan Dini,” kata Almira.


“Teteh sudah mandi belum?” Rafi malah bertanya kepada Almira.


“Belum,” jawab Almira.


“Teteh aja belum mandi. Tapi malah nyuruh Rafi mandi.” Rafi protes.


“Ya sudah, Teteh mandi dulu,” kata Almira mengalah.


Kemudian Almira ke kamarnya untuk bersiap-siap mandi.


Ketika Almira dan Rafi bersiap-siap untuk berangkat, tiba-tiba Nina mau ikut dengan Almira dan Rafi.


“Aa dan Teteh mau naik motor, bukan naik mobil,” kata Rafi ketika Nina cerewet minta ikut.


“Jangan naik motor, naik mobil aja,” usul Nina.


“Mendingan naik motor biar cepet,” kata Rafi.


Nina kesal karena tidak boleh ikut, lalu Nina menghampiri Ayahnya.


“Ayah, Nina nggak boleh ikut sama  Aa,” kata Nina dengan gaya merajuk.


“Mau ikut kemana?” tanya Pak Rahmat.


“Mau ke rumah Teteh Dini,” jawab Nina.


“Kenapa tidak boleh ikut?” tanya Pak Rahmat.


“Teteh dan Aa mau naik motor,” jawab Nina.


“Ya sudah, naik mobil Ayah saja, biar kamu bisa ikut,” kata Pak Rahmat.


“Asyik….,” seru Nina kegirangan.


“Tapi janji, jangan ganggu Aa dan Teteh,” kata Pak Rahmat.


“Siap Ayah.”

__ADS_1


__ADS_2