Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
26. Pernikahan Dini Dan Rafi


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Dini dan Rafi. Almira pagi-pagi terlihat sibuk untuk memastikan semua sudah dipersiapkan dengan baik. Almira tidak menggunakan jasa EO, sebagai penggantinya Almira melibatkan para staf dari kantor Faisal. Tentu saja mereka dapat honor dari Faisal karena sudah membantu Almira.


“Ante,” panggil Akbar dan Amelia sambil berlarian menghampiri Almira yang sedang sibuk mempersiapkan untuk akad nikah.


“Hallo sayang." Almira mengangkat Akbar dan Amelia satu persatu untuk mencium pipi batita kembar itu.


Di belakang Akbar dan Amelia ada Naura yang menghampiri Almira sambil cemberut. Lalu Naura mencium tangan Almira. Almira membelai rambut Naura.


“Jangan sambil cemberut dong. Nanti cantiknya luntur,” kata Almira.


Naura tidak mengatakan apa-apa. Ia malah pergi meninggalkan Almira. Almira hanya tersenyum melihat kelakuan Naura.


“Mir.” Ibu Rosita menghampiri Almira.


“Tante.” Almira mencium tangan Ibu Rosita.


“Terima kasih, ya. Kamu sudah mempersiapkan sebaik mungkin,” ucap Ibu Rosita sambil mengusap punggung Almira.


“Saya nggak kerja sendiri kok, Tante. Almira dibantu Mas Faisal dan staf Mas Faisal,” kata Almira.


“Tapi kamu sudah berusaha keras agar acara ini terselenggarakan dengan baik,” puji Ibu Rosita.


Akhirnya ada pemberitahuan jika mempelai prianya sudah datang. Ibu Rosita dan Pak Edy bersiap-siap untuk menyambut mempelai pria.


Setelah semuanya siap acara akad nikah dimulai. Selesai akad nikah, para tamu keluarga di persilahkan untuk sarapan pagi. Akbar dan Amelia datang menghampiri Almira, mereka menarik-narik kebaya muslim Almira. Almira menoleh ke belakang.


“Mamamnya mau dicuapi ama Ante,” kata Amelia.


“Eh…jangan! Tantenya lagi sibuk. Sama Mbak aja, ya?” kata pengasuh Amelia.


“Nggak apa-apa, Mbak. Biar saya yang suapi, Mbak makan saja,” jawab Almira.


Almira mengambil piring dari tangan pengasuh Amelia.


“Jadi ngerepotin ibu,” kata pengasuh Amelia yang merasa tidak enak.


“Nggak ngerepotin kok. Ajak Mbaknya Akbar makan,” kata Almira.


“Iya, Bu.” Lalu pengasuh itu pun pergi untuk makan.


Almira mengajak Akbar dan Amelia duduk.


“Berdoa dulu, ya sebelum makan. Ikuti Tante, ya!”


Akbar dan Amelia mengikuti doa makan yang diajarkan Almira. Setelah itu barulah mereka makan. Kemudian Naura datang membawa makanan.


“Tuh, Kakak Naura juga makan.”


“Jangan lupa berdoa dulu sebelum makan,” kata Almira mengingatkan Naura.


Baru saja Naura hendak menyuapi makanannya langsung tidak jadi. Mulut Naura seperti mengucapkan sesuatu mungkin doa mau makan, Setelah itu barulah Naura makan. Almira tersenyum melihat Naura, walaupun ia memasang tampang judes tapi masih mau mendengarkan kata-kata Almira.


“Enak nggak makanannya, Kak?” tanya Almira ke Naura.

__ADS_1


Naura menjawabnya dengan mengacungkan jempol.


“Alhamdullilah,” ucap Almira.


Faisal menghampiri anak-anaknya yang sedang makan bersama dengan Almira.


“Lagi pada ngapain, nih?” tanya Faisal.


“Mas nggak makan?” tanya Almira sambil menyuapi Akbar.


“Nanti,” jawab Faisal.


“Mas lebih baik makan sekarang. Nantikan Mas berdiri lama mendampingi Tante,” kata Almira.


“Kamu juga belum makan,” ujar Faisal.


“Saya makannya nanti setelah anak-anak makan,” jawab Almira sambil menyuapi Amelia.


“Saya makannya bareng sama kamu aja,” kata Faisal.


Faisal menunggu sampai Almira selesai menyuapi Akbar dan Amelia. Setelah selesai menyuapi Akbar dan Amelia serta menyerahkan kembali kepada para pengasuhnya barulah Almira dan Faisal sarapan. Selesai sarapan Almira harus mengecek persiapn untuk resepsi, sedangkan Faisal harus berganti baju karena Faisal akan mendampingi Mamah di pelaminan.


Resepsi pernikahan Rafi dan Dini cukup meriah, karena mereka mengundang tamu tiga ribu orang. Almira terlihat sangat sibuk sekali mengatur semuanya agar resepsi berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala apapun.


Ketika sedang mengecek makanan prasmanan ada yang menarik-narik kebaya muslimnya dari belakang. Almira menoleh ke belakang. Akbar sedang menarik-narik baju Almira.


“Iya sayang, Akbar mau apa?” tanya Almira.


“Albal mau ekim tapi ndak boleh cama Mba,” kata Akbar dengan mulutnya belepotan bekas makan ice cream.


Almira menggendong Akbar,


“Sayang, nggak boleh banyak-banyak makan ice cream. Nanti sakit batuk pilek,” kata Almira yang mencoba memberikan pengertian kepada Akbar.


“Albal mau ekim,” kata Akbar sambil menangis.


“Akbar sudah ngantuk, ya? Bobo di eyong sama Tante, ya,” kata Almira.


“Mbak bawa kain buat ngegendong nggak?” tanya Almira.


“Bawa, Bu. Saya ambilkan,” jawab pengasuh Akbar.


“Iya tolong, ya Mbak,” kata Almira.


Lalu pengasuh Akbar mengambil kain gendongan. Sambil menunggu Almira menempelkan Akbar di dadanya lalu diusap-usap punggung Akbar. Hingga batita itu diam tidak terdengar suara nya. Tak lama kemudian pengasuh Akbar datang sambil membawa kain gendongan. Lalu Almira menggendong Akbar dengan kain gendongan. Almira menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil menepuk-nepuk tubuh Akbar yang belakang agar Akbar merasa seperti diayun-ayun. Tak lama kemudian Akbar tidur dengan lelap.


“Mbak bawa stoller, nggak?” tanya Almira.


“Bawa, Bu. Amelia juga lagi tidur di stoller,” jawab pengasuh Akbar.


Kemudian Almira membawa Akbar ke tempat stoller di simpan. Faisal yang sedang menyalami tamu-tamu yang datang melihat Almira lewat di depan pelaminan sambil menggendong salah satu anaknya. Faisal melihatnya sambil tersenyum.


Perlahan Almira menaruh Akbar di atas stoller. Namun batita itu sempat terbangun dan menangis, Almira menepuk-nepuk bagian belakang tubuh Akbar hingga batita itu tertidur kembali.

__ADS_1


“Titip anak-anak, ya Mbak,” kata Almira kepada pengasuh Akbar dan Amelia.


“Iya, Bu,” jawab pengasuh Akbar.


Kemudian Almira meninggalkan Akbar dan Amelia yang sedang tidur.


Akhirnya acara resepsi pernikahan Rafi dan Dini pun berakhir. Sekarang pengantin sedang makan siang bersama dengan orang tua mereka.


“Almira, makan dulu! Kamu pasti belum makan siang, ya?” kata Ibu Lia.


“Iya, Bi. Almira ambil makanannya dari meja prasmanan saja. Masih banyak kok makanannya,” jawab Almira.


Kemudian Almira menuju ke meja prasmanan untuk mengambil makanan, Setelah itu kembali lagi ke meja makan yang di sediakan untuk keluarga.


“Teteh,” panggil Dini.


“Iya, Din,” jawab Almira.


“Teteh hebat, acaranya berjalan dengan lancar. Teteh bisa buka EO,” puji Dini.


“Kalau Almira buka EO, Mas nggak punya sekretaris lagi,” ujar Faisal dengan wajah kesal.


“Ya Mas cari sekretaris lagi,” jawab Dini.


“Memangnya gampang cari sekretaris,” kata Faisal.


“Sekretaris yang mau kerja, susah carinya. Yang pintar bersolek banyak,” kata Faisal.


“Kalau Teh Almira termasuk yang mana Mas?” tanya Dini.


“Termasuk yang bisa kerjalah,” jawab Faisal.


“Nggak termasuk sekretaris yang pintar bersolek, dong,” goda Dini.


“Nggak usah bersolek, segitu juga sudah cantik,” kata Faisal.


“Ekhem-ekhem, kayaknya kita bakalan hajatan lagi deh,” celetuk Nina.


“Nina!” tegur Almira sambil melotot.


Namun tiba-tiba Akbar bangun tidur sambil menangis.


“Ngngng  Ante….Ante…..,” panggil-panggil Akbar sambil menangis.


Almira meninggalkan makanannya dan menghampiri Akbar yang tidur di stollernya. Namun ternyata bukan hanya Akbar saja yang bangun, Amelia pun terbangun karena suara berisik saudara kembarnya.


“Sayang cup cup.” Almira mengangkat tubuh Akbar.


“Ngngng…..” Ameliapun menangis.


Ameliapun mengangkat tangannya minta di gendong Almira. Almira jadi kebingungan karena tidak bisa menggendong dua anak sekaligus. Faisal menghampiri Almira.


“Biar Akbar saya yang gendong. Kamu gendong Amelia,” kata Faisal sambil mengambil Akbar dari gendongan Almira.

__ADS_1


Almira mengangkat tubuh Amelia dari stoller. Dan acara makan siang pengantin ditutup dengan suara tangisan Akbar dan Amelia yang berebut ingin digendong Almira.


__ADS_2