Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
59


__ADS_3

Almira terjaga dari tidurnya karena menahan ingin buang air kecil. Suasana di kamarnya nampak sepi. Piring yang berada di atas meja sofa sudah tidak ada lagi. Sepertinya sudah dibersihkan oleh ART. Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul setengah sebelah, ternyata lumayan lama juga ia  tertidur. Almira langsung ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Setelah dari kamar mandi Almira merasa perutnya sangat lapar.Ia ingin makan sesuatu yang gurih, berkuah panas dan pedas.


Sepertinya enak juga kalau makan baso, pikir Almira.


Almira keluar dari kamar dan mencari ART yang bisa di suruh untuk membeli baso.


“Mbak….,” panggil Almira.


“Ya, Bu,” seorang ART datang menghampiri Almira.


“Tolong belikan saya baso yang pedes, ya! Sama baso aja kuahnya polos nggak pakai apa-apa setengah porsi dua untuk Akbar dan Amelia. Kamu beli baso juga, teman-teman kamu yang mau baso sekalian beikan.” Almira memberikan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah kepada ART.


“Bu, ini kebanyakan,” kata ART memperlihatkan uang yang diberikan Almira.


“Saya takut kurang uangnya,” jawab Almira.


“Kamu perginya diantar Pak Ali.”


“Nggak usah, Bu. Saya naik ojek saja. Dekat kok,” jawab ART.


Almira mengambil uang dua puluh ribu rupiah dari dompetnya lalu diberikan kepada ART.


“Nggak usah, Bu. Ini juga sudah cukup untuk naik ojek, malah lebih, Bu.” Tolak ART.


“Ya sudah kalau begitu.” Almira kembali ke kamarnya.


ART itu pun pergi membeli baso.


Setelah menunggu lama, akhirnya baso yang ditunggu datang juga. Terdengar suara pintu diketut dari luar kamar. Almira membukakan pintu.


“Ini, Bu basonya dan kembaliannya.” ART memberikan plastik yang berisi baso serta uang kembalian membeli baso.


“Tolong ambilkan mangkok, dan suruh bi Cani buatkan saya teh manis panas,” kata Almira sambil menerima plastik dan uang kembaliannya.


“Baik, Bu.” ART itupun pergi untuk mengambilkan mangkok.


Tak lama kemudian ART datang kembali sambil membawa mangkok dan sendok serta teh manis panas yang diminta oleh Almira.

__ADS_1


“Terima kasih, ya,” ucap Almira.


Almira menempatkan baso ke dalam mangkok dan mulai memakannya. Almira menyantap baso itu hingga habis. Ia pun meneguk teh manis panas sedikit demi sedikit.  Setelah selesai makan Almira bersiap-siap untuk sholat dzuhur. Selesai sholat dzuhur Almira tidur kembali.


Sayup-sayup Almira mendengar suara Akbar dan Amelia di dalam kamarnya. Almira membuka kelopak matanya dan ia melihat Faisal sedang diikuti oleh Akbar dan Amelia dari belakang.


“Mas,” panggil Almira pelan.


Mendengar suara Almira memanggilnya Faisal langsung menoleh ke Almira lalu berjalan mendekati Almira. Faisal duduk di pinggir tempat tidur.


“Bagaimana sudah agak mendingan belum?” tanya Faisal.


“Belum, Mas. Masih sakit kepalanya,” jawab Almira dengan lemas.


“Nanti malam kita ke dokter, ya! Mas sudah buat janji dengan dokternya,” kata Faisal.


“Nggak usah, Mas. Nanti juga sembuh, kan sudah makan obat,” jawab Almira.


“Mas cuma mau memastikan kamu sakit apa? Agar sakitnya tidak berkelanjutan,” kata Faisal.


Almira berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia diperiksa oleh dokter, paling nanti ia akan disuruh istirahat dan diberi vitamin.


“Nda, Amel’ia mau ikut ke dotel,” kata Amelia yang berdiri di sebelah ayahnya.


“Amelia dan Akbar tunggu di rumah sama kakak. Bunda dan Ayah ke dokternya lama. Ayah dan Bunda harus mengantri karena pasiennya banyak. Nanti Amelia dan Akbar kelelahan karena harus menunggu lama,” jawab Faisal.


“Mas, dokter apa yang sampai mengantri begitu?” tanya Almira curiga.


“Ya, dokter umum biasa. Cuma karena beliau sudah senior dan  berpengalaman jadi banyak yang berobat ke sana,” jawab Faisal yang berusaha tenang agar istrinya tidak merasa curiga.


“Oh….Almira kira dokter spesialis apa,” kata Almira.


****


Malam harinya setelah selesai sholat magrib Faisal dan Almira berangkat ke dokter. Mobil Faisal meluncur di jalan raya. Almira memperhatikan suasana kota di malam hari sampai matanya membaca tulisan di tenda kaki lima “NASI GORENG KAMBING BANG SUEB”. Membaca tulisannya sudah membuat air liur Almira mengalir.


“Mas, mau nasi goreng kambing,” kata Almira.


Faisal yang sedang fokus menyetir menoleh ke Almira.

__ADS_1


“Nasi goreng kambing? Memangnya kamu masih lapar?” tanya Faisal.


Padahal sebelum mereka berangkat mereka sudah makan malam terlebih dahulu, agar ketika pergi ke dokter mereka tidak kelaparan saat mengantri di dokter.


“Lagi pengen saja, sepertinya enak makan panas-panas dan pedas,” ujar Almira sambil membayangkan nasi goreng kambing.


“Nanti pulangnya kita beli nasi goreng kambing. Sekarang kita ke dokter dulu,” kata Faisal.


“Iya, Mas.”


Keinginan Almira makan nasi goreng kambing membuat Faisal bertambah yakin untuk membawa Almira ke dokter.


Akhirnya mereka sampai di sebuah apotik ternama di daerah Jakarta Selatan. Tempat parkir di apotik itu cukup penuh.


“Di sini Mas tempat praktek dokternya?” tanya Almira sambil berusaha membaca plang nama-nama dokter yang menempel di tembok apotik.


“Iya. Turun yuk.” Faisal melepaskan seat belt yang melintang di tubuhnya lalu keluar dari mobil.


Faisal membukakan pintu mobil di sebelah Almira, karena Almira belum juga keluar dari mobil.


“Mas, tapi tidak ada tulisan dokter umumnya,” protes Almira.


“Ada. Tadi siang Mas sudah tanya ke pegawai apotik, katanya ada dokter umum,” jawab Faisal yang berusaha meyakinkan Almira.


Akhirnya Almira turun juga dari mobil. Faisal merangkul bahu Almira dan membawanya masuk ke dalam apotik.


Almira mengerut keningnya ketika Faisal menghampiri tempat pendaftaran dokter, Latar belakang tempat itu banyak bergambar rahim, bayi dan ibu hamil. Belum lagi pasien yang menunggu ada beberapa ibu-ibu hamil.


“Mbak, Ibu Almira sudah di panggil belum?” tanya Faisal kepada petugas pendaftaran.


Petugas itu melihat daftar pasien.


“Belum, Pak. Tunggu dua orang lagi,” jawab petugas itu.


“Terima kasih.” ucap Faisal.


Baru saja Faisal hendak duduk suster memanggil Almira.


“Ibu Almira.”

__ADS_1


__ADS_2