
Naura mengusap-usap kepala Almira yang tertutup kerudung.
“Bunda, bangun Bunda!” kata Naura sambil mengusap air mata yang terus menerus mengalir di pipinya.
“Jangan tinggalkan kami, Bunda. Akbar dan Amelia masih kecil -kecil, kami masih butuh Bunda,” kata Naura sambil terus menangis.
“Non, sudah telepon Bapak belum?” tanya Pak Ali sambil fokus menyetir.
“Belum, Pak Ali,” jawab Naura.
Saking paniknya Naura sampai lupa menelepon Ayahnya.
“Telepon Bapak dulu, Non! Bilang Ibu di bawa ke rumah sakit yang terdekat,” kata Pak Ali.
“Iya, Pak Ali.” Naura menekan nomor ponsel Ayahnya.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal.
“Waalaikumsalam, Ayah,” ucap Naura sambil sesegukan.
“Kakak, kamu kenapa?” tanya Faisal khawatir.
“Bunda, Ayah,” kata Naura sambil menangis.
“Bunda? Bunda kenapa Kakak?” tanya Faisal yang mulai cemas.
“Bunda jatuh Ayah. Kepalanya terbentur aspal. Dan…Bunda….Bunda tidak sadarkan diri ngngngnghhhh.” Tangisan Naura pecah.
“Ngngnghhhh Kakak takut Bunda meninggal ngngnghhhh,” kata Naura sambil menangis.
“Sekarang Bundanya dimana?” tanya Faisal.
“Kakak bawa ke rumah sakit di dekat sekolah Kakak,” jawab Naura.
“Kakak dengerkan Ayah! Kakak temani Bunda dulu! Ayah segera ke sana sekarang,” kata Faisal.
“Iya Ayah, tapi Ayah cepat datang! Kakak takut Bunda meninggal,” kata Naura.
Faisal menghela nafas. Naura sepertinya masih trauma dengan kematian Ibu kandungnya.
“Iya Naura, Ayah segera ke sana. Naura jangan takut nanti ada dokter yang menolong Bunda,” hibur Faisal.
“Udah ya, Ayah sekarang mau berangkat ke rumah sakit. Assalamualaikum.” Faisal mematikan teleponnya.
“Waalaikumsalam.”
Naura melanjukan mengusap-usap kepala Bundanya.
“Bunda…bangun Bunda. Ini Kakak Bunda,” kata Naura.
Tiba-tiba kepala Almira bergerak, dahinya mengerut seperti kesakitan.
“Bunda…Bunda sudah bangun?” Naura senang melihat pergerakan Almira.
Almira memegang kepalanya.
“Kakak, kepala Bunda sakit sekali,” kata Almira sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
“Sabar ya, Bunda. Kita sedang menuju ke rumah sakit,” kata Naura sambil mengusap-usap kepala Almira.
__ADS_1
Akhirnya sampai juga mereka di depan IGD rumah sakit. Pak Ali membuka pintu mobil dan beberapa orang perawat membantu Pak Ali menggotong tubuh Almira lalu dipindahkan ke atas brankar.
Naura mengikuti brangkar yang membawa bundanya. Namun di depan pintu masuk IGD Naura tidak diijinkan untuk masuk. Ia di suruh menunggu di ruang tunggu.
Naura menunggu di ruang tunggu dengan perasaan cemas. Ia takut Bundanya kenapa-kenapa. Tak lama Pak Ali datang dan menemani Naura di ruang tunggu.
Faisal berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang IGD. Ia melihat Naura yang sedang duduk termenung di temani oleh Pak Ali supir pribadi mereka. Faisal mendekati Naura.
“Bagaimana keadaan Bunda?” tanya Faisal.
“Nggak tau, Kakak nggak boleh masuk dan belum ada dokter yang keluar,” jawab Naura.
“Bagaimana kejadiannya?” tanya Faisal.
Lalu Naura menceritakan kejadian yang menimpa Bundanya.
“Pak, tadi ada yang memberikan ini.” Pak Ali memberikan potongan kertas yang teruliskan sebuah angka. Sepertinya nomor plat kendaraan.
“Apa in Pak Ali?” tanya Faisal bingung.
“Itu nomor plat motor yang hampir menabrak Non Naura dan Ibu. dari orang yang melihat kejadian itu,” jawab Pak Ali.
“Biarkan saja, Pak Ali. Yang penting Naura dan Bundanya selamat,” kata Faisal.
Tiba-tiba pintu IGD terbuka seorang dokter muda ke luar dari ruang IGD.
“Keluarga Ibu Almira,” panggil dokter itu.
Faisal langsung mendekati dokter tersebut.
“Saya suaminya,” kata Faisal.
“Apa Ibu Almira sekarang dalam keadaan hamil?” tanya dokter itu.
“Istri saya tidak sedang hamil, dok. Kami baru menikah empat hari yang lalu,” jawab Faisal.
“Oke kalau tidak dalam keadaan hamil Ibu Almira bisa di radiologi, Karena radiologi berbahaya untuk janin,” kata dokter.
“Iya, dok.”
Kemudian dokter itu masuk kembali ke dalam ruang IGD. Dan tak lama kemudian beberapa orang suster mendorong brangkar yang membawa Almira. Faisal dan Naura langsung bangun dan mengikuti brangkar yang membawa Almira dari belakang menuju ruang radiologi.
Tak lama kemudian mereka kembali dari ruang radiologi. Dan di depan ruang IGD sudah ada Ibu Rosita, Ibu Lia dan Pak Rahmat. Mereka diberitahu oleh Faisal kalau Almira terjatuh.
“Bagaimana keadaan Almira sekarang?” tanya Ibu Rosita.
“Dugaan sementara geger otak ringan harus diradiologi dulu,” jawab Faisal.
Faisal menghampiri Ibu Lia dan Pak Rahmat, lalu mencium tangan Bibi dan Paman Almira. Semenjak menikahi Almira, Faisal memperlakukan Paman dan Bibi Almira sama seperti memperlakukan orang tua Almira.
Naura juga ikut menghampiri Ibu Lia dan Pak Rahmat, ia mencium tangan Aki dan Enin barunya. Pak Rahmat dan Ibu Lia tersenyum melihat sikap Naura.
“Kakak belum salam sama Yang Ti,” tegur Ibu Rosita.
Naura menghampiri Ibu Rosita lalu mencium tangannya.
“Katanya hari ini kakak bagi raport. Bagaimana raportnya bagus, nggak?” tanya Ibu Rosita.
“Kata Bunda, Kakak rangking lima besar,” jawab Naura.
__ADS_1
“Alhamdullilah, pinter cucu Yang Ti,” puji Ibu Rosita.
Pintu IGD dibuka dokter tadi keluar dari ruang IGD.
“Keluarga Ibu Almira.” Dokter memanggil.
“Ya.” Faisal mendekati dokter itu.
“Bapak ikut saya, ada yang ingin saya bicarakan,” kata dokter.
“Baik, dokter.” Faisal mengikuti dokter.
“Ayah, ikut!” seru Naura menghampiri Faisal.
“Maaf , dok. Anak saya mau melihat Bundanya,” kata Faisal ke dokter itu.
“Nanti melihat pasiennya. Sekarang ada yang hendak saya bicarakan dengan Bapak,” jawab dokter.
Lalu Faisal beralih ke Naura.
“Kakak, dokter mau bicara dengan Ayah. Lihat Bundanya nanti,” kata Faisal memberi pengertian kepada putrinya.
Naura kembali ke tempat duduknya dengan wajah cemberut.
Faisal mengikuti dokter itu. Dokter membawa Faisal ke sebuah meja kerja yang berada di dalam ruang IGD.
“Silahkan duduk, Pak,” kata dokter.
Faisal duduk di hadapan dokter. Dokter mengambil hasil radiologi yang berada di atas meja lalu memperlihatkan hasilnya kepada Faisal. Dokter memperlihatkan sebuah garis yang melintang sekitar kurang lebih tujuh centimeter berada di tengkorak bagian belakang Almira
“Ibu Almira mengalami geger otak ringan. Tengkorak kepala bagian belakangnya retak dan harus di observasi selama tiga hari untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penurunan ingatan. Tapi mudah-mudahan itu tidak terjadi. Ini hanya untuk jaga-jaga saja,” kata dokter.
“Baik dokter saya mengerti,” jawab Faisal.
“Untuk sementara Ibu Almira masih di ruang IGD sampai mendapatkan ruang rawat inap,” kata dokter.
“Kalau anak saya boleh melihat Bundanya?” tanya Faisal.
“Boleh, tapi tidak boleh lebih dari dua orang,” jawab dokter.
Faisalpun meninggalkan meja kerja dokter dan keluar dari ruang IGD. Semua orang menghampiri Faisal ketika Faisal keluar dari ruang IGD. Di depan ruang IGD sudah ada Rafi dan Dini.
“Bagaimana keadaan Almira?” tanya Ibu Lia.
Faisal mengatakan apa yang dokter katakan kepada Faisal.
“Untuk sementara ini Almira masih di ruang IGD sampai mendapatkan ruang inap,” kata Faisal.
“Biar saya urus, Mas. Ruang VVIP kan?” kata Rafi.
“Iya, tolong ya, Fi,” jawab Faisal.
“Baik, Mas.” Rafi pergi menuju bagian administrasi rumah sakit.
Setelah Rafi pergi, Faisal mengajak Naura.
“Ayo, Kak kita lihat Bunda,” ajak Faisal.
Dengan gembira Naura mengikuti Faisal memasuki ruang IGD.
__ADS_1