
Almira berdiri di pinggir jalan menunggu suaminya keluar dari mobil. Dari kejauhan Almira memandangi tamu-tamu yang berdatangan untuk takziah ke rumah orang tua almarhum Tomy. Dulu Almira datang ke rumah itu sebagai seorang menantu dan sekarang ia datang sebagai tamu yang bertakziah ke rumah mantan mertuanya.
“Ayo,” kata Faisal begitu keluar dari mobil.
Faisal hendak berjalan namun tangannya ditarik oleh Almira.
“Kenapa?” tanya Faisal melihat Almira seperti orang yang sedang ragu.
“Almira takut, Mas,” jawab Almira.
“Takut kenapa? Kamu kan bukan orang yang membunuh Tomy,” kata Faisal.
“Almira takut mereka menghujat Almira,” kata Almira.
“Kamu tenang saja, ada Mas di samping kamu,” kata Faisal lalu menggenggam tangan istrinya memberikan ketenangan kepada Almira.
Faisal menggandeng tangan Almira dan menuntunnya ke rumah orang tua almarhum Tomy.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal ketika masuk ke halaman rumah Pak Dibyo dan Ibu Giatri.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang sedang duduk di halaman rumah orang tua Tomy.
“Silahkan masuk. Pak Dibyo dan Ibu Giatri ada di dalam,” kata bapak-bapak yang sedang duduk di halaman rumah.
Faisal dan Almira langsung berjalan menuju teras rumah. Pak Dibyo sedang berdiri di depan pintu menerima ucapan belasungkawa dari para tamu. Faisal dan Almira mendekati Pak Dibyo.
“Turut berduka cita, Om,” ucap Faisal sambil menyalami Pak Dibyo.
“Terima kasih,” ucap Pak Dibyo.
Lalu Almira mengatupkan kedua telapak tanganya di depan dada.
“Turut berduka cita, Om,” ucap Almira.
“Terima kasih, Almira,” ucap Pak Dibyo.
“Maafkan kesalahan Tomy yang telah ia perbuat padamu. Baik disengaja maupun tidak disengaja,” kata Pak Dibyo sambil menahan tangis.
“Almira sudah memaafkan semuanya, Om,” kata Almira.
“Terima kasih, Almira,” ucap Pak Dibyo.
“Almira ke Tante dulu, Om,” kata Almira.
“Masuklah, Tante ada di dalam,” kata Pak Dibyo.
Almira dan Faisal masuk ke dalam rumah Pak Dibyo. Di ruang tengah Ibu Giatri sedang menerima ucapan belasungkawa dari para kerabatnya.
Almira dan Faisal mendekati Ibu Giatri.
“Turut berduka cita, Tante,” ucap Faisal.
“Terima kasih,” jawab Ibu Giatri.
“Turut berduka cita, Tante,” ucap Almira.
Ibu Giatri langsung memeluk Almira.
“Maafkan Tomy, Miraaa….,” ucap Ibu Giatri sambil menangis.
__ADS_1
“Ngngng…MaafkanTomy yang sudah menyakitimu.”
Ibu Giatri masih memeluk Almira sambil menangis.
“Tante, Almira sudah maafkan semua kesalahan Pak Tomy,” jawab Almira sambil mengusap punggung Ibu Giatri.
Lalu Ibu Giatri melepaskan pelukannya.
“Tadinya Tomy ingin rujuk denganmu, namun terlambat katanya kau sudah menikah dengan orang lain,” kata Giatri.
“Iya, Tante. Almira sudah menikah dengan Mas Faisal,” jawab Almira.
“Tomy putus asa mendengar kamu sudah menikah lagi. Dia tidak percaya kamu sudah menikah. Hampir setiap malam dia pergi ke Pub. Dan tadi dini hari Tomy pulang dalam keadaan mabuk hingga kecelakaan itu terjadi. Mira, Tomy benar-benar putus asa setelah kau tinggalkan,” kata Ibu Giatri sambil menangis.
Astagfirullahaladzim, ucap Almira di dalam hati.
Tomy yang Almira kenal tidak pernah mabuk-mabukan seperti itu.
“Yang sabar, ya Tante. Pak Tomy sudah tenang di sana,” kata Almira.
“Terima kasih, Almira,” ucap Ibu Giatri.
Lalu Almira meninggalkan Ibu Giatri dan menghampiri Tita yang sedang menangis di sebelah jenazah Tomy.
“Tita, saya turut berduka cita,” ucap Almira.
“Maafkan saya, Bu. Yang sudah menyakiti Ibu,” ucap Tita.
“Sudah lupakan saja Tita. Sekarang saya sudah menikah dengan Faisal,” kata Almira.
Almira mengusap perut Tita sambil tersenyum.
Almira keluar dari rumah Pak Dibyo sambil mencari suaminya. Almira melihat suaminya duduk di luar dan sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Almira menghampiri suaminya.
“Sudah selesai takziahnya?” tanya Faisal ketika Almira menghampiri Faisal.
“Sudah,” jawab Almira.
“Gue duluan, ya,” pamit Faisal kepada teman-temannya.
“Eh, mau kemana?” tanya Adit.
“Mau ke kantor. Kalau gue cuti lagi entar dimarahin Ibu bos,” jawab Faisal.
Lalu Faisal menggenggam telapak tangan Almira dan menuntun Almira berjalan menuju ke mobil. Sesampai di mobil Faisal membukakan pintu mobil untuk Almira. Almira langsung masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian Faisal juga masuk ke dalam mobil. Akhirnya mobil yang dikendarai Faisal meluncur di jalan raya.
“Mas, kasihan Tita ya. Almira tidak tega melihatnya. Bagaimana nasib Tita dan bayinya, ya Mas?” kata Almira.
“Mas juga tidak tau, Almira. Bagaimanapun keputusan ada di tangan Pak Dibyo dan Ibu Giatri,” jawab Faisal sambil fokus menyetir.
“Cuma yang Mas dengar Tomy tidak mau menikahi Tita. Dia hanya mau bertanggung jawab pada anak yang di dalam kandungan Tita,” kata Faisal sambil menoleh ke arah Almira sebentar.
“Bagaimana sih Pak Tomy? Mau bikinnya mau tapi nggak mau bertanggung jawab,” gerutu Almira.
“Mungkin Tomy berharap bisa rujuk kembali denganmu. Jadi ia tidak mau menikahi Tita,” kata Faisal.
“Hah lagi pula siapa yang mau rujuk kembali sama dia,” gerutu Almira.
Faisal menoleh ke Almira lalu tersenyum.
__ADS_1
“Iya Mas tau, kamu cuma cinta sama Mas,” kata Faisal.
Almira menghela nafas lalu menoleh ke jendela mobil. Apakah ini semua adalah balasan dari perbuatan Tomy dan Tita yang sudah menyakitinya? Padahal Almira sudah memaafkan mereka dan melupakan semua kejadian itu. Karena sekarang ia sudah hidup bahagia bersama suami dan anak-anak sambungnya.
****
Sore harinya ketika Almira pulang dari kantor ia disambut oleh anak-anak kembarnya. Mereka menyambutnya di teras depan rumah.
“Nda puyang…,” seru Amelia dengan girang.
“Bunbun puyang…..,”seru Akbar.
Almira menghampiri kedua batita kembarnya.
“Assalamualaikum,” ucap Almira.
“Waalacumcalam,” jawab Akbar dan Amelia.
Almira langsung memeluk kedua batita itu. Diciumnya pipi kedua batita itu satu persatu.
“Bunda kangen dengan kalian,” kata Almira.
“Amel tangen Nda,” kata Amelia.
“Albal uga,” kata Akbar.
“Cuma Bunda aja nih yang dipeluk? Ayah tidak di peluk?” tanya Faisal yang berdiri di belakang Almira.
“Aya…,” seru Akbar dan Amelia lalu memeluk kaki Faisal.
Faisal tersenyum sambil mengelus-elus kepala Akbar dan Amelia.
Naura keluar dari dalam rumah dan menghampiri Almira an Faisal lalu mencium tangan Almira dan mencium tangan Faisal.
“Ayah, besok Kakak dibagikan rapot,” kata Naura setelah mencium tangan Faisal.
“Ambil rapotnya sama Bunda, ya! Besok Ayah ada rapat evaluasi,” kata Faisal.
“Iya, nggak apa-apa,” jawab Naura.
“Tante, lain kali kalau bikin kue dan puding yang banyak! Kakak kebagiannya cuma sedikit. Dihabisin sama Akbar dan Amelia,” seru Naura sambil cemberut.
“Habis pudingnya? Padahal Tante buat lima loyang puding dengan berbagai macam rasa,” kata Almira kaget.
“Mbak-Mbak dan Bibi Bibi juga kebagiannya cuma satu potong. Sisanya dihabiskan Akbar dan Amelia. Kata Mbak, Akbar dan Amelia kalau tidak dikasih puding nangis terus mau ke Tante. Jadi terpaksa dikasih terus supaya berhenti menangis,” kata Naura.
Almira menoleh ke Akbar dan Amelia.
“Anak sholeh dan sholeha nggak boleh begitu! Bunda kan ke kantor buat bantu Ayah kerja,” kata Almira.
“Albal mau cama Bunbun,” kata Akbar dengan manja.
“Amel uga,” kata Amelia.
“Kan kalau sore bisa sama Bunda,” kata Almira memberi pengertian kepada Akbar dan Amelia.
“Bunda bicaranya diteruskan di dalam rumah! Sebentar lagi magrib,” sahut Faisal.
“Ayo Bunbun cita matuk,” kata Akbar sambil menarik tangan Almira.
__ADS_1
Sedangkan Amelia mendorong Almira dari belakang. Akhirnya mau tidak mau Almira masuk ke dalam rumah diikuti oleh Faisal dan Naura dari belakang.