
Masa cutiku sudah habis dan sekarang waktunya aku kembali bekerja. Ku lihat Radit yang sedang bermalas malasan, kamu gak nyari kerja dit? tanyaku. iya nanti aku pasti nyari kerja al, cuma saat ini aku mau di rumah dulu katanya. Terserah kamu saja, kataku sambil berlalu pergi.
Aku berangkat kerja menggunakan motor maticku. sesampainya di kantor, benar saja banyak bisik bisik yang aku dengar tengah menggosipkan diriku. Eh lihat tu si Almira, aku pikir dia cewek polos, gak taunya liar juga ternyata, pasti karena dia hamil duluan tuh makanya nikahnya pun mendadak gini kata salah satu pegawai. walaupun mereka berbisik tapi aku masih bisa mendengarnya, aku hanya berlalu melewati mereka, masa bodo dengan ucapan mereka, seperti kata pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu. Jangan dengerin kata kata mereka al, aku yakin kamu punya alasan yang membuatmu menikah secara mendadak tidak seperti apa yang mereka ucapkan, kata Irene salah satu teman divisi ku. Iya ren, makasi ya ucapku.
__ADS_1
Aku bekerja seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi, saat jam pulang kantor, aku sengaja membuat pekerjaanku menjadi lambat, agar aku bisa lembur dan pulang malam. Aku benar benar sudah malas pulang ke rumah.
Tepat pukul jam 8 aku baru pulang, sampai rumah jam 9 malam. Ku lihat Radit langsung menghampiriku, darimana saja kamu al, kenapa jam segini baru pulang, dan chat aku juga gak kamu balas? tanya Radit. Tadi aku lembur, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan sehabis aku tinggal cuti jawabku. Tapi setidaknya kamu bisa menghubungiku bilang bahwa kamu lembur, jadinya aku tidak khawatir kayak gini. Maaf aku gak sempat cek hp karena terlalu fokus pada kerjaanku, jawabku sambil berlalu ke kamar. Sampai kamar aku langsung mandi dan lanjut untuk tidur, Almira aku mau bicara, kata radit begitu dia masuk ke kamar. Mau bicara apa, besok saja aku benar benar capek kataku dan langsung berbaring di ranjang. aku sudah benar benar malas bicara dengan radit. Dan Radit hanya menghela nafas dan ikut berbaring di sebelahku.
__ADS_1
Tiga bulan pun sudah berlalu, dan selama itu pula aku selalu pulang malam, untuk menghindari radit meminta haknya, aku selalu beralasan capek, untungnya dia juga tidak memaksa. sampai saat ini juga radit belum juga bekerja, alasannya belum ada pekerjaan yang cocok untuknya dan aku juga yang selalu memberinya uang. Hingga pada suatu pagi perutku tiba tiba terasa mual dan pengin muntah, tapi begitu muntah tidak ada yang keluar. Aku bertanya tanya pada diriku sendiri apa yang terjadi padaku? Mendengar suara ku yang muntah muntah, radit dan ibu mertua ku menghampiriku dan bertanya kamu kenapa Almira? Gak tau bu, tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan perutku juga mual mual jawabku. Apa jangan jangan jangan kamu hamil nak? kata ibu mertua ku. Mendengar kata hamil aku begitu syok, tidak aku tidak mau mengandung anaknya radit, kataku dalam hati. dan Radit segera berkata, sebaiknya aku antar kamu ke dokter al, untuk memastikan kamu benar hamil apa tidak. Aku pun hanya mengangguk.
Sesampainya di dokter kandungan, aku langsung diperiksa, dan benar saja aku ternyata hamil. Selamat ya pak, istri anda hamil, usia kandungannya sudah memasuki 2 bulan. dan Radit seketika tersenyum mendengar perkataan dokter. kalau usia kandungan ku 2 bulan berarti pembuahan terjadi pada malam naas itu batinku, tanpa sadar aku pun menangis, mungkin dokter akan mengira kalau aku menangis karena bahagia, padahal ini adalah tangisan penyesalan.
__ADS_1