Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
36. Menjadi Seorang Ibu.


__ADS_3

Adit memandangi dari jauh kedua mempelai dengan tatapan tidak percaya. Kemarin ia mendapatkan undangan pernikahan dari Faisal. Yang mengagetkannya mempelai wanita bernama Almira, nama yang mirip dengan nama istri Tomy.


Sejak kapan Faisal menjadi pebinor? Tanya Adit di dalam hatinya.


Untuk menjawab rasa penasarannya Tomy datang ke pernikahan Faisal. Di depan ia melihat beberapa orang pria yang bertubuh tegap bak seorang body guard.


Bahkan sampai menyewa boduguard, takut Tomy menggagalkan pernikahan istrinya. Wah….wah…..ini nggak bener. Tomy harus diberitahu kalau istrinya menikah lagi, kata Adit di dalam hati.


Ketika Adit hendak menelepon Tomy tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya.


“Nggak masuk lu, Dit?” tanya Herman.


Adit menoleh ke arah Herman, Wahyu dan beberapa orang teman Faisal dan teman Tomy juga.


“Kalian juga diundang?” tanya Adit dengan tidak percaya.


“Iya,” jawab Herman.


“Kalian tau Faisal menikah dengan siapa?” tanya Adit.


“Taulah dengan Almira mantan istri Tomy,” jawab Herman.


“Mantan istri?” tanya Adit bingung.


“Iya, mantan istri. Almira sudah lama bercerai dengan Tomy. Semenjak Tomy ngehamili Tita sekretarisnya,” jawab Herman.


“Lu tau darimana?” tanya Adit.


“Taulah. Gue kan satu kantor sama Rafi sepupunya Almira. Dia pernah cari Tomy buat mukulin Tomy karena sudah nyakitin perasaan Almira,” jawab Herman.


“Kok elo nggak cerita sama gue?” tanya Adit.


“Ngapain gue cerita sama lu. Sama aja gue buka aib orang lain. Sekarang gue cerita sama elo supaya elo ngak salah sangka sama Faisal dan Almira. Sudahlah Dit, bagaimanapun Almira berhak untuk bahagia,” kata Herman sambil menepuk-nepuk bahu Adit.


“Tomy tau Almira nikah lagi?” tanya Adit.


“Gue rasa Tomy nggak tau. Kecuali elo yang kasih tau ke Tomy,” jawab Herman.


“Masuk, yuk. Gue udah lapar nih,” ajak Herman.


Aditpun ikut bersama dengan teman-temannya untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Adit melihat raut bahagia di wajah Almira. Namun ketika Almira melihat Adit, wajah Almira langsung berubah menjadi pucat. Faisal merasakan ketakutan Almira.


Ketika Adit mendekati Faisal untuk mengucapkan selamat, Faisal membisikkan sesuatu ke Adit.


“Sekarang elo sudah tau siapa Ibu Bos gue,” bisik Faisal.


“Gile loh, grecep,” kata Adit.


“Terpaksa, karena teman lu yang sok Don Juan itu sudah berulang kali mengganggu dan menyakiti Almira. Cuma ini cara satu-satunya melindungi Almira dari Tomy dan Ibunya,” jawab Faisal lalu menepuk-nepuk bahu Adit.


Lalu Aditpun beralih kepada Almira.


“Selamat, ya Mir. Semoga Almira berbahagia dengan Faisal,” ucap Adit.


“Terima kasih,” ucap Almira.


Lalu Aditpun berlalu dari hadapan kedua pengantin itu.

__ADS_1


Akbar dan Amelia datang menghampiri kedua orang tuanya. Mulut mereka belepotan ice cream.


“Bunbun, Albar au ekim ajih,” kata Akbar sambil merajuk.


“Ice cream? Jangan, ya sayang. Nanti batuk dan pilek kalau kebanyakan makan es,” kata Almira.


“Mbak minta tissue basah!” kata Almira kepada pengasuh Akbar.


Pengasuh Akbar memberikan tissue basah kepada Almira. Pelan-pelan Almira membersihkan mulut Akbar dan Amelia satu persatu.


“Jangan makan ice cream lagi, ya! Makan puding aja. Yang nurut sama Tante, nanti malam bobonya Tante bacakan cerita,” kata Almira.


‘Acik…!!!!” seru Akbar dan Amelia.


“Tata Aya butan panggil Ante ajih. Tapi Bun nda,” kata Amelia.


Almira menoleh ke Faisal. Faisal menganggu membenarkan perkataan Amelia.


“Iya, boleh panggil Bunda,” jawab Almira.


Tiba-tiba datanglah Naura sambil makan ice cream.


“Bunbun, Tata Nola mamam ecim,” kata Akbar menunjuk ke Naura yang sedang makan ice cream.


Almira menghela nafas melihat putri sulungnya makan ice cream sambil berjalan.


“Kakak sini,” panggil Almira.


Naura menghampiri Almira.


“Kalau makan jangan sambil jalan-jalan, harus sambil duduk! Jangan makan ice cream di depan Akbar dan Amelia! Nanti adik-adiknya minta ice cream terus,” bisik Almira agar tidak kedengaran oleh Akbar dan Amelia.


“Kakak sudah doa belum sebelum makan?” tanya Almira sambil mengusap rambut Naura.


“Udah,” jawab Naura dengan singkat.


“Pinter, itu namanya anak sholeha,” puji Almira.


Kemudian Naura pergi meninggalkan Almira.


“Sekarang Akbar dan Amelia main sama Mbak, ya! Ayah dan Bunda lagi banyak tamu,” kata Almira.


“Iya, Bunbun,” jawab Akbar.


“Iya, Nda,” jawab Amelia.


Lalu kedua batita kembar itupun pergi diikuti dengan kedua pengasuhnya.


Resepsi pernikahan Almira dan Faisal berakhir jam dua siang. Kini saatnya Almira dan Faisal beserta dengan orang tua dan wali mereka untuk makan siang bersama.


“Almira, nanti kamu pulang kemana?” tanya Ibu Rosita di sela-sela acara makan siang bersama.


“Langsung ke rumah Mas Faisal, Mah,” jawab Almira.


“Kalian tidak bulan madu?” tanya Ibu Lia.


“Tidak, Bi. Kasihan anak-anak kalau ditinggalin bulan madu,” jawab Almira.

__ADS_1


“Anak-anak titipkan saja di rumah Mamah, kalau kalian mau berbulan madu,” kata Ibu Rosita.


“Bulan madunya kapan-kapan saja, Mah. Saya mau di rumah saja, berkumpul dengan anak-anak,” jawab Almira.


“Ya, sudah kalau kamu tidak mau bulan madu. Tidak apa-apa,” kata Ibu Rosita.


Almira memang sengaja tidak pergi berbulan madu karena ingin menikmati perannya sebagai istri dan juga sebagai ibu. Peran sebagai ibu yang selama ini Almira impi-impikan sekarang terwujud. Walaupun hanya sebagai ibu sambung namun Almira bersyukur Allah memberikan kepercayaan kepadanya dengan menitipkan tiga orang anak sambung kepadanya.


Ketika Almira sedang makan Akbar dan Amelia menghampiri Almira.


“Nda…a,” kata Amelia sambil membuka mulutnya minta disuapi oleh Almira.


Almirapun menyuapi Amelia. Kemudian Akbarpun sama minta disuapi oleh Almira.


“Bunbun….a,” kata Akbar.


Almirapun makan sambil menyuapi kedua anak kembarnya.


“Kakak Naura mau makan lagi?” tanya Almira kepada putri sulungnya yang sedang melihat kedua adik kembarnya minta disuapi.


“Nggak masih kenyang,” jawab Naura sambil cemberut seperti biasa.


“Ini makanannya masih banyak. Ada yang Kakak mau nggak?” tanya Almira.


Naura berdiri lalu mendekati Almira. Ia memperhatikan makanan yang tersaji di atas meja.


“Mau itu.” Naura menunjuk ayam kodok.


“Pakai nasi nggak?” tanya Almira.


“Nggak, pakai kentang goreng aja,” jawab Naura.


Almira menaruh dua potong ayam kodok ke atas piring lalu di beri kentang goreng dan sedikit sayur.


“Ini, Kak.” Almira memberi piring berisi ayam kodok kepada Naura.


“Nda, Amel uga au taya Tata Nola,” kata Amel ketika melihat isi piring Naura.


“Tadi barusan Amelia makan makanan seperti Kakak Naura,” kata Almira.


Amelia berpikir sejenak.


“Ini taya Tata Nola?” tanya Amelia sambil menunjuk ke mulutnya.


“Iya sayang,” jawab Almira.


“A ajih, Nda,” kata Amelia sambil membuka mulutnya.


Almira langsung menyuapi batita kembarnya secara bergantian.


Faisal tersenyum melihat istrinya yang kerepotan mengurus ketiga buah hatinya.


Setelah selesai acara makan-makannya, Almira dan Faisal beserta dengan ketiga anak mereka pulang ke rumah Faisal.


Almira tertegun melihat rumah mewah di hadapannya. Ini pertama kalinya Almira menginjakan kakinya di rumah suaminya.


“Selamat datang di rumah kami, Bunda. Semoga Bunda betah tinggal bersama dengan kami,” ucap Faisal sambil merangkul bahu Almira.

__ADS_1


Ya, di sinilah Almira akan melalui pengalaman barunya menjadi seorang istri dan seorang ibu dari ketiga anak sambungnya. Semoga Allah memudahkan dan meridhoi setiap langkahnya. Aamiin.


__ADS_2