Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
29. Resign


__ADS_3

Setelah mendengarkan cerita dari Faisal, Pak Rahmat langsung menghubungi Ibu Giatri dan mengancam akan melaporkan Tomy kepada pihak berwajib atas tindakan kekerasan terhadap Almira.


Setelah selama dua hari Almira tidak masuk kerja, hari ini Almira kembali masuk kerja. Ketika melewati lobby kantor tiba-tiba ada yang memanggilnya.


“Almira.”


Almira menoleh ke belakang, Ibu Giatri berjalan menghampiri Almira.


“Ada keperluan apa Ibu Giatri kemari?” tanya Almira dengan muka yang tidak bersahabat.


“Almira, kenapa kamu memanggil Mamah dengan sebutan seperti itu?” kata Ibu Giatri.


“Ada keperluan apa Ibu Giatri menemui saya?” tanya Almira sekali lagi.


“Maafkan Tomy ya Almira. Dia berbuat seperti itu karena dia cinta sama kamu. Dia ingin rujuk denganmu,” kata Ibu Giatri.


“Tolong Ibu bilang ke anak kesayangan Ibu itu! Daripada sibuk mengganggu saya lebih baik urus saja Tita dan anak yang di dalam kandungan Tita! Mereka lebih membutuhkan perhatian anak kesayangan Ibu!” seru Almira.


“Mamah tidak mau punya menantu seperti Tita. Dia berbeda denganmu,” kata Ibu Giatri.


“Terserah, toh anak Ibu sendiri lebih memilih menyeleweng dengan sekretarisnya daripada menjadi suami saya yang setia,” kata Almira.


“Almira, kasih Tomy kesempatan sekali lagi.” Ibu Giatri memohon.


“Saya sudah tidak ingin kembali kepada anak Ibu.”


“Permisi saya harus kerja. Sebentar lagi atasan saya datang.”


Almira langsung pergi meninggalkan Ibu Giatri.


“Almira,” panggil Ibu Giatri.


Namun Almira mengabaikan panggilan Ibu Giatri.


Sesampai di ruang kerjanya Almira langsung membantingkan tubuhnya ke atas kursi .


“Dasar, ibu dan anak sama-sama pengganggu,” gerutu Almira.


Lalu Almira menyalakan komputernya untuk mengetik sesuatu. Sudah beberapa hari ini ia memikirkan hal ini dan setelah kedatangan Ibu Giatri ke kantornya, tekadnya bertambah bulat.


“Mbak Almira.” Ujang OB mendekati meja Almira.


“Apa??” jawab Almira dengan kesal.


“Galak amat, Mbak. Mbak lagi PMS, ya?” kata Ujang OB.

__ADS_1


“Lagi kesel tau,” kata Almira sambil terus fokus ke layar monitor.


Ujang OB menaruh tote bag ke atas meja Almira.


Almira menoleh ke samping.


“Apa itu, Jang?” tanya Almira sambil menunjuk tote bag dengan dagunya.


“Ibu tadi menitipkan ini ke Mbak Reni. Katanya buat Mbak Almira,” jawab Ujang.


“Ambil lagi! saya tidak mau menerima apapun dari Ibu tadi dan Pak Tomy!” seru Almira.


“Yah, masa harus dibuang sih Mbak? Kan sayang,” kata Ujang.


“Terserah kamu mau diapakan! Pokoknya saya tidak mau menerima barang pemberian mereka,” kata Almira sambil mengetik.


“Asyik…terima kasih, ya Mbak,” ucap Ujang lalu pergi meninggalkan Almira.


Ketika hendak masuk ke dalam liff, Ujang berpas-pasan dengan Faisal.


“Ada apa, Jang? Kelihatannya senang banget?” tanya Faisal.


“Ini Pak, Mbak Almira tidak mau menerima bingkisan dari Ibu-Ibu. Daripada dibuang, udah aja buat saya,” jawab Ujang OB.


“Ibu-Ibu siapa, Jang?” tanya Faisal bingung.


Apa jangan-jangan Ibunya Tomy? Tanya Faisal di dalam hati.


“Ya sudah. Terusin lagi kerjanya!” kata Faisal.


“Baik, Pak.”


Ujangpun masuk ke dalam liff


Faisal menghampiri meja Almira.


“Selamat pagi Almira,” sapa Faisal.


“Pagi, Mas.”


“Bagaimana tanganmu, udah mendingan belum?” tanya Faisal.


“Sudah, Mas.” Almira memperlihatkan tangannya yang bekas dicengkram oleh Tomy.


“Alhamdullilah kalau sudah agak mendingan. Kalau masih terasa sakit istirahatkan dulu aja. Kerjanya sedikit-sedikit aja,” kata Faisal.

__ADS_1


“Iya, Mas.”


“Mas ke ruangan Mas dulu, ya Mir,” pamit Faisal.


“Ya, Mas.”


Setelah Faisal masuk ke dalam ruangannya Almira meneruskan ketikannya. Tadi sewaktu Faisal datang Almira sempat menutup filenya sehingga Faisal tidak bisa melihat apa yang sedang Almira kerjakan.


Setelah selesai Almira memprint hasil ketikannya lalu dimasukan ke dalam amplop. Almira membawa amplop itu menuju ke ruangan Faisal. Sebelum mengetuk pintu ruangan Faisal, Almira mengucapkan “Bismilahirohmanirohim.”


Barulan Almira mengetuk pintu ruangan Faisal.


“Masuk,” jawab Faisal.


Almira masuk ke dalam ruangan Faisal dan berdiri di depan meja Faisal.


“Ada apa, Mir?” tanya Faisal.


Almira menaruh amplop diatas meja Faisal.


“Apa ini, Mir?” tanya Faisal kemudian mengambil amplop itu dan membacanya.


Faisal menghela nafasnya setelah membaca isi surat itu.


“Kenapa kamu mau resign?” tanya Faisal.


“Selama saya masih di sini pasti akan sering terjadi keributan, Mas,” jawab Almira.


“Terus apa kamu pikir dengan keluarnya kamu dari kantor ini Tomy dan Ibunya akan berhenti mengganggumu?” tanya Faisal.


Almira diam tidak menjawab pertanyaan Faisal


“Kamu mau kerja apa setelah resign dari sini?” tanya Faisal lagi.


“Saya mau meneruskan usaha saya yang dulu. Membuat kue dan dititipkan ke toko-toko kue,” jawab Almira.


“Bagus, saya setuju dengan idemu. Itu berarti kamu memiliki jiwa wirausaha,” kata Faisal.


“Pertanyaan saya, apakah dengan kamu resign dari sini Tomy akan berhenti mengganggumu?”


Almira diam tak menjawab pertanyaan Faisal.


“Atau kamu mau menyembunyikan diri di tempat yang kemarin?”


“Itu lebih berbahaya lagi kalau sampai Tomy bisa menemukan keberadaanmu. Karena kamu jauh dari perlindungan Om Rahmat,” kata Faisal.

__ADS_1


“Terus saya harus bagaimana, Mas?” tanya Almira bingung.


__ADS_2