Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
46


__ADS_3

Faisal baru saja selesai sholat magrib berjamaah bersama dengan Almirah, tiba-tiba terdengar dering telepon di ponselnya. Ketika dilihat ponselnya ada video call dari Naura. Faisal langsung menerima video call dari Naura.


“Assalamualaikum,” ucap Faisal.


“Ayah……,” teriak Akbar dan Amelia dari seberang sana dengan wajah berseri.


“Hei….Ayah mengucap salam kok tidak dibalas salam Ayah,” tegur Faisal kepada kedua batitanya.


“Walaicumcalam, Ayah,” jawab Akbar dan Amelia.


“Nah begitu dong kalau ada yang mengucapkan salam harus dibalas salamnya,” kata Faisal.


“Ayah, Bunbun ana?” tanya Akbar.


“Ada tuh, baru selesai sholat magrib. Lagi melipat mukenah,” jawab Faisal sambil menunjuk ke arah tempat tidur Almira.


“Akbar dan Amelia sudah sholat magrib belum?” tanya Faisal.


Akbar dan Amelia menjawab dengan menggeleng kepala.


“Kenapa tidak sholat?” tanya Faisal.


“Tata Nola aja yang colat,” jawab Akbar.


“Eh, nggak boleh begitu! Kalau Kakak Naura sholat Akbar dan Amelia juga harus ikut sholat! Kan sudah Bunda belikan mukenah dan sarung untuk Amelia dan Akbar agar bisa ikut sholat,” seru Faisal.


“Iya, Aya,” jawab Akbar dan Amelia.


“Ndanya ana, Aya? Amel mau bicala cama Nda,” kata Amelia.


“Ada.”


“Bun, nih dicariin sama anak-anak.” Faisal memberikan ponselnya kepada Almira.


Almira memegang ponsel Faisal lalu menyapa batita kembarnya.


“Assalamualaikum,” ucap Almira.


“Walacumcalam, Nda,” ucap Amelia.


“Walaicumcalam Bunbun,” ucap Akbar.


“Nda, kata Tata Nda acit kepalanya?” tanya Amelia.


“Iya, sayang. Bunda jatuh dan kepalanya terbentur jadi deh sakit kepalanya,” jawab Almira.


“Akbal mau ke lumah cakit liat Bunda tapi cama Tata ndak boyeh. Kata Tata ade bayi ndak oyeh macuk lumah cakit!” kata Akbar.


Almira tersenyum mendengar Naura menyebut adik-adiknya dengan sebutan adik bayi.


“Akbal bukan ade bayi,” kata Akbar yang protes.


“Amel uga bukan ade bayi,” kata Amel.


“Kalau bukan bayi kenapa masih pakai pospack?” tanya Naura yang tiba-tiba nongol di belakang adik-adiknya.


“Kakak sudah sholat magrib belum?” tanya Almira.


“Sudah, Bunda,” jawab Naura.


“Akbar dan Amelia di rumah saja dengan Kakak Naura. Bunda nggak lama kok di rumah sakitnya. Nanti kalau Bunda sudah sembuh kita jalan-jalan liburan. Kakak Naura kan libur sekolah,” kata Almira.


“Acik alan-alan,” teriak Akbar dan Amelia.


“Liburan kemana, Bun?’ tanya Naura.

__ADS_1


“Kemana saja yang kalian mau, tapi jangan jauh-jauh,” jawab Almira.


“Ayah boleh ikut nggak, Bun?” tanya Faisal yang sedang duduk di sebelah Almira.


“Boleh. Kan Ayah yang bayarin semuanya,” jawab Almira.


“Iya deh, liburannya Ayah yang bayarin,” ujar Faisal.


“Bunbun, Akbal mau bobo di kamal Bunbun, boyeh?” tanya Akbar.


“Boleh, sayang,” jawab Almira.


“Amel uga bobo di kamar Nda,” kata Amel.


“Memangnya kalian berani tidur berdua di kamar Bunda?” tanya Naura.


“Belani,” jawab Akbar.


“Ya, Mel ya.” Akbar meminta dukungan pada saudara kembarnya.


“Iya, belani,” jawab Amelia.


“Alah, ntar malam juga pada nangis cari Bunda sama Mbak,” kata Naura.


“Bobonya ditemenin sama Kakak, jadi Akbar dan Amelianya tidak takut,” kata Almira.


“Tuh Tata kata Bunbun uga curuh nemenin Albal dan Amel bobo,” sahut Akbar.


“Iya, ah…cerewet amat,” jawab Naura.


“Eh…Kakak tidak boleh bicara seperti itu!” tegur Almira.


“Iya, Bunda,” jawab Naura dengan menyesal.


“Iya Nda,” jawab Amelia.


“Iya Bunbun,” jawab Akbar.


“Kakak jangan lupa sebelum tidur sholat isya dulu, ya!” kata Almira kepada Naura.


“Iya, Bunda,” jawab Naura.


“Sudah dulu, ya video callnya. Besok video call lagi. Baterai ponsel Ayah sudah habis,” kata Almira.


“Iya, Bunda.”


“Iya, Nda.”


“Iya, Bunbun.”


“Assalamualaikum,” ucap Almira.


“Waalakumsalam.”


“Walaicumcalam.”


Almirapun mengakhiri video callnya. Almira mengembalikan ponselnya kepada Faisal.


“Baterai ponselnya sudah habis. Di charger dulu ponsel,” kata Almira.


“Iya, Bunda,” jawab Faisal ketika menerima ponsel dari Almira.


Faisal mencharger ponselnya dan diletakkan di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidur Almira.


“Masih ada wudhu? Kita sholat isya dulu,” kata Faisal.

__ADS_1


“Iya masih, Mas,” jawab Almira.


Ternyata Almira cukup lama juga video call bersama anak-anaknya sehingga tak terasa sudah masuk waktu sholat isya.


Almira memakai mukenah, ia sholat di atas tempat tidur. Sedangkan Faisal menjadi imamnya berdiri di depan tempat tidut Almira, lalu mereka sholat isya berjamaah.


Setelah selesai sholat isya Almira sudah mengantuk, mungkin karena pengaruh dari obat.


“Mas, Almira sudah ngantuk,” kata Almira sambil menguap.


“Tidur saja. Mas juga sudah ngantuk,” jawab Faisal.


Faisal mengatur posisi tempat tidur Almira, agar istrinya nyaman tidurnya. Setelah istrinya merasa nyaman tidurnya kemudian Faisal mengunci pintu kamar serta mematikan lampu kamar dan menutup hordeng pembatas yang mengarah ke arah pintu. Setelah semua sudah cukup aman, Faisal pun membaringkan tubuhnya di atas extra bed yang ia pesan. Hari ini cukup melelahkan bagi Faisal sehingga tak lama  kemudian Faisal langsung tidur dengan pulas.


*****


Faisal membangunkan istrinya yang tidur dengan lelap. Faisal agak kesulitan membangunkan istrinya, tidak biasanya Almira sulit dibangunkan. Mungkin karena salah satu obatnya mengandung h****n sehingga istri bisa tidur dengan nyenyak tanpa merasakan kesakitan.


“Mir….bangun, Mir.” Faisal menepuk-nepuk bahu istri.


Namun Almira tidak bangun juga.


“Almira sayang, bangun sayang. Kita sholat subuh dulu,” kata Faisal.


Almira masih belum juga bangun. Lalu Faisal mencium-cium pipi Almira. Merasa ada yang mencium pipinya Almira langsung terbangun. Ketika Almira membuka matanya, Faisal menyambutnya dengan senyuman.


“Bangun sayang, sudah waktunya sholat subuh,” kata Faisal.


“Jam berapa, Mas?” tanya Almira.


“Jam lima kurang sepuluh menit,” jawab Faisal.


Almira langsung bangun dari tempat tidurnya.


“Mas, Almira mau ke kamar mandi,” kata Almira.


Faisal membuka pembatas tempat tidur.


“Ayo.” Faisal memapah istrinya menuju ke kamar mandi.


Setelah Almira keluar dari kamar mandi, Faisal memapah istrinya kembali ke tempat tidur lalu mereka sholat subuh berjamaah. Selesai sholat subuh Almira menonton tv dari tempat tidurnya, sedangkan Faisal menyibukkan diri dengan laptopnya.


Ketika langit di luar mulai terlihat terang, Faisal pamit kepada istrinya untuk membeli sarapan pagi.


“Mas keluar dulu, ya. Mau beli sarapan,” kata Faisal.


“Almira juga mau sarapan belikan juga,” ujar Almira.


“Loh, kamu kan nanti dikasih sarapan dari rumah sakit. Kemarin sore Mas sudah protes tentang makanannya yang tidak berasa garam dan gula sama sekali,” jawab Faisal.


“Nggak mau, nanti rasanya juga nggak enak,” kata Almira dengan muka yang cemberut dan tangan dilipat di dada persis seperti Naura lagi cemberut. Mungkin karena like daughter like mother, bukan like mother like daughter.


“Iya, nanti Mas belikan. Kamu mau sarapan dengan apa?” tanya Faisal.


“Almira mau bubur ayam pakai sate telur puyuh dan sate ati ampela,” jawab Almira dengan senang.


Faisal kaget mendengar pesanan istrinya, karena istrinya tidak biasa makan  bubur ayam dengan toping segitu banyaknya.


“Ya sudah nanti Mas belikan,” kata Faisal.


“Asyik terima kasih, Mas,” ucap Almira.


"Sama-sama sayang," ucap Faisal.


Faisalpun keluar dari kamar menuju ke kantin rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2