Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
31. Di Booking Dulu.


__ADS_3

Tak lama kemudian datanglah Pak Rahmat ke ruang tamu. Faisal langsung berdiri dam menyalami Pak Rahmat.


Almira yang tadi hanya duduk di ruang tv langsung merapatkan diri ke tembok yang menempel dengan ruang tamu. Nina melihat Almira sedang menguping pembicaraan Pak Rahmat dengan Faisal dari balik tembok jadi ikut menguping juga.


“Ada keperluan apa Faisal mencari saya?” tanya Pak Rahmat langsung.


“Saya datang ke sini untuk menyampaikan niat saya yaitu melamar keponakan Om yang bernama Almira,” jawab Faisal.


“Melamar Almira?” tanya Pak Rahmat sekali lagi.


“Iya betul Om,” jawab Faisal.


“Almira tahu hal ini?” tanya Pak Rahmat.


“Sudah tau, Om,” jawab Faisal.


“Terus jawabannya apa?” tanya Pak Rahmat.


“Almira minta waktu, Om,” jawab Faisal.


“Apa yang membuatmu ingin melamar Almira?” tanya Pak Rahmat.


“Saya ingin melindungi Almira, Om. Dan saya ingin Almira menjadi pendamping saya dan menjadi ibu anak-anak saya,” jawab Faisal.


Sementara di ruang keluarga Ibu Lia membawa nampan yang berisi dua buah cangkir berisi air teh. Ibu Lia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat Almira dan Nina sedang  asyik menguping pembicaraan Faisal dengan Pak Rahmat. Lalu Ibu Lia membawa minuman itu ke ruang tamu. Ibu Lia menyajikan minuman itu di meja ruang tamu.


“Silahkan diminum dulu, Faisal,” kata Ibu Lia.


“Terima kasih, Tante. Saya jadi ngerepotin Tante,” ucap Faisal.


“Nggak ngerepotin kok. Cuma air teh saja,” jawab Ibu Lia.


Lalu Faisal meminum yang telah disediakan oleh Ibu Lia.


“Kapan kamu akan melamar Almira secara resmi?” tanya Pak Rahmat.


“Saya maunya secepatnya, Om. Menikahi Almira setelah masa iddha nya selesai,” jawab Faisal.


Mendengar jawaban Faisal, Pak Rahmat manggut-manggut tanda mengerti.


“Mah, kapan masa iddha Almira selesai?” tanya Pak Rahmat ke Ibu Lia yang sedang duduk di samping Pak Rahmat.


“Kalau tidak salah minggu depan,” jawab Ibu Lia.


“Faisal dengar sendiri kan? Masa iddha Almira akan berakhir minggu depan,” kata Pak Rahmat.

__ADS_1


“Baik, Pak. Mudah-mudahan Almira segera memberikan jawaban, seingga saya bisa meminang Almira secepatnya,” kata Faisal.


“Kalau begitu saya pamit pulang,” kata Faisal.


“Loh kok buru-buru? Tidak makan malam dulu,” kata Ibu Lia.


“Tidak, Tante. Terima kasih. Lain kali saja,” jawab Faisal.


“Tunggu sebentar. Tante panggil Almira dulu.” Ibu Lia masuk ke dalam rumah untuk memanggil Almira.


“Almira, Faisal mau pamit pulang. Temui dulu, ya,” panggil Ibu Lia.


“Ya, Bi.”


Masih dengan wajah cemberut Almira menemui Faisal.


“Mir, saya pamit pulang, ya,” kata Faisal dengan lembut.


“Iya. Hati-hati di jalan,” kata Almira dengan judes.


“Udah dong marahnya. Kasihan Faisal kalau dimusuhi kamu terus,” kata Ibu Lia sambil mengelus punggung Almira.


“Nggak apa-apa kok, Tante,” kata Faisal.


“Waalaikumsalam,” jawab Almira masih dengan nada judes.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Rahmat dan Ibu Lia.


Faisalpun pergi meninggalkan rumah Pak Rahmat.


“Teh, itu Mas Faisalnya nggak di dadahin?” tanya Nina.


“Nggak, males,” jawab Almira ketus.


Almira hanya memandangi mobil Faisal yang pergi meninggalkan rumah Pak Rahmat.


****


Almira membantingkan tubuhnya keatas kasur. Tadi ia mendengar pembicaraan Faisal dengan Pamannya dan secara terang-terangan Faisal mengutarakan niatnya untuk melamar Almira. Almira hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Ia tidak ingin lagi salah dalam mengambil keputusan.


Almira cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi karena adzan magrib sudah berkumandang. Setelah selesai mandi dan berwudhu Almira menggunakan mukenahnya dan menjalankan sholat magrib. Setelah selesai sholat magrib ia tumpahkan semua kegelisannya kepada Allah SWT. Ia tidak ingin salah lagi dalam memilih pasangan dan gagal dalam berumah tangga seperti dahulu.


Sebenarnya Almira ingin menerima pinangan Faisal dan baginya tidak masalah Faisal memiliki banyak anak. Namun yang Almira takutkan jika Faisal menginginkan anak darinya dan bagaimana jika ia tidak dapat memberikan anak kepada Faisal? Ia takut Faisal akan kecewa.


Apa sebaiknya Mas Faisal diberitahu saja? Jika Mas Faisal tidak mau menerima masih bisa mundur. Sebelum menuju jenjang yang lebih serius lagi. Bisik Almira di dalam hati.

__ADS_1


Almira mengambil ponselnya dari dalam tas lalu ia mulai mengetik pesan untuk Faisal.


Assalamualaikum, Mas. Besok malam ada waktu tidak? Ada yang ingin saya bicarakan.


Send.


Dengan cepat pesan yang terkirim langsung dibaca oleh Faisal. Lalu tiba-tiba terdengar suara dering telepon masuk. Di layarnya tertulis nama Mas Faisal.


Almira menghela nafas.


Ini orang bukannya balas pesannya malah nelepon, gerutu Almira dalam hati.


Almira menjawab telepon dari Faisal.


“Assalamualaikum,” ucap Almira.


“Waalaikumsalam. Udah nggak marah?” jawab Faisal langsung.


“Masih. Kenapa sih  Mas bilang ke Mamang? Malu tau. Lagipula saya belum jawab lamaran Mas Faisal,” kata Almira.


“Sengaja dibooking dulu. Supaya nggak diserobot orang,” jawab Faisal.


“Memang mau bicara apa? Bicarakan saja sekarang.”


“Nggak ah, besok saja.”


“Ya, sudah nggak apa-apa. Bilang saja kalau mau makan malam berdua dengan saya.”


“Siapa yang mau makan malam? Saya kan bilangnya cuma mau bicara berdua.”


“Memangnya kamu mau bicara dengan perut lapar?”


“Ya, nggak mau Mas.”


“Makanya kita bicaranya sambil makan malam.”


“Ya sudah, Almira cuma mau menyampaikan itu saja. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam. Jangan lupa mimpikan Mas dan anak-anak, ya!”


Kemudian Faisal mematikan teleponnya.


Iiihhh ini orang maksudnya apa, coba? Gerutu Almira dalam hati.


Matanya memandang ponsel dengan kesal namun bibinya tersenyum sumeringah

__ADS_1


__ADS_2