Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
44. Di Rumah Sakit.


__ADS_3

Faisal dan Naura memasuki ruang IGD khusus untuk wanita. Faisal mencari Almira diantara para pasien wanita yang sedang terbaring di atas tempat tidur di ruang IGD. Beruntung karena pasien tidak terlalu banyak sehingga


Faisal dengan mudah menemukan Almira.


Faisal mendekati istrinya yang terbaring diatas brangkar.


“Almira,” panggil Faisal sambil menyentuh tangan istrinya.


Almira membuka matanya lalu menoleh ke Faisal.


“Mas,” lirih Almira seperti menahan sakit.


“Sakit sekali kepalanya?” tanya Faisal.


Almira menjawab hanya dengan anggukan.


“Nih, ada yang mengkhawatikan Bundanya,” kata Faisal lalu menengok ke belakang karena Naura ngumpet di belakang punggung ayahnya.


Sedikit demi sedikit Naura keluar dari tempat persembunyiannya.


“Kakak, sini sayang,” panggil Almira.


Naura mendekati Almira. Almira melihat wajah Naura seperti habis menangis.


“Kakak kenapa menangis?” tanya Almira.


“Kakak takut Bunda meninggal,” jawab Naura dengan berlinang air mata.


“Bunda nggak apa-apa kok. Kepala Bunda hanya sakit, nanti juga hilang sakitnya,” kata Almira.


Naura langsung memeluk Almira yang sedang berbaring.


“Bunda jangan meninggal! jangan tinggalkan Kakak dan Adik-Adik!” kata Naura sambil menangis.


Almira mengusap rambut Naura.


“Bunda tidak akan tinggalkan Kakak, Akbar, Amelia dan Ayah. Bunda masih ingin hidup bersama Kakak, Akbar, Amelia dan Ayah. Kakak jangan menangis lagi. Bunda tidak apa-apa, kok.”


Naura langsung melepaskan pelukannya.


“Janji, ya. Bunda tidak akan meninggalkan Kakak, Akbar, Amelia dan Ayah!” seru Naura.


“Bunda janji,” jawab Almira sambil tersenyum.


“Sudah Kakak jangan nangis lagi. Matanya jadi bengkak,” kata Almira sambil mengusap air mata di pipi Naura.


Dua orang suster datang membawa tempat tidur khusus untuk VVIP.


“Ibu Almira, Ibu pindah ke ruang rawat inap, ya,” kata suster.


“Kamarnya sudah ada?” tanya Faisal kepada suster.


“Sudah, Pak. Kalau ruang VVIP ada yang kosong,” jawab suster.


Faisal dan Naura bergeser ke pinggir, memberi jalan kepada suster untuk mendorong brangkar Almira ke samping lalu mendorong tempat tidur ke samping brangkar dan mengaturnya agar sejajar dengan brangkar.


“Ibu pindah ke tempat tidur!” kata suster.


Faisal menghampiri suster.


“Biar saya gendong istri saya,” kata Faisal.


“Tidak usah, Pak! Bisa kok Ibunya geser tubuhnya sedikit demi sedikit,” jawab suster.


Sambil berbaring Almira menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya tubuh Almira sudah berpindah ke atas tempat tidur. Suster langsung menutup pinggiran tempat tidur agar Almira tidak terjatuh. Setelah itu

__ADS_1


suster mendorong tempat tidur ke luar dari ruang IGD. Melihat Almira keluar dari ruang IGD, semua keluarga Almira mengikuti dari belakang menuju ke ruang rawat inap.


Akhirnya Almira sampai di ruang rawat inap. Setelah tempat tidur di masukkan ke dalam ruang rawat inap dan menempatkan tempat tidur di tempat semestinya kedua suster itu pergi meninggalkan ruang rawat inap Almira.


Semua orang mendekati Almira.


“Bagaimana keadaanmu sekarang, Mir?” tanya Ibu Lia.


“Kepala Almira masih sakit, Bi,” jawab Almira.


“Yang sabar, ya. Namanya juga cobaan,” kata Ibu Lia.


“Iya, Bi.”


“Semoga selama observasi tidak terjadi apa-apa,” kata Ibu Rosita.


“Aamiin,” ucap semua orang.


“Kakak, pulang sama Pak Ali, ya! Sekalian Pak Ali mau Ayah suruh ambilkan baju untuk ganti Bunda dan Ayah,” kata Faisal.kepada Naura.


“Nggak mau! Kakak mau di sini sama Bunda,” jawab Naura sambil cemberut.


“Eh…nanti kashan Akbar dan Amelia cari Bunda dan Kakak,” ujar Faisal.


“Biarin aja, kan ada Mbak,” jawab Naura acuh.


“Nanti malam-malam mereka nangis,” kata Faisal.


“Ya sudah, tapi pulangnya nanti lagi. Kakak masih mau sama Bunda,” jawab Naura.


“Iya. Sekarang ayah mau menyuruh Pak Ali ke rumah. Sekalian Ayah sholat di masjid,” kata Faisal ke Naura.


Faisal menghampiri Almira.


“Bunda, Ayah ke Mesjid dulu sama Kakak. Bunda sholatnya sambil tiduran saja, wudhunya sambil tayamum,” kata Faisal.


“Mah, titip Almira dulu. Faisal mau sholat di masjid,” kata Faisal kepada Ibu Rosita.


“Iya,” jawab Ibu Rosita.


Pak Rahmat dan Rafi tidak ikut ke masjid, karena sebelum ke rumah sakit mereka sempat sholat dulu di masjid.


“Ayo, Kak. Kita sholat dulu. nanti keburu habis waktunya,” ajak Faisal.


“Kakak lapar, Ayah. Kakak belum makan.” Naura bangkit dari tempat


duduknya dengan lemas.


Faisal merangkul bahu anak sulungnya.


“Nanti pulang dari masjid kita beli makanan. Semua orang juga belum makan,” kata Faisal.


“Asyik…,” seru Naura dengan kegirangan.


Lalu merekapun pergi meninggalkan kamar rawat inap menuju ke masjid. Setelah sholat di masjid, sesuai dengan janjinya Faisal membelikan makanan untuk Naura. Sekarang mereka sedang berada di kantin rumah sakit.


“Kakak mau makan apa?” tanya Faisal.


Naura memperhatikan makanan berjajar di depannya.


“Kakak mau nasi timbel,” jawab Naura.


Akhirnya Faisal memesan nasi timbel untuk semua orang yang berada di kamar Almira. Biar praktis dimakannya.


Naura mengambil minuman dari dalam showcase cooler.

__ADS_1


“Ayah, kakak mau ini.” Naura menunjukkan teh dalam kemasan botol plastik dengan berbagai macam rasa.


“Iya boleh. Kakak sekalian ambilkan air mineral yang banyak,” jawab Faisal.


Naura membawa semua minuman yang ia ambil ke  meja kasir. Kemudian Faisal membayar semua makanan yang ia pesan beserta minuman.


Faisal dan Naura menunggu makanan yang dipesan. Tak lama kemudian pegawai kantin datang membawa makanan pesanan mereka. Lalu Faisal dan Naura kembali ke kamar inap Almira.


“Assalamualaikum,” ucap Faisal ketika masuk ke dalam kamar rawat inap.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang berada di dalam kamar itu.


Di dalam kamar Almira hanya ada Ibu Rosita, Ibu Lia dan Pak Rahmat. Sedangkan Rafi dan Dini sudah kembali ke kantor. Dini walaupun bekerja di perusahaan milik orang tuanya, namun tetap saja ia harus memberikan contoh yang baik kepada karyawan yang lain.


Faisal menaruh dus-dus yang berisi nasi timbel beserta botol-botol air mineral  di atas meja sofa.


“Mang Bi, makan dulu,” kata Faisal.


“Terima kasih. Mamang dan Bibi jadi merepotkan Faisal,” ucap Pak Rahmat.


“Faisal tidak merasa direpotkan,” jawab Faisal.


“Mah, makan dulu,” kata Faisal kepada Ibu Rosita.


“Iya, ini baru mau makan,” jawab Ibu Rosita lalu membuka dus makanan.


Faisal menghampiri Almira yang sedang berbaring di tempat tidur.


“Almira makan dulu, ya. Mas suapi,” kata Faisal.


“Mas duluan saja makannya. Almira nanti setelah Mas selesai makan,” jawab Almira.


“Kamu duluan yang makan. Kamu kan lagi sakit.” Faisal memencet remote tempat tidur Almira lalu mengatur tempat tidur Almira.


“Segini cukup, nggak?” tanya Faisal.


“Cukup, Mas,” jawab Almira.


“Pusing nggak kepalanya?” tanya Faisal dengan cemas.


“Nggak pusing, hanya sakit kepalanya,” jawab Almira.


“Sabar, ya. Nanti juga hilang rasa sakitnya,” hibur Faisal.


Kemudian Faisal menyuapi Almira. Almira mengunyah makannyanya dengan perlahan. Pak Rahmat melihat Faisal sedang menyuapi Almira dengan telaten.


Alhamdullilah, Almira mendapatkan suami yang sayang kepadanya, ucap Pak Rahmat di dalam hati.


Setelah menghabiskan makannya, Naura menghampiri Faisal.


“Yah, biar Kakak yang suapi Bunda. Ayah makan dulu,” kata Naura.


“Sama Ayah saja, Kakak selesaikan dulu makannya,” jawab Faisal.


“Sudah habis makanannya. Tuh kotaknya Kakak taruh di sebelah tong sampah.” Naura menunjuk kearah tong sampah.


“Ya sudah, kalau Kakak mau suapi Bunda.” Faisal memberikan kotak nasi Almira ke Naura lalu Faisal pindah duduknya ke kursi yang lain.


Naura menyuapi Bunda sambungnya dengan berhati-hati. Baru saja makan beberapa suap Almira sudah tidak mau makan lagi.


“Sudah ah, Kak. Perut Bunda mual pengen muntah,” kata Almira.


Naura menyimpan kotak makanan di atas nakas. Lalu memberikan Almira air minum.


“Terima kasih ya, Kak. Kakak sudah suapi Bunda,” ucap Almira.

__ADS_1


“Sama-sama, Bunda,” jawab Naura.


__ADS_2