Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
63. Tamat.


__ADS_3

Seorang gadis cantik berusia tiga tahun melambaikan tangannya ke arah mobil APV premium yang perlahan meninggalkan halaman rumah.


“Dadah Kakak, dadah Mas Akbal, dadah Mbak Amelia…….”


Gadis itu terus saja melambaikan tangannya hingga mobil itu menghilang dari pandangan mata.


“Najla, ayo kita masuk.” Almira mengulurkan tangannya.


Najla menghampiri Bundanya.


“Unda, Najla mau secolah sepelti Mas Akbal dan Mbak Amelia,” kata Najla dengan manja.


“Mau sekolah?” tanya Almira.


“Iya, Unda,” jawab Najla.


Almira mengusap lembut rambut Najla.


“Nanti ya, kalau Najla sudah besar. Sekarang Najla di rumah saja main sama Bunda dan Ade Iqbal,” jawab Almira.


“Kita mandi dulu, yuk! Sebentar lagi Ade Iqbal bangun,” ajak  Almira.


Najla langsung masuk ke dalam rumah, menuju ke kamarnya untuk mandi bersama Bundanya. Setelah bersih dan wangi, Najla ikut bersama Almira menuju ke kamar Almira. Di dalam kamar nampak Faisal tidur-tiduran sambil mengajak main seorang bayi. Bayi itu nampak senang diajak main oleh Ayahnya.


“Eh, Ade Iqbal sudah bangun.” Almira menghampiri Iqbal yang sedang bermain di atas tempat tidur orang tuanya.


“Kita mandi dulu, yuk. Teteh Najla sudah mandi.” Almira menggendong bayi berusia dua bulan.


“Ayah siapkan dulu air mandinya.” Faisal langsung bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk Iqbal.


Almira menyusui Iqbal terlebih dahulu, sambil menunggu Faisal menyiapkan air untuk memandikan Iqbal. Sedangkan Najla asyik nonton film kartun di televisi yang berada di kamar. Setelah air mandinya siap Almira masuk ke dalam kamar mandi untuk memandikan Iqbal.


Selesai dimandikan Almira meletakkan Iqbal di atas tempat tidurnya untuk di pakaikan baju.


“Ayah mau ganti baju dulu sudah siang.” Faisal bangun dari tempat tidur menuju ke lemari baju. Faisal tadi subuh sudah mandi junub sehingga tidak perlu mandi lagi.


Melihat adiknya sudah selesai mandi Najla mendekati adiknya yang sedang diolesi minyak telon dan bedak.


“Ade Iqbal.” Najla mencium-cium adiknya dengan gemas. Sedangkan Iqbal tertawa-tawa ketika diciumin oleh Najla. Setelah Iqbal selesai pakai baju, Almira menggendong Iqbal.


“Ayo Teteh Najla kita sarapan dulu, yuk.” Almira mengulurkan tangannya ke Najla.


Najla langsung turun dari tempat tidur lalu memegang tangan Bundanya.


“Ayah, Bunda suapi Najla dulu, ya,” kata Almira ke Faisal.


“Iya, nanti Ayah menyusul ke ruang makan,” jawab Faisal yang sedang mengancingkan kemejanya.


Almira menuntun Najla ke luar dari kamar menuju ke ruang makan.


.


.


.


Najla asyik menciumi adiknya yang sedang tidur siang di atas tempat tidur orang tuanya.Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


“Non Najla,” seorang Pengasuh memanggil namanya.


Namun Najla tidak mengindahkan panggilan pengasuhnya, ia terus asyik menciumi adiknya yang sedang tidur dengan lelap.


“Non Najla, adiknya jangan dicium terus! Nanti bangun. Bundanya lagi masak,” kata Pengasuhnya.


Namun Najla tetap saja asyik menciumi adiknya. Pengasuh itu masuk ke dalam kamar dan menghampiri Najla.


“Mas Akbar dan Mbak Amelia sebentar lagi pulang,” bisik Pengasuh itu.


Mendengar kakak- kakaknya sebentar lagi pulang, Najla langsung beranjak dari tempat tidur lalu ke luar dari kamar dan berlari menuju teras rumah. Benar saja apa yang di katakan oleh pengasuhnya ketika sampai di teras rumah sebuah mobil APV premium yang biasa dipakai mengantar dan menjemput kakak-kakaknya sudah memasuki halaman rumah.


“Mas Akbar Mbak Amelia,” panggil Najla sambil loncat-loncat kegirangan.


Akbar dan Amelia keluar dari mobil, mereka disambut oleh Najla. Najla menghampiri Akbar dan Amelia.


“Mas sama Mbak bawa ole-ole, nga?’ tanya Najla ketika Akbar dan Amelia baru turun dari mobil.


Akbar langsung menurukan tasnya dan membuka tasnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas.


“Ini untuk Najla.” Akbar memberikan kertas kepada Najla.


Najla memandangi kertas itu. Sebuah gambar seorang anak kecil dengan dikuncir dua.


“Mas Akbal ini siapa?” tanya Najla sambil memandangi gambar yang diberikan oleh Akbar.


“Itu gambar Najla,” jawab Akbar.


“Ini Najla, Mas?” tanya Najla lagi.


“Iya,” jawab Akbar.

__ADS_1


Akbar dan Amelia masuk ke dalam rumah. Najla mengekori kedua kakaknya dari belakang. Ketika mereka hendak ke lantai atas mereka bertemu dengan Almira yang sedang menghidangkan makan siang untuk anak-anaknya.


“Assamualaikum,” ucap Akbar dan Amelia berbarengan.


“Waalaikumsalam,” jawab Almira.


Akbar dan Amelia menghampiri Almira lalu mencium tangannya.


“Langsung ganti ganti baju, ya! Jangan lupa sholat dzuhur dulu! Setelah itu kita makan,” kata Almira.


“Iya, Bunda,” jawab Akbar dan Amelia berbarengan.


Akbar dan Amelia langsung naik ke lantai atas menuju ke kamar mereka.


Najla memperlihatkan gambar yang diberikan Akbar kepada Almira.


“Unda, liat ini gambal Najla dikasih sama Mas Akbal.”


“Bagus sekali gambarnya,” puji Almira.


“Kata Mas Akbal, ini Najla.” Najla menunjuk ke gambar gadis kecil yang dikuncir dua.


“Wah, cantiknya anak Bunda,” puji Almira.


Akbar memang selalu memberikan gambar buatannya kepada Najla, karena Najla selalu meminta oleh-oleh setiap kali kakak-kakaknya pulang sekolah. Naura selalu membawakan satu buah permen atau coklat untuk diberikan kepada Najla ketika pulang sekolah. Sedangkan Amelia harus mau diajak Najla main Barbie. Najla seorang gadis kecil yang selalu ingin mendapat perhatian dari kakak-kakaknya.


*****


Delapan Tahun kemudian.


Almira berjalan dengan tergesah-gesah. Perutnya yang membesar tetap membuatnya lincah dalam bergerak.


“Bunda…Bunda jangan cepat-cepat jalannya! kasihan adik bayinya,” kata Faisal yang mencoba mensejajarkan jalannya dengan Almira.


“Ayah ini bagaimana, sih? Kita kan sudah telat sebentar lagi acaranya dimulai,” seru Almira sambil terus berjalan.


“Iya, Ayah tau tapi Bunda jalannya tidak usah cepat-cepat begitu,” kata Faisal.


“Ini semua gara-gara Ayah, ngajak main nggak lihat waktu,” kata Almira dengan cemberut.


“Iya Ayah tau, Ayah minta maaf. Ayah khilaf melihat Bunda hanya pakai handuk dengan perut yang membesar terlihat sek-si sekali,” ucap Faisal.


Almira mendengar ucapan suaminya langsung berhenti.


“Ayah!” Almira memukul lengan suaminya.


Suaminya ini memang omongannya tidak di filter.


“Biarkan saja. Memang kenyataannya begitu,” jawab Faisal.


Almira menghela nafas, suaminya benar-benar menyebalkan. Saat ini Almira hamil sembilan bulan di usianya genap  empat puluh tahun, akibat dari suaminya yang sering mengajaknya main hampir setiap malam. Entah suaminya pakai jurus apa sehingga KB IUD Almira bergeser dan menyebabkan Almira menjadi hamil.


“Loh kok melamun, ayo jalan. Katanya sudah kesiangan,” kata Faisal menyadarkan Almira dari lamunannya.


Almira jalan kembali hingga akhirnya mereka sampai di sebuah gedung auditorium. Almira dan Faisal masuk ke dalam gedung auditorium. Di depan gedung auditorium ada spanduk bertuliskan “Wisuda Mahasiswa Falkutas Kedokteran Universitas Negeri Z ke XXX”.


Almira dan Faisal mencari tempat duduk yang kosong karena tempat duduk sudah penuh oleh tamu undangan. Akhirnya merekapun mendapatkan tempat duduk yang kosong. Acara wisuda pun dimulai.


Faisal dan Almira memperhatikan satu persatu mahasiswa yang dipanggil untuk maju ke depan. Hingga nama Naura Khairulnissa dipanggil bersama dengan para peserta wisuda lainnya. Ada rasa bangga di hati Almira dan Faisal, putri sulung mereka sekarang sudah resmi menjadi seorang dokter. Air mata Almira berlinang karena bahagia.


Setelah acara wisuda selesai Almira dan Faisal menunggu Naura di depan gedung auditorium. Naura datang menghampiri kedua orang tuanya bersama seorang laki-laki muda yang menggunakan baju batik lengan panjang


berbadan tinggi dan berwajah tampan.


Almira langsung memeluk putri sulungnya.


“Kakak selamat ya,sayang. Sekarang kamu sudah resmi menjadi dokter,” ucap Almira lalu mencium pipi Naura kanan dan kiri.


“Terima kasih, Bunda,” ucap Naura.


“Selamat Kakak, kamu hebat. Ayah bangga kepadamu,” ucap Faisal sambul menepuk-nepuk bahu Naura.


“Terima kasih, Ayah,” ucap Naura.


Almira memandangi laki-laki yang berdiri si samping Naura.


“Ini siapa, Kak?” Almira menunjuk ke laki-laki itu.


“Kenalkan ini Dokter Gamal senior Naura,” kata Naura.kepada kedua orang tuanya.


Gamal menyalami Faisal dan Almira.


“Oh senior Kakak. Kenapa Kakak tidak pernah cerita ke Bunda?” tanya Almira.


Naura menjawabnya hanya dengan tersenyum.


“Ayo, Kak kita pulang Eyang Ti, Enin dan Aki sudah menunggu di rumah,” kata Almira.


“Mereka menunggu kedatangan Kakak.”

__ADS_1


Almira merangkul punggung Naura lalu mereka pun jalan bersama. Sedangkan Faisal dan Gamal mengikuti dari belakang.


Merekapun berjalan bersama menuju ke tempat parkir mobil. Ketika berjalan menuju tempat parkir tiba-tiba Almira merasa pangkal kakinya terasa sakit sekali seperti orang yang sedang mensturasi yang hendak mengeluarkan gumpalan darah.


“Bunda kenapa jalannya begitu?” tanya Naura melihat Almira seperti orang yang sedang sakit pada kakinya.


“Pangkal kaki Bunda sakit, Kak,” jawab Almira.


“APA???? SAKIT?????” tanya Faisal dan Naura  berbarengan karena kaget dengan perkataan Almira.


“Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” kata Faisal.


“Bunda tunggu di sini! Ayah ambil mobil dulu.”


“Nggak apa-apa, Yah. Kita bareng saja ke tempat parkirnya. Sebentar lagi sampai ke tempat parkir,” jawab Almira.


“Nggak bisa. Bunda jangan jalan lagi! Bunda harus tunggu di sini sama Kakak! Biar Ayah dan Bang Gamal yang ambil mobil,” sahut Naura.


“Abang sekarang ambil mobil, terus nanti ikuti dari belakang, ya! Kita harus cepat ke rumah sakit, Bunda tidak boleh melahirkan normal, harus dioperasi Caesar karena varises bawah,” kata Naura kepada Gamal.


“Oke, Abang mengerti,” jawab Gamal.


Faisal dan Gamal cepat- cepat jalan menuju ke tempat parkir.


.


.


.


Faisal nampak tegang menunggu di depan ruang operasi. Sudah hampir satu jam Almira masuk ke ruang operasi namun masih belum ada kabarnya juga. Naura duduk di sebelah Ayahnya sambil terus menerus berdoa.


Tiba- tiba terdengar suara tangisan bayi dari ruang operasi. Pintu ruang operasi terbuka, dan seorang suster keluar sambil membawa bayi yang sedang menangis.


“Keluarga Nyonya Almira,” panggil suster itu.


“Iya, saya suaminya,” jawab Faisal sambil menghampiri suster.


“Selamat, Pak. Bayinya laki-laki,” ucap suster dan memperlihatkan bayi kepada Faisal.


Naura mendekati Ayahnya untuk melihat adiknya yang baru lahir.


Faisal mengambil bayi dari tangan suster. Dipandanginya bayi yang sedang menangis itu lalu dikecupnya pipi gembil anaknya dan bayi itupun berhenti menangis.


“Bagaimana dengan keadaan ibunya?” tanya Faisal kepada suster.


“Ibu nya dalam keadaan sehat. Bapak bisa menemuinya setelah  dipindahkan ke ruang pemulihan,” jawab suster.


“Alhamdullilah.” Faisal bisa bernafas lega.


Lalu Faisal mulai mengadzani dan mengucapkan iqomat kepada bayinya. Setelah selesai Faisal memberikan kembali bayinya ke suster untuk dibersihkan dan diperiksa oleh dokter anak.


Setelah menunggu setengah jam akhirnya  Almira dipindahkan ke ruang pemulihan. Faisal masuk ke dalam ruang pemulihan untuk melihat keadaan istrinya.


“Bunda.” Faisal mengusap kepala istrinya.


Almira membuka matanya.


“Ayah sudah lihat anak kita?” tanya Almira.


“Sudah, ia tampan seperti Mas,” jawab Faisal dengan penuh percaya diri.


Almira hanya tersenyum mendengarnya.


“Siapa namanya?” tanya Almira.


“Arief Fauzan,” jawab Faisal.


“Nama yang bagus,” puji Almira.


“Terima kasih, Almira. Kamu sudah mau berjuang untuk mengandung dan melahirkan anak-anak kita,” ucap Faisal lalu mengecuo kening Almira.


“Almira juga berterima kasih kepada Mas yang sudah mencintai Almira dan memberikan keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang,” ucap Almira.


“Sama-sama, sayang.” Faisal mencium bibir istrinya dengan penuh cinta.


.


.


.The End.


Akhirnya tamat juga. Terima kasih kepada semua pembaca Cinta Untuk Almira. Terima Kasih atas dukungannya, komentarnya dan like.


Novel ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada yang membaca.


Sekali lagi terima kasih, terutama kepada pembaca saya yang membaca dari novel saya yang pertama hingga novel saya yang ketiga.


Sampai bertemu di novel saya selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2