
Setelah membeli mukenah dan baju muslim, Faisal mengajak istri dan anaknya ke cafe sebelah toko pakaian muslim.
“Kakak Naura haus,” kata Faisal ketika mengajak anak-anak dan istrinya ke café.
“Akbar dan Amelia mau apa?” tanya Faisal kepada kedua anak kembarnya.
“Mau ekim, Ayah,” jawab Akbar.
“Amel juda mau ekim,” jawab Amelia.
“Tuh kan semuanya jadi mau ice cream. Padahal baru kemarin mereka makan ice cream,” kata Almira.
“Udah biarkan saja, Bun. Mereka kan ngak setiap hari makan ice cream,” Faisal berusaha menengahi.
“Ya sudah, boleh makan ice cream. Tapi cuma sekali, ya! Tidak boleh nambah!” kata Almira.
“Iya Nda,” jawab Amelia.
“Iya, Bunbun,” jawab Akbar.
“Bunda mau apa?” tanya Faisal kepada Almira.
“Bunda mau baso, Yah,” jawab Almira.
“Memangnya di sini ada baso?” tanya Faisal bingung.
“Tuh,” Almira menunjuk ke gambar baso yang menempel pada dinding café.
“Ayah, Naura mau siomay.” Naura menunjuk gambar siomay yang berada di sebelah gambar baso.
“Aya, Albal au ciomay,” kata Akbar.
“Amel uga au, Aya,” kata Amelia.
Akhirnya Faisal memesan semua makanan yang diinginkan istri dan anak-anaknya. Sedangkan untuk dirinya sendiri Faisal memesan iga bakar.
Tanpa Almira dan Faisal sadari ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka dan menatap mereka dengan nanar. Orang itu siapa lagi kalau bukan Tomy. Tanpa sengaja mobil yang dikendarai Tomy melintas di depan toko tempat Almira belanja. Tomy melihat Almira keluar dari toko sambil menuntun dua anak batita. Ketika Tomy hendak menghampiri Almira, Tomy melihat Almira duduk semeja dengan Faisal bersama dengan seorang anak remaja dan dua orang batita. Dari percakapan mereka Tomy mendengar Faisal memanggil Almira dengan sebutan “Bunda”.
Jadi bener Almira sudah menikah? Tanya Tomy dalam hati.
Dan yang membuat Tomi kaget Almira menikah dengan Faisal.
Kenapa Almira mau menerima anak-anak Faisal sebagai anak sambung tapi tidak mau menerima anak hasil hubunganku dengan Tita? Kata Tomy dalam hati.
Teganya kau padaku, Mira, kata Tomy di dalam hati.
Tomy meninggalkan café itu dengan perasaan sakit hati dan marah.
Almira tersenyum memandangi Akbar dan Amelia yang sedang asyik makan siomay sendiri. Sesekali Almira mengelap mulut Akbar dan Amelia yang belepotan kecap.
“Enak sayang?” tanya Almira kepada Akbar dan Amelia.
__ADS_1
Akbar dan Amelia menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Lalu Almira beralih kepada Naura yang sedang makan siomay. Ia melihat Naura makan sambil kepedesan.
“Kakak, pake sambel banyak, ya?” tanya Almira.
“Nanti sakit perut,” kata Almira.
“Kalau nggak pedes nggak seru, Tante,” jawab Naura.
“Iya, tapi nanti perut kamu sakit. Lain kali sambelnya sedikit saja,” kata Almira.
“Dengerin tuh apa kata Bunda,” ujar Faisal.
“Iya,” jawab Naura sambil cemberut.
“Tante juga pake sambelnya banyak,” protes Naura.
“Kalau Tante perutnya sudal kebal sudah biasa makan pedes. Kalau kamu masih muda, Tante takut perut kamu nggak kuat,” jawab Almira.
“Aku juga sudah biasa makan pedas. Kalau tidak percaya tanya ke Ayah,” kata Naura.
“Iya kan, Yah?” kata Naura ke Faisal.
“Iya biasa makan pedas. Tapi sesudahnya kamu meringis kesakitan,” jawab Faisal.
Almira menghela nafas. Sepertinya ia harus memberikan contoh yang baik kepada Naura. Kalau ia tidak ingin Naura makan sambel terlalu banyak, Almira harus mengurangi makan yang pedas-pedas.
“Kita sama-sama mengurangi makan pedas, ya Kakak! Sedikit demi sedikit, nanti lama-lama juga terbiasa,” kata Almira.
“Iya, Tante,” jawab Naura.
Merekapun melanjutkan makannya.
****
Pagi ini seperti biasa Almira sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga barunya dan bekal untuk Naura. Hari ini Almira dan Faisal harus kembali masuk kantor, karena masa cuti mereka sudah berakhir. Kedua batita kembarnya dari pagi terus saja merengek mendengar Bunda mereka harus kembali bekarja.
“Doakan semoga Ayah cepat mendapatkan asisten, agar Bunda tidak harus bekerja di kantor lagi,” kata Almira kepada kedua batitanya.
“Tapi Amel mau icut Nda,” rengek Amelia.
“Albal juga au icut Bunbun,” rengek Akbar juga.
“Eh…Bunda punya puding di kulkas. Nanti siang Akbar dan Amelia makan puding sama Mbak,” hibur Almira.
“Bunbun bicin puding?” tanya Akbar dengan mata berbinar sambil mengusap air matanya dengan tangan mungilnya.
“Iya, tadi malam Bunda buat puding untuk Akbar, Amelia dan Kakak Naura,” jawab Almira.
“Kalau Akbar dan Amelia ikut Bunda ke kantor nanti kehabisan pudingnya,” kata Almira.
“Tapi Bunbun te kantonya ndak boleh ama-ama,” kata Akbar.
__ADS_1
“Iya sayang, Bunda tidak akan lama-lama ke kantornya,” jawab Almira.
“Amel mau mamam puding aja. Ndak mau icut Nda te kanto,” kata Amelia.
“Albar uga,” kata Akbar.
“Aduh anak-anak Bunda pintar-pintar,” puji Almira lalu mencium pipi batitanya satu persatu.
Akhirnya drama rengekan Akbar dan Ameliapun berakhir, sehingga Almira bisa berangkat ke kantor dengan tenang.
Ketika Almira siap-siap berangkat ke kantor, Almira melihat Faisal sedang berbicara dengan serius. Entah sedang berbicara dengan siapa. Namun Almira mendengar Faisal mengucapkan Innalillahi wainalilahi rojiun.
Akhirnya Faisalpun mengakhiri pembicaraannya di ponsel lalu mendekati Almira.
“Ada apa, Mas?” tanya Almira melihat wajah suaminya susah diartikan.
“Almira, kamu duduk dulu Mas mau bicara,” kata Faisal.
Lalu Faisal memapah istrinya ke sofa di dalam kamarnya.
“Ada apa, Mas?” tanya Almira sekali lagi.
Faisal mengambil tangan istrinya lalu ditaruhnya di atas pangkuannya dan digenggam dengan erat.
“Almira yang tabah, ya. Barusan Adit menelepon Mas. Kata Adit, Tomy meninggal tadi subuh karena kecelakaan tunggal. Tomy meninggal dalam perjalanan ketika dibawa ke rumah sakit,” kata Faisal sambil memandang Almira.
“Mas, kenapa Mas bicara begitu kepada Almira? Almira bukan lagi istri Pak Tomy. Almira hanya mantan istri Pak Tomy. Semestinya Mas bicara seperti itu kepada Tita, bukan kepada Almira! Sekarang Almira istri Mas Faisal, Bundanya Naura, Akbar dan Amelia,” kata Almira.
Faisal terkejut mendengar perkataan Almira. Tadinya ia menyangka Almira akan sedih mendengar berita ini karena masih mencintai Tomy. Namun diluar dugaannya Almira hanya biasa-biasa saja mendengarnya. Ternyata cinta Almira untuk Tomy benar-benar sudah tidak ada lagi.
“Maafkan Mas, Almira. Tadinya Mas menyangka kamu akan sedih mendengar kabar ini karena kamu masih mencintai Tomy,” kata Faisal dengan penuh penyesalan.
“Cinta Almira pada Pak Tomy sudah lama mati, Mas. Sekarang ini yang sedang Almira pupuk di hati Almira adalah cinta Almira kepada Mas Faisal yang sekarang menjadi suami Almira,” ucap Almira.
“Terima kasih, sayang. Kamu mau untuk mencintai Mas,” kata Faisal lalu mencium bibir istrinya dengan mesra.
Almira berusaha mendorong dada suaminya dengan halus agar suaminya melepaskan ciumannya.
“Mas, ini sudah siang. Sudah waktunya untuk ke kantor,” kata Almira ketika Faisal melepaskan ciumannya.
“Hari ini nggak usah ke kantor saja, kita cuti lagi,” kata Faisal dengan wajah merana karena harus melepaskan ciumannya.
“Mas, kalau bosnya malas, nanti karyawanya juga malas,” kata Almira.
“Siapa yang berani malas? Nanti Mas pecat,” ujar Faisal.
“Eh….mau pecat aja. Dikirain cari karyawan gampang. Yang jujur dan setia susah loh dicari,” Kata Almira.
“Iya, Bu bos iya,” jawab Faisal.
“Sudah siang, nih. Ayo kita siap-siap berangkat ke kantor,” kata Almira.
__ADS_1
“Nanti kita mampir ke rumah orang tuanya Tomy, ya. Kita takziah dulu ke sana. Dari situ baru kita ke kantor,” kata Faisal.
“Iya, Mas,” jawab Almira.