
“Oh kalau soal itu mendingan Bapak tanya langsung ke Pak Budi GM sekaligus pemilik resto ini,” jawab petugas kasir.
“Bukannya pemilik tempat ini seorang wanita?” tanya Faisal.
“Betul, Pak. Namanya Ibu Poppy, Pak Budi adalah suami Ibu Poppy,” jawab petugas kasir.
“Ohhhh…,” Faisal mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Mari Pak saya antarkan Bapak ke Pak Budi.”
Fsisal mengikuti petugas kasir dari belakang. Petugas kasir menghampiri seorang laki-laki muda yang sedang berbicara dengan pelayan resto.
“Pak Budi, ada yang hendak berbicara dengan Bapak,” kata petugas kasir kepada laki-laki muda itu.
“Silahkan Bapak bicara langsung dengan Pak Budi. Saya permisi dulu,” kata petugas kasir.
“Iya, terima kasih, Mbak,” ucap Faisal.
Budi menghampiri Faisal.
“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Budi.
“Siang, Pak Budi. Saya mau booking resto ini untuk acara pernikahan,” jawab Faisal.
“Bisa, Pak. Tempat ini bisa di jadikan untuk tempat pesta pernikahan,” kata Budi.
“Kalau untuk tiga ribu orang muat nggak, Pak?” tanya Faisal.
“Muat, Pak. Paling sekalian dengan ruangan ini,” jawab Budi.
“Bagaimana kalau kita membicarakan ini dengan sekretaris saya,” kata Faisal.
Mendengar perkataan Faisal, Budi mengkerutkan keningnya.
“Sekretaris Bapak?” tanya Budi dengan tidak mengerti.
“Iya, sekretaris saya. Dia dari pihak pengantin pria dan saya dari pihak pengantin wanita.” Faisal mencoba untuk menjelaskan.
“Iya, saya mengerti,” kata Budi.
Faisal mengajak Budi ke tempat Almira menunggu.
“Mir, ini Pak Budi GM di sini sekaligus suami pemilik hotel dan resto ini. Faisal memperkenalkan Budi kepada Almira.
__ADS_1
Almira menyalami dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Budi juga melakukan hal yang sama.
“Ini sekretaris saya Almira yang bertugas mengurus pernikahan adik-adik kami.” Faisal memperkenalkan Almira kepada Budi.
“Ada yang bisa saya bantu Ibu Almira?” tanya Budi.
Tanpa ba bi bu lagi Almira langsung menanyakan banyak pertanyaan kepada Budi.
Faisal hanya tersenyum melihat kelakuan Almira.
Ketika mereka sedang berbicara, ada seorang wanta cantik dengan perut hamil besar mendekati mereka.
“Ayah,” panggil wanita itu.
Budi menoleh ke wanita itu.
“Mamah,” kata Budi.
“Pak Bu, tunggu sebentar, ya. Istri saya datang,” kata Budi yang sudah-siap-siap berdiri.
“Silahkan Pak Budi, santai saja,” jawab Faisal.
Budi langsung berdiri dan mendekati istrinya. Entah apa yang mereka bicarakan, Budi mengusap-usap perut istrinya yang sedang hamil besar.
Almira memperhatikan interaksi keduanya. Budi memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Almira menjadi iri meihat mereka. Kalau saja mantan suaminya tidak menyeleweng mungkin mereka sekarang bahagia seperti Budi dengan istrinya.
“Almira,” panggil Faisal dengan lembut.
Almira menoleh ke Faisal.
“Hmm.” Almira menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan telapak tangannya.
“Sabar, ya. Kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan seperti mereka,” kata Faisal.
“Aamiin ya robalalamin,” ucap Almira.
Tiba-tiba seorang anak kecil berusia dua tahun berlari menghampiri Budi.
“Ayah,” kata anak itu sambil memeluk kaki Budi.
Langsung Budi mengangkat tubuh anak kecil itu dan menggendongnya.
“Firas sama Mamah darimana?” Budi bertanya pada anak kecil itu.
__ADS_1
“Dali lumah. Mo ain ke cini,” jawab Firas.
Budi mencium pipi gembul anaknya.
“Firas main sama Mbak, ya! Ayah sedang ada tamu,” kata Budi.
Kemudian Budi menurunkan anaknya.
“Mbak titip Firas, ya!” kata Budi.
“Baik, Pak.”
Setelah pengasuh membawa Firas, Budi memegang tangan istrinya lalu membawanya ke meja Almira dan Faisal.
“Kenalkan ini istri saya Poppy, pemilik hotel dan resto ini,” kata Budi.
Poppy bersalaman dengan Faisal hanya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Sedangkan dengan Almira Poppy salaman cara orang sunda.
“Ini Mah, Pak Faisal dan Ibu Almira hendak booking tempat ini untuk acara pernikahan adik-adik mereka,” kata Budi.
“Boleh, buat kapan?” tanya Poppy.
“Buat tanggal 28 Februari, Bu,” jawab Almira.
Lalu mereka melanjutkan lagi pembicaraan mereka. Mereka berbicara sampai sore hari.
Karena hari sudah sore, Faisal mengantar Almira pulang ke rumah.
“Terima kasih, ya Mas. Sudah anterin Almira pulang,” ucap Almira sebelum turun dari mobil.
“Sama-sama, Almira. Salam sama Om dan Tante, maaf tidak mampir. Karena sudah sore,” kata Faisal.
“Iya tidak apa-apa. Assalamualaikum,” ucap Almira lalu turun dari mobil Faisal.
“Waalaikumsalam,” balas Faisal sambil menunggu Almira menutup pintu mobilnya.
Almira menutup pintu mobil Faisal lalu melambaikan tangan ke Faisal. Kemudian mobil Faisal melaju meninggalkan rumah Almira.
“Cie….udah dadah-dadahan aja, nih,” goda Nina yang sedang berdiri di depan teras rumah.
“Apa sih? Ngeganggu orang aja,” kata Almira kemudian cepat-cepat masuk ke dalam rumah karena mukanya bersemu merah karena malu kepergok Nina lagi melambaikan tangan ke Faisal.
.
__ADS_1
.
maaf jika hari ini saya up sedikit. karena saya sedang demam. kalau demam tinggi sakitnya sampai ke tulang.