
Ketika berpas-pasan dengan Faisal, Almirah hanya menganggukkan kepala, ia tidak bisa bersalaman dengan Faisal karena membawa seserahan. Faisal membalas dengan anggukan kepala juga sambil tersenyum. Sedangkan Ibu Rosita ketika melihat Almira langsung memeluk Almira.
“Terima kasih sudah mau datang,” ucap Ibu Rosita.
Acara lamaran dimulai dengan kedua keluarga saling memperkenalkan diri. Kemudian Pak Rahmat mengutarakan niat mereka datang ke rumah Dini. Selama acara berlangsung Almira mendengarkan semua pembicaraan para orang tua sambil menunduk. Mata Almira asyik memperhatikan seserahan yang dipegang olehnya.
“Teteh,” panggil Nina sambil berbisik.
Nina mendekatkan badanya ke Almira.
“Hmm,” jawab Almira.
“Itu Pak bos dari tadi matanya ke sini terus,” bisik Nina.
Almira mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Faisal tak sengaja pandangan mereka bertemu dan Faisalpun tersenyum kepada Almira. Almira membalas senyum Faisal lalu menunduk kembali.
“Lagi memperhatikan Nina kali,” bisik Almira kepada Nina.
Nina langsung menoleh ke Almira.
“Iiihhh udah jelas-jelasan Mas Faisal memperhatikan Teteh,” bisik Nina.
“Sssttt udah jangan berisik! Nanti dimarahin Mamang," bisik Almira.
Akhirnya Ninapun diam dan tidak berbicara lagi.
Sekarang waktunya Dini di pertemukan dengan Rafi. Dini keluar dari dalam rumah, ia terlihat cantik sekali. Dini duduk di sebelah Mamahnya.
“Dini, Rafi beserta keluarga besarnya datang ke sini untuk meminang Dini.”
“Apakah Dini menerima pinangan Rafi?” tanya Pak Edi.
“Iya, Om. Dini terima pinangan Aa Rafi,” jawab Dini.
“Waduh, udah manggil Aa,” kata Pak Edi.
Dini menunduk malu mendengar perkataan Pamannya.
Dilanjutkan dengan penyematan cincin tunangan yang dilakukan oleh Ibu Rosita dan Ibu Lia. Setelah penyematan cincin, penyerahan seserahan dari Rafi untuk Dini. Setelah semua acara inti dilaksanakan sekarang penentuan tanggal pernikahan.
“Bagaimana jika pernikahan dilaksanakan sebulan lagi?” tanya Pak Edy kepada Pak Rahmat.
__ADS_1
“Kami setuju, lebih cepat lebih baik,” jawab Pak Rahmat.
Lalu Pak Edy beralih ke Faisal.
“Gimana Faisal, apa kamu sanggup mengurus persiapan pernikahan Dini dalam waktu sebulan?” tanya Pak Edy.
“Insya Allah Om,” jawab Faisal.
“Tapi kasihan kalau semuanya Faisal urus sendiri.” Pak Edy mengalihkan perhatiannya kepada keluarga Rafi.
“Pak Rahmat barangkali dari keluarga Rafi ada yang bisa membantu Faisal untuk mempersiapkan pernikahan Rafi dan Dini?” tanya Pak Edy.
“Kalau bisa perempuan, Pak.”
“Nanti keponakan saya Almira yang akan membantu Faisal,” jawab Pak Rahmat.
Deg….Almira langsung kaget.
“Yang mana namanya Almira?” tanya Pak Edy.
Almira tunjuk tangan.
Almira lalu berdiri.
“Tunggu dulu, Almira sepertinya sudah menikah, ya? Takutnya nanti suaminya cemburu kalau sering bertemu Faisal,” ujar Pak Edy.
“Udah jadi singel lagi, Om,” celetuk Nina.
“Oh…berarti sama seperti Faisal. Sama-sama single,” kata Pak Edy.
Pak Edy kembali beralih ke Almira.
“Almira mau tidak membantu Faisal mengurus semua persiapan pernikahan Dini dan Rafi?” tanya Pak Edy.
Sebelum Almira menjawab, Almirah menoleh dulu ke Faisal. Faisal mengangguk. Bagaimanapun Almira harus minta persetujuan Faisal sebagai bosnya. Karena mengurus pernikahan pasti akan mengganggu pekerjaan kantor.
“Ya, Pak. Almira sanggup,” jawab Almira.
“Loh kok panggil Pak? Panggil Om, dong. Biar sama seperti Faisal,” protes Pak Edy.
“Iya, Om,” kata Almira.
__ADS_1
“Almira nanti kamu saling tukeran nomor telepon dengan Faisal. Biar gampang saling menghubungi,” kata Pak Edy.
“Iya, Om,” jawab Almira.
“Karena semuanya sudah beres. Sekarang waktunya menikmati hidangan makan malam.”
“Silahkan Pak Rahmat dan keluarga menikmati hidangan makan malam,” kata Pak Edy.
Semuanya keluar ke halaman depan untuk menikmati hidangan makan malam.
Almira dan Dini juga keluar untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh Ibu Rosita.
Ketika Almira mengambil makanan, tiba-tiba ada ada tangan yang mengusap punggungnya.
“Makan yang banyak,” kata Ibu Rosita.
“Iya, Tante.”
“Terima kasih ya, sudah mau membantu Faisal mengurus pernikahan Dini dan Rafi,” kata Tante Rosita.
“Tapi Almira takut tidak sesuai dengan keinginan Dini dan Tante,” jawab Almira.
“Kamu tinggal mencarikan gedung, EO, MUA, butik dan catering. Nanti Dini dan Rafi yang memilih yang sesuai dengan keinginan mereka.”
“Untuk besarnya anggaran, kamu bisa tanyakan ke Faisal. Faisal yang mengatur besar anggaran yang dikeluarkan,” kata Ibu Rosita.
“Iya, Tante.”
“Anggap saja ini untuk persiapan pernikahanmu, jadi kamu mempersiapkanya sebaik mungkin.”
“Iya, Tante.”
“Terusin lagi ngambil makanannya. Tante mau ke dalam dulu,” pamit Ibu Rosita.
“Iya, Tante.”
Almira meneruskan lagi mengambil makanan yang sempat tertunda. Faisal datang menghampiri Almira. Faisal hanya berdiri di samping Almira menunggu Almira selesai mengambil makan.
“Nggak makan, Pak?” tanya Almira tanpa menoleh ke Faisal.
“Nanti saja,” jawab Faisal.
__ADS_1