
Melihat saudaranya duduk di atas pangkuan Almira, Amelia juga ingin merasakan duduk di pangkuan Almira. Amelia membisikkan sesuatu ke telinga Ayahnya.
“Kasihan Tantenya nanti keberatan harus memangku dua anak kecil,” jawab Faisal.
“Kenapa, Pak?” tanya Almira yang mendengar pembicaraan Faisal dengan Amelia.
“Amelia mau dipangku sama kamu,” jawab Faisal.
“Sini, dua-duanya di pangku sama Tante,” kata Almira.sambil menepuk-nepuk kakinya.
“Jangan, Mir. Berat kalau dua-duamya dipangku kamu. Kamu kan belum terbiasa memangku sekaligus 2 anak,” kata Faisal.
“Nggak apa-apa, Pak. Belajar punya anak kembar. Siapa tau setelah sekian lama menanti, saya dikasih anak kembar,” kata Almira.
“Aamiin,” ucap Faisal.
Ibu Rosita datang dari dalam rumah.
“Makan siang sudah siap. Ayo kita makan siang dulu,” ajak Ibu Rosita.
“Iya, Tante,” jawab Almira.
Ibu Rosita melihat kedua cucu kembarnya duduk di pangkuan Almira.
“Eh….itu kenapa dua-duanya dipangku Tante Almira? Kasihan nanti Tantenya keberatan,” tanya Ibu Rosita.
“Nggak apa-apa kok Tante,” jawab Almira.
“Teteh lagi berlatih bagaimana caranya memangku anak kembar. Siapa tau Teteh punya anak kembar,” celetuk Nina.
“Sabar, ya Mir. Siapa tau nanti kamu bisa punya anak,” kata Ibu Rosita.
“Aamiin ya robialamin,” ucap Almira.
“Ayo sekarang kita makan dulu! Nanti makanannya keburu dingin,” ajak Ibu Rosita sekali lagi.
Almira menuntun Akbar dan Amelia menuju ke ruang makan. Akbar dan Amelia berebut duduk di sebelah Almira.
“Akbar duduk di sebelah kanan Tante dan Amelia duduk di sebelah kiri Tante,” kata Faisal mengatur posisi duduk anak kembarnya.
“Albal mamamnya cama Ante Amila,” kata Akbar.
__ADS_1
“Ame’ia uga mamam cama Ante Amila,” kata Amelia.
“Iya, Akbar dan Amelia disuapi sama Tante,” jawab Almirah.
“Maaf, jadi merepotkan Almira,” ucap Faisal.
“Nggak apa-apa, kok Pak. Saya senang bisa menyuapi mereka,” kata Almira.
Akhirnya Almira makan sambil menyuapi Akbar dan Amelia.
Setelah selesai makan Almira, Rafi dan Nina pamit pulang.
Ketika Almira masuk ke dalam mobil, Faisal menahan pintu mobil.
“Mir, nanti kamu cari-cari gedung dan ballroom hotel di internet. Cari gedung dan ballroom yang cukup untuk menampung tiga ribu sampai lima ribu orang. Nanti senin kita survey gedung dan ballroom, agar kita bisa langsung booking tempat,” kata Faisal.
“Baik, Pak,” jawab Almira.
“Oke, sampai ketemu hari senin,” kata Faisal.
“Assalamualaikum,” ucap Almira.
“Waalaikumsalam,” jawab Faisal.
****
Keesokan harinya Almira benar-benar sibuk. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum istirahat makan siang. Setelah makan siang ia akan pergi untuk survey gedung dan ballroom hotel.
Faisal keluar dari ruangannya dan menghampiri Almira.
“Kamu sudah dapat gedung dan ballroom yang akan kita survey?” tanya Faisal.
“Sudah, Pak,” jawab Almira.
“Mir, kalau kita sedang berdua atau sedang tidak berada dalam lingkungan kantor, kamu cukup panggil saya “Mas”. Jangan panggil “Pak”,” kata Faisal.
“Iya, Pak eh..Mas,” jawab Almira.
“Nah gitu dong, kan enak didengarnya,” kata Faisal.
“Nanti kita makan siang di luar, setelah itu kita lihat-lihat gedung dan ballroom,” kata Faisal lagi.
__ADS_1
“Baik, Mas,” jawab Almira.
Faisal melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu sudah mendekati jam dua belas siang, sebentar lagi istirahat makan siang.
“Kamu siap-siap, sebentar lagi kita berangkat,” kata Faisal.
“Mas, kita sholat dzuhur di sini atau di luar?” tanya Almira mengingat sekarang sudah mau memasuki waktu sholat dzuhur.
“Sholat di sini saja. Selesai sholat kita berangkat,” jawab Faisal.
“Baik, Mas.”
Faisal masuk kembali ke dalam ruangannya. Sedangkan Almira membereskan meja kerjanya. Seperti biasa Almira sholat berjamaah dengan Faisal di dalam ruangan Faisal. Setelah selesai sholat merekapun pergi untuk makan siang di luar.
“Kamu mau makan apa?” tanya Faisal sambil fokus menyetir mobil.
“Terserah Mas saja,” jawab Almira.
“Bener nih terserah, Mas?” tanya Faisal untuk meyakinkan.
“Iya,” jawab Almira.
“Oke kalau begitu. Jangan protes, ya!” kata Faisal.
Mendengar kata “Jangan Protes” membuat Almira takut.
Mas Faisal mau ngajak makan kemana? tanya Almira di dalam hati.
“Asal bukan tempat yang…..” Almira tidak melanjutkan perkataannya.
“Tempat yang bagaimana? Kok bicaranya tidak diterusin?” tanya Faisal sambil menoleh ke Almira sebentar.
“Nggak jadi, Mas,” jawab Almira.
Faisal menoleh sebentar ke arah Almira.
“Saya tau, maksud kamu tempat mesum kan?” kata Faisal sambil menyetir kemudian Faisal menoleh lagi ke Almira sebentar.
Almira hanya diam, ia tidak bicara apa-apa.
“Tenang saja, Mir. Saya walaupun duda tapi akal sehat saya masih jalan kok,” kata Faisal.
__ADS_1
“Kalau saya mau menyeleweng, sewaktu istri saya sakit saya pasti sudah menyeleweng. Kalau mau berzina setelah istri saya meninggal saya bisa berzina. Tapi itu semua tidak saya lakukan karena saya masih punya iman dan saya takut akan dosa. Walaupun orang tidak ada yang melihat, Tapi Allah yang melihat apa yang sedang saya perbuat,” kata Faisal.