
Almira terjaga dari tidurnya, sudah waktunya ia harus bangun. Namun ketika hendak bangun dari tempat tidur kepalanya terasa sangat sakit. Almira merebahkan kembali tubuhnya.
Ya, Allah kenapa kepala terasa sakit. Apakah ini tanda-tanda akan mensturasi? tanya Almira dalam hati.
Perlahan Almira bangun dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju meja rias untuk mengambiil minyak kayu putih yang berada di atas meja rias.
Setelah mengambil minyak kayu putih, Almira kembali ke tempat tidur. Almira duduk di pinggir tempat tidur sambil mengoleskan minyak kayu putih di dahi dan belakang lehernya. Bau minyak kayu putih yang khas membuat Faisal terbangun dari tidurnya.
“Kamu kenapa, Mir?” tanya Faisal ketika melihat istrinya sedang duduk sambil mengoleskan minyak kayu putih.
“Kepala Almira sakit, Mas,” jawab Almira.
Faisal langsung bangun dari tempat tidurnya.
“Sini Mas pijat kepalanya.” Faisal mengambil minyak kayu putih dari tangan Almira lalu ia tuangkan ke tangannya kemudian Faisal mulai memijat kepala Almira dengan menggunakan minyak kayu putih. Faisal juga memijat tengkuk dan punggung istrinya.
“Sudah agak enakkan?” tanya Faisal setelah memijat punggung Almira.
“Sudah, Mas.” Almira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Kamu istirahat saja, biar bi Cani yang membuatkan sarapan.” Faisal menyelimuti tubuh istrinya lalu megecup keningnya.
Lalu Faisal keluar dari kamarnya untuk menyuruh bi Cani membuatkan sarapan.
Ketika Faisal kembali ke dalam kamar terdengar sayup-sayup suara adzan subuh.
“Mas mau wudhu dulu. Kamu tayamum aja kalau sedang sakit,” kata Faisal.
“Iya, Mas.” Almira pun bersiap-siap untuk sholat.
Setelah sholat subuh Almira keluar dari kamarnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Faisal melihat Almira membuka pintu kamar.
“Mau menyiapkan bekal untuk kakak,” jawab Almira.
Faisal menghampiri istrinya lalu menutup kembali pintu kamar.
“Udah nggak usah, biar nanti di urus sama bi Cani. Sekarang kamu tidur saja. Nanti Mas bawakan sarapan ke kamar.” Faisal menuntun istri ke tempat tidur.
Terpaksa Almira kembali merebahkan diri di atas tempat tidur.
Naura membuka pintu kamar orang tuanya. Ia menongolkan kepalanya dari balik pintu.
“Ada apa, Kak?” tanya Faisal ketika melihat kepala anaknya nongol,dari balik pintu.
__ADS_1
“Kakak mau pamit ke sekolah,” jawab Naura.
“Masuk sini!” kata Faisal.
Naura masuk ke dalam kamar orang tuanya dan diikuti oleh adik-adiknya. Naura mendekati tempat tidur orang tuanya. Akbar dan Amelia langsung naik ke atas tempat tidur orang tuanya dan duduk manis di atas tempat tidur.
“Bunda,” panggil Naura ketika berdiri di samping tempat tidur.
Almira membuka matanya.
“Kakak.” Suara Almira terdengar parau.
“Bunda masih sakit kepalanya?” tanya Naura.
“Masih, Kak,” jawab Almira dengan serak.
“Nanti siang Kakak antar ke dokter, ya,” kata Naura.
“Nggak usah, Kak. Nanti juga sembuh kalau sudah makan obat,” jawab Almira.
“Bunda sudah makan obat?” tanya Naura.
“Belum, Kak. Nanti saja kalau sudah sarapan,” jawab Almira.
“Nanti Kakak suruh ART membawakan sarapan untuk Bunda. Sekarang Kakak pamit mau berangkat ke sekolah. Assalamualaikum.” Naura mencium tangan Almira.
“Kakak sekalian sarapan Ayah juga dibawa ke kamar,” kata Faisal ketika Naura hendak mencium tangannya.
“Iya, Ayah,” jawan Naura.
“Assalamualaikum.” Naura mencium tangan Faisal.
“Waalaikumsalam,” ucap Faisal.
Naurapun keluar dari kamar orang tuanya, namun Akbar dan Amelia masih duduk di kamar Almira.
“Kalian lagi ngapain di sini?” tanya Faisal kepada kedua anaknya.
“Mau cama Nda,” jawab Amelia.
“Di sini saja temani Bunda.” Almira memeluk Amelia.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk.
“Akbar, tolong bukakan pintu,” ucap Faisal.
__ADS_1
“Iya, Aya.” Akbar turun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar.
Akbar harus jinjit untuk membuka pintu kamar, dengan susah payah diraihnya handel pintu. Akhirnya pintupun berhasil terbuka.
Dua orang ART berdiri di depan kamar sambil membawa nampan yang berikan sarapan beserta minumannya.
“Masuk, Mbak,” kata Almira.
Kedua ART itu masuk ke dalam kamar dan menyimpan piring dan gelas di atas meja sofa.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Almira.
Setelah itu kedua ART itupun keluar dari kamar majikan mereka.
Akbar dan Amelia memandangi nasi goreng yang berada di atas meja.
“Bunbun mau emam,” ujar Akbar.
“Akbar, kalau mau makan minta sama mbak. IIu untuk Ayah dan Bunda,” kata Faisal.
Akbar dan Amelia langsung keluar dari kamar orang tuanya untuk meminta makan kepada pengasuh mereka.
Faisal mengambil sepiring nasi goreng untuk Almira.
“Mau makan sendiri atau mau disuapi?” tanya Faisal yang sudah bersiap untuk menyuapi Almira.
“Mau makan sendiri aja.” Almira mengambil piring dari tangan Faisal.
Almira memakan nasi goreng itu pelan-pelan hingga habis sepiring nasi goreng. Faisal memberi obat penghilang sakit kepala serta segelas air putih kepada Almira. Almira meminum obat yang diberikan Faisal.
“Kamu duduk dulu tunggu beberapa menit nanti baru tidur lagi,” kata Faisal.
Faisal menaruh kembali piring dan gelas bekas makan Almira di atas meja, lalu Faisal menuju ke kamar mandi.
“Mas tidak makan?” tanya Almira.
“Mau mandi dulu, sudah siang,” jawab Faisal dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Almira menunggu suaminya ke luar dari kamar mandi sambil menonton televise. Namun lama kelamaan Almira mulai mengantuk dan tertidur pulas.
.
.
.
__ADS_1
nanti malam dilanjutkan kembali