
Setelah selesai makan Pak Rahmat dan Ibu Lia pamit pulang. Sedangkan Ibu Rosita juga pamit pulang. Sebelumnya Ibu Rosita membujuk Naura untuk ikut pulang bersama dengan Eyang putri karena tidak baik anak-anak terlalu lama berada di rumah sakit. Namun Naura tetaplah Naura, ia tidak mau ikut pulang dengan Eyang putrinya.
“Kakak pulangnya nanti aja, nunggu Pak Ali,” kata Naura.
“Tapi Kakak, tidak baik untuk anak-anak terlalu lama di rumah sakit,” bujuk Ibu Rosita.
“Iya, nanti kalau Pak Ali datang, Kakak langsung pulang,” jawab Naura.
Akhirnya Ibu Rosita menyerah juga, cucunya yang satu ini memang keras kepala sulit untuk dipaksa. Entah sifat keras kepalanya menurun dari siapa, padahal kedua orang tuanya tidak keras kepala.
“Ya sudah kalau Kakak belum mau pulang, Yang ti pulang dulu saja,” kata Ibu Rosita.
Ibu Rosita menghampiri Almira.
“Mamah pulang, ya Mir. Mamah doakan semoga kamu lekas sembuh,” kata Ibu Rosita.
“Aamiin ya robialamin. Terima kasih, Mah,” ucap Almira.
Lalu Almira mencium tangan mertuanya.
Ibu Rosita beralih ke Faisal.
“Faisal, Mamah pulang dulu. Jaga istrimu baik-baik! Kalau ada apa-apa telepon Mamah,” kata Ibu Rosita.
“Iya, Mah,” jawab Faisal.
Lalu Ibu Rosita beralih ke Naura.
“Kakak, jaga Akbar dan Amelia! Sudah menjadi tugas seorang kakak untuk menjaga adik-adiknya,” kata Ibu Rosita kepada Naura.
‘Iya, Yang ti,” jawab Naura.
“Yang ti pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Ibu Rosita.
“Waalaikumsalam,” jawab Faisal, Almira dan Naura bersamaan.
Ibu Rosita keluar dari kamar inap Almira.
Tiba-tiba…
“Mas, perut Almira mual pengen muntah,” kata Almira.
“Tahan dulu, Mas ambilkan baskom.” Faisal lari menuju kamar mandi untuk mengambil baskom.
Tak lama kedian Faisal kembali sambil membawa baskom.
“Muntahkan ke sini!” Faisal mendekatkan baskom ke mulut Almira.
Tanpa aba-aba Almira langsung memuntahkan isi perutnya. Semua makanan yang tadi dimakan dimuntahkan kembali.
“Sudah, Mas,” kata Almira setelah selesai muntahnya.
“Kakak, tolong Bunda kasih minum. Ayah mau membuang muntah Bunda.” Faisal membawa baskom yang berisi muntah ke kamar mandi.
“Iya Ayah.” Naura mengambil botol air mineral di atas nakas lalu diberikan kepada Almira.
Almira meminum air mineral yang diberikan Naura. Setelah meminum air mineral Almira mengembalikan botolnya kepada Naura.
“Terima kasih, Kakak,” ucap Almira.
“Bunda makan lagi, ya,” kata Naura.
“Nanti lagi, Kak. Bunda takut makanannya dimuntahin lagi,” jawab Almira.
“Kak, tolong turunkan tempat tidurnya! Bunda mau tidur,” kata Almira.
Naura langsung memencet remote tempat tidur Almira guna mengatur tempat tidur.
“Segini, Bunda?’ tanya Naura.
__ADS_1
“Sudah cukup, Kak,” jawab Almira.
“Bunda tidur dulu. Bunda ngantuk.” Almira memejamkan matanya.
Tak lama kemudian Faisal keluar dari kamar mandi setelah membuang muntah Almira. Faisal melihat istrinya sedang tidur.
“Bunda tidur, katanya ngantuk,” sahut Naura.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar. Pak Ali menongolkan kepalanya.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Ali.
“Waalaikumsalam.”
“Ini, Pak. Baju Ibu dan Bapak serta laptop milik Bapak.” Pak Ali memberikan tas travel dan tas laptop kepada Faisal.
“Terima kasih, Pak Ali,” ucap Faisal lalu mengambil tas travel dan tas laptop yang diberikan oleh Pak Ali.
“Kakak, tuh Pak Ali sudah datang. Kakak pulang, ya! Kasihan Pak Ali sudah cape mau pulang,” kata Faisal.
“Iya, Ayah.” Naura mencium tangan Faisal.
“Jaga baik-baik adik-adiknya. Kalau ada apa-apa telepon Ayah!” kata Faisal.
“Iya, Ayah,” jawab Naura.
Naura menghampiri tempat tidur Almira.
“Bunda, Kakak pulang dulu. Assalamualaikum,” bisik Naura lalu dikecupnya pipi Almira.
Namun Almira bergeming terdengar suara dengkuran halus dari mulut Almira. Sepertinya Almira tidur karena pengaruh dari obat.
Setelah itu Naura menghampiri Faisal.
“Kakak pulang dulu, Yah. Assalamualaikum,” ucap Naura.
“Waalaikumsalam,” jawab Faisal.
Setelah Naura pergi Faisal menghampiri istrinya yang sedang tidur.
“Semoga cepat sembuh, ya sayang,” bisik Faisal lalu mencium kening istrinya.
Faisal merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ternyata cukup melelahkan, mengurus istri yang sedang sakit. Tanpa terasa Faisalpun tertidur.
Entah berapa lama Faisal tertidur, namun ia terbangun karena mendengar Almira memanggilnya.
“Mas…Mas….,” panggil Almira.
“Mas…Mas…Almira mau pipis,” kata Almira.
Perlahan Faisal membuka matanya lalu menoleh ke arah tempat tidur Almira. Faisal melihat Almira sedang memandang ke arahnya.
Faisal langsung bangun lalu duduk sebentar. Setelah kesadarannya kumpul Faisal berdiri lalu menghampiri istrinya.
“Mau pipis?” tanya Faisal.
Almira mengangguk.
Faisal membuka pinggiran tempat tidur. Lalu membantu Almira bangun dari tempat tidur.
“Mau di gedong?” tanya Faisal.
“Nggak usah, Mas. Mas pegang Almira saja,” jawab Almira.
Faisal membantu Almira turun dari tempat tidur lalu Faisal memapah Almira menuju ke kamar mandi. Faisal ikut masuk ke dalam kamar mandi, ia takut istrinya terjatuh di kamar mandi. Dengan sabar Faisal menunggu istrinya pipis. Setelah pipis Almira langsung berwudhu.
“Memang sekarang sudah jam berapa?” tanya Faisal setelah Almira selesai berwudhu.
“Sudah jam lima, Mas,” jawab Almira.
__ADS_1
Ternyata Faisal sudah tertidur selama satu jam.
“Mas juga belum sholat ashar,” kata Faisal.
“Mas mau wudhu?” tanya Almira.
“Nanti saja setelah mengantar kamu ke tempat tidur,” jawab Faisal.
Lalu Faisal memapah istrinya kembali ke tempat tidur.
“Sholatnya mau sambil duduk atau sambil tidur?” tanya Faisal ketika membantu istrinya naik ke atas tempat tidur.
“Sambil duduk saja, Mas,” jawab Almira.
Kemudian Faisal mengatur tempat tidur Almira agar istrinya nyaman sholatnya.
Faisal mengambil mukenah Almira dari dalam tas travel kemudian diberikan kepada Almira.
“Terima kasih, Mas,” ucap Almira ketika menerima mukenah yang diberikan oleh Faisal.
“Sama-sama, sayang. Mas, mau mandi dulu sekalian wudhu. Takut keburu lewat sholat asharnya,” ucap Faisal.
“Iya, Mas.”
Lalu Faisal ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu.
Setelah selesai sholat ashar Faisal menghampiri istrinya yang sedang melamun.
“Almira, mau mandi nggak?” tanya Faisal.
“Ganti baju aja, Mas. Kepala Almira masih sakit dan masih pusing,” jawab Almira.
Faisal mengambil daster milik istrinya dari dalam tas lalu diberikan kepada istrinya. Sebelum istrinya berganti baju Faisal menutup tirai nya terlebih dahulu agar tidak terlihat dari luar.
Ketika Almira sedang berganti baju seorang petugas catering rumah sakit datang mengantarkan makan malam untuk Almira.
“Taruh di sini saja, Mbak. Istri saya sedang ganti baju,” kata Faisal.
Lalu petugas catering menaruh nampan di atas meja sofa. Setelah petugas catering itu pergi Faisal menghampiri Almira yang telah selesai ganti baju.
“Mau makan, nggak? Makan malamnya sudah di antarkan ke sini,” kata Faisal sambil membuka tirai.
“Mau, Mas. Almira lapar,” jawab Almira. Karena tadi siang ia memuntahkan semua makan siangnya.
Faisal mengambil nampan yang berisi makanan dari atas meja sofa, lalu ia perlihatkan ke Almira.
“Kelihatannya enak, Mas,” kata Almira yang tergoda dengan makanannya.
“Mas suapi, ya?” tanya Faisal.
Almira menjawab dengan mengangguk. Lalu Faisal menyuapi istrinya makan.
Ketika istrinya mengunyah makanan terlihat seperti orang tidak berselera makan.
“Mas, makannya nggak enak,” kata Almira.
“Masa sih?” Faisal menyicipi makanan istrinya.
Benar saja makanannya rasanya hambar.
“Mungkin karena makanan untuk orang sakit jadi rasanya hambar,” ujar Faisal.
“Almira mau makan nasi timbel aja, masih ada nggak Mas?” tanya Almira.
“Masih ada dua dus lagi. Tadi Rafi dan Dini sudah keburu kembali ke kantor sewaktu Mas pulang dari kantin,” jawab Faisal.
“Mau, Mas,” rengek Almira.
Faisal mengambil kotak dus makanan yang berada di atas meja sofa. Sebelum di berikan kepada istrinya, Faisal mencicipi terlebih dahulu takut nasi timbelnya sudah basi. Ternyata nasi timbelnya belum basi.
__ADS_1
“Sini, Mas. Almira mau makan sendiri.” Almira mengambil dus dari tangan suaminya.
Almira mulai menyantapnya dengan lahap. Faisal tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap, kelihatannya istrinya sudah tidak mual lagi. Sepertinya Faisal harus protes kepada pihak rumah sakit yang memberikan makanan yang hambar kepada istrinya, padahal istrinya tidak menderita penyakit dalam sehingga harus diet ketat garam dan gula. Istrinya hanya geger otak ringan dan membutuhkan banyak makanan bergizi untuk penyembuhan dan pemulihan.