Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
60


__ADS_3

Almira berdiri lalu menghampiri suster yang memanggilnya.


“Di tensi dulu, ya Bu.” Suster memasangkan manset pada lengan Almira dan mulai mengukur tekanan darah Almira.


“Tekanan darahnya bagus,” kata suster.


Suster juga menanyakan beberapa hal mengenai haid, kb serta riwayat hamil, keguguran dan melahirkan. Setelah itu Almira dipersilahkan duduk kembali.


“Mas, kenapa Almira harus diperiksa ke dokter kandungan?” bisik Almira ketika kembali ke tempat duduk.


“Apa kamu nggak sadar kalau sudah sebulan lebih kamu sudah tidak pernah libur sholat?” kata Faisal.


Almira berpikir sejenak. Terakhir ia mensturasi ketika Almira pulang dari rumah sakit. Kira-kira sudah sebulan lebih dua minggu. Tiba-tiba matanya langsung membelalak. Almira menoleh ke suaminya. Faisal sedang tersenyum simpul ketika istrinya baru menyadari.


“Almira lupa, Mas. Tapi kan bisa saja Almira sedang kecapean,” elak Almira.


“Iya tidak apa-apa. Tidak ada salahnya kalau diperiksa untuk meyakinkan kamu sehat atau tidak,” jawab Faisal.


“Ibu Almira.” Suster memanggil Almira kembali.


“Silahkan, Bu.” Suster menyuruh Almira masuk ke dalam ruang dokter.


Almira masuk ke dalam ditemani oleh Faisal. Almira dan Faisal duduk di depan meja kerja dokter.


“Selamat malam, ada keluhan apa?” sapa dokter.


Faisal langsung menceritakan semua yang sedang dialami Almira.


“Oke kita lihat ya, apakah kecurigaan Bapak benar atau tidak,” jawab dokter.


Almira dipersilahkan naik ke tempat pemeriksaan, suster mempersiapkan Almira untuk di USG. Setelah siap barulah dokter me USG perut Almira.


Dokter memainkan alat USG di atas perut Almira sementara matanya fokus ke layar monitor. Faisal fokus ke layar televisi yang disiapkan untuk para ayah.


“Ternyata kecurigaan Bapak benar. Selamat Ibu sedang dalam keadaan hamil,” ucap Dokter.


“Ini dia ada janinnya..” Dokter menunjukkan janin yang hanya sebesar biji kacang dengan mouse.


“Usianya hampir tujuh minggu.”


Almira terpanah memandangi labyar monitor. Ia tidak menyangka jika di dalam rahimnya telah tumbuh seorang bayi. Walaupun baru berupa janin tapi bagi Almira suatu anugerah yang terindah dalam hidupnya. Almira sampai menangis saking bahagianya.


Kemudian dokter memprint hasil USG. Selesailah sudah sesi USG Almira. Setelah suster membersihkan perut Almira, Almira kembali ke tempat duduknya.


“Dijaga baik-baik kandungannya! Makan makanan yang bergizi, hindari sayuran mentah dan daging mentah. Jangan lupa minum susu ibu hamil. Tidak boleh cape namun harus tetap bergerak. Saya kasih vitamin, ya.” Dokter menulis resep lalu di berikan ke Almira beserta dengan hasil USG


“Oke kita ketemu dua minggu lagi,” kata dokter.


“Terima kasih, Dok.” Faisal dan Almira keluar dari ruangan dokter.

__ADS_1


Sebelum mereka pulang Faisal ke apotik untuk menebus resep dokter.


“Mau susu rasa apa?” tanya Faisal ketika mereka menunggu resep vitamin.


“Mau yang enak biar nggak enek,” jawab Almira.


“Berarti coklat dan strawberry, ya?” Faisal mengambil 2 dus susu ibu hamil rasa coklat dan 2 dus susu ibu hamil rasa strawberry lalu membayarnya di kasir beserta vitamin yang diberikan oleh dokter.


Almira membuka plastik obat yang diberikan oleh apotik.


“Banyak sekali vitaminnya,” kata Almira sambil membaca bungkus vitamin satu persatu.


Faisal merangkul bahu Almira dan mengajaknya berjalan menuju ke mobil.


“Nggak apa-apa yang penting ibu dan bayinya sehat,” jawab Faisal.


“Tadi katanya mau nasi goreng kambing. Mau beli dimana? Di Kebon Kacang?” tanya Faisal.


“Kejauhan, Mas. Yang kelewatan saja,” jawab Almira.


“Enak nggak?” tanya Faisal.


“Pokoknya Almira sekarang mau nasi goreng kambing,” jawab Almira.


“Oke-oke, kita cari sambil pulang,” kata Faisal.


Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan apotik. Sepanjang perjalanan Faisal sambil melirik ke kanan dan kiri.


Almira takut konsentrasi suaminya menjadi buyar karena harus menyetir sambil mencari penjual nasi goreng kambing.


Akhirnya ketemu juga dengan penjual nasi goreng kambing. Faisal memutar balik mobil yang dikendarainya lalu memakirkan mobil di dekat penjual nasi goreng.


“Ayo kita turun,” ajak Faisal.


Tanpa berpikir lama Almira langsung membuka seat belt dan turun dari mobil. Faisal menghampiri Almira dan merangkul pinggang Almira. Merekapun berjalan menuju penjual nasi goreng.


Faisal mencari kursi yang aman untuk di duduki oleh istrinya. Ia tidak ingin istrinya terjatuh akibat dari kaki-kaki kursi plastik yang licin atau kursi yang sudah reot atau kursi yang tidak seimbang. Akhirnya Faisal menemukan kursi yang aman dan nyaman.


“Mas mau makan nasi goreng nggak?” tanya Almira setelah mereka duduk di kursi.


“Boleh, tapi yang sedang saja pedasnya,” jawab Faisal.


“Bang, nasi goreng kambingnya dua. Yang satu pedes dan satu lagi sedang pedasnya,” kata Almira kepada penjual nasi goreng.


“Ya, Bu.”


Tanpa harus menunggu lama nasi goreng pesanan mereka datang. Terbit air liur Almira ketika melihat nasi goreng kambing yang disediakan.


“Acarnya jangan dimakan, ya!” Faisal menyingkirkan acar milik Almira.

__ADS_1


“Selama hamil tidak boleh makan sayuran mentah!” seru Faisal.


Almira cuma bisa memandangi piring yang berisi acar. Padahal acar nasi goreng kambing paling enak. Terbuat dari kol, nanas dan ketimun lalu diberi cabe merah yang sudah diulek. Pokoknya sangat menggugah selera.


Tapi demi buah hati mereka yang sedang berada di dalam kandungannya Almira berusaha menahan untuk tidak makan acar tersebut.


Almirapun memakan nasi goeng kambing dengan nikmat. Faisal melihat irisan cabe rawit yang banyak di dalam nasi goreng milik Almira. Faisal mengambil nasi goreng Almira setengah sendok lalu memakannya. Ketika makan nasi goreng milik Almira, Faisal langsung kepedesan.


“Aduh , Mir. Pedes sekali nasi goeng kamu, nanti sakit perut,” kata Faisal lalu buru-buru minum.


“Nggak pedes kok,” jawab Almira makan dengan santai.


“Singkirkan cabe rawitnya!:” seru Faisal.


“Iiihhhh nggak pedes, kok. Kenapa harus disingkirkan?” protes Almira.


“Nanti perut kamu sakit, kasihan anak kita kalau Bundanya sakit perut,” kata Faisal dengan sabar.


“Ini kan keinginan anak kita. Dia yang mau makan nasi goreng kambing dengan cabe rawit yang banyak,” jawab Almira.


Faisal menghela nafas. Begini nih kalau ibu hamil dilarang semua mengatas namakan keinginan bayi di dalam kandungannya.


*****


Keesokan harinya semua ART dibuat bingung. Masalahnya Almira meminta rujak yang biasa dijual di pinggir jalan tapi tidak ingin pakai buah-buahan yang masih mentah dan asam. Ia ingin buah-buahan yang sudah matang dan manis.


Semua ART kebingungan harus mencari kemana tukang rujak seperti itu.


“Biar saya bikinkan, ya Bu,” kata Bi Cani.


“Nggak mau. Saya mau rujak yang di pinggir jalan bukan rujak rumahan,” jawab Almira.


Akhirnya jalan satu-satunya bi Cani menyuruh ART yang lain membeli rujak yang dipiinggir jalan, tapi yang dibeli hanya bumbunya saja tidak pakai buah-buahan. Untuk buahnya memakai buah yang ada di kulkas seperti apel, peer, buah naga, papaya dan semangka. Ketika diberikan kepada Almira, Almira langsung memakannya tanpa protes. Para ART bisa bernafas lega.


Malam harinya Almira meminta lontong isi oncom kepada Faisal. Faisal bingung harus mencari kemana? karena sudah malam sudah tidak ada lagi yang menjual lontong isi.


“Pak, coba cari ke toko kue yang menjual jajan pasar. Mudah-mudahan lontong isinya belum ditarik oleh pemasoknya dan kalaupun ada mudah-mudahan belum basi. Karena lontong isi dan jajan pasar biasanya diantarnya setelah subuh,” kata Bi Cani.


Mendengar perkataan Bi Cani, Faisal langsung pergi menuju ke toko kue yang menjual jajan pasar. Syukur alhamdullilah toko kuenya masih buka dan masih ada sisa beberapa lontong isi oncom. Faisal langsung memborong semua lontong isi oncom.


Di dalam mobil Faisal menyicipi satu lontong isi dan ternyata lontongnya belum basi. Faisal langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju ke rumah.


Faisal memberikan semua lontong yang ia beli kepada Almira. Almira menerimanya dengan mata berbinar.


“Terima kasih, Mas,” ucap Almira.


“Sama-sama sayang,” balas Faisal.


Almira memakan semua lontong yang dibelikan oleh Faisal. Padahal sebelumnya ia sudah makan malam terlebih dahulu.

__ADS_1


Faisal menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya memakan lontong seperti orang kelaparan. Biarlah yang penting istrinya happy dan bayi mereka tumbuh dengan sehat.


__ADS_2