
Almira duduk pinggir kolam renang sambil memperhatikan Akbar dan Amelia yang sedang asyik bermain air di kolam khusus balita. Sedangkan Naura bersama dengan Faisal berenang di kolam yang kedalamnya satu meter hingga tiga meter.
Kolam renang cukup sepi hanya ada mereka sekeluarga yang berenang belum ada tamu hotel yang lain yang datang untuk berenang. Naura berenang mengikuti Ayahnya berenang bulak balik di kolam renang sepanjang lima belas meter. Kelihaian Naura dalam berenang hampir menandingi Ayahnya. Sepertinya Faisal mengajari Naura berenang dengan baik.
“Bunbun, liat Akbal bica belenang,” panggil Akbar.
Kepala Akbar berada di atas air sedangkan badannya menempel dengan lantai kolam renang.
“Wah pinter, anak Bunda sudah pandai berenang,” puji Almira.
“Amel ia uga bica belenang, Nda,” kata Amelia yang meniru gaya Akbar.
“Hebat, anak cantik Bunda bisa berenang.” Almira mengacungkan jempol kepada Amelia.
Naura datang menghampiri Almira.
“Bunda, sarapannya belum datang, ya?” tanya Naura melihat meja masih kosong.
“Belum, Kak. Kakak sudah lapar?” tanya Almira.
“Iya, Bun. Kakak lapar banget,” jawab Naura.
Mungkin energi Naura habis terkuras setelah berenang mengikuti Ayahnya, sehingga Naura merasa lapar sekali.
“Sebentar, Bunda tanya Ayah dulu tadi sarapannya minta diantar jam berapa.” Almira bangun dari tempat duduknya dan menghampiri suaminya yang sedang berenang.
“Ayah…. Ayah….,” Almira memanggil Faisal.
Namun Faisal tidak mendengar karena ia sedang berenang di tengah kolam. Terpaksa Almira harus menunggu suaminya sampai ke tepi kolam renang.
“Ayah…,” panggil Almira ketika Faisal sampai ke tepi kolam renang.
“Kenapa, Bun?”
“Kakak sudah lapar, kapan sarapannya datang?” tanya Almira.
“Jam delapan,” jawab Faisal.
“Sekarang jam berapa?” Faisal balik bertanya.
Almira melihat ke ponsel yang berada di tangannya.
“Jam delapan kurang,” jawab Almira.
“Tunggu aja, sebentar lagi datang,” kata Faisal.
“Ya sudah.” Almira pergi meninggalkan Faisal dan kembali ke tempat duduknya.
Sedangkan Faisal melanjutkan berenangnya.
“Kata Ayah, sarapannya diantar jam delapan. Sekarang sudah jam delapan kurang. Sebentar lagi juga dianterin sarapannya,” kata Almira.
Sambil menunggu Naura ikut bergabung dengan adik-adiknya di kolam khusus balita. Tak lama kemudian datanglah beberapa pegawai hotel menghampiri mereka sambil membawa nampan yang berisi makanan. Para pelayan menghidangkan makanan diatas meja.
“Terima kasih,” ucap Almira setelah peegawai selesai menyajikan makanan.
__ADS_1
Namun setelah beberapa pegawai itu pergi masih ada pegawai yang lain datang membawa berbagai macam minuman.
“Terima kasih,” ucap Almira kepada pegawai yang membawa minuman.
Naura melihat sarapan sudah diantarkan langsung menghampiri Almira. Akbar dan Amelia juga datang menghampiri, mereka minta makan.
“Nda, Amel ia lapal mau mamam,” kata Amelia.
“Amelia dan Akbar duduk dulu, nanti Bunda suapi makan.”
Akbar dan Amelia naik ke bangku panjang yang biasa dipakai orang untuk berjemur. Karena bangku itu yang mudah untuk dinaiki oleh mereka.
“Mbak-Mbak sarapan dulu, biar anak-anak saya yang suapi,” kata Almira kepada kedua pengasuh anaknya.
“Ya, Bu,” jawab pengasuh Amelia.
Kedua pengasuh itupun mengambil sarapan yang di sediakan. Almira menyuapi Akbar dan Amelia dengan nasi goreng. Faisalpun berhenti berenang dan menghampiri anak-anak dan istrinya yang sedang makan.
“Banyak amat sarapannya, Bun,” kata Faisal melihat berbagai macam makanan yang di sediakan.
“Bunda kira Ayah yang pesan sarapan yang begitu banyak,” jawab Almira.
“Ayah cuma bilang tolong sarapan kamar nomor empat ratus lima dan empat ratus enam diantarkan ke kolam renang. Nggak taunya mereka membawakan makanan sebanyak ini,” kata Faisal.
Namun Naura yang sudah sangat kelaparan ia melahap habis semua jatah sarapannya. Begitu pula dengan Faisal melahap habis sarapannya. Ayah dan anak sama-sama kelaparan setelah berenang.
Ketika mereka sedang makan tamu hotel yang hendak berenang mulai berdatangan. Banyak diantaranya yang membawa anak kecil, sehingga Akbar dan Amelia masuk lagi ke kolam renang karena ada teman bermain air. Naura yang sudah kekenyangan makan hanya duduk-duduk bermain air dengan adik-adiknya. Faisal menemani istrinya yang belum selesai sarapan.
“Jam berapa sekarang, Mas?” tanya Almira.
“Jam sembilan kurang,” jawab Faisal.
“Sudah siang, kita kembali ke kamar.” Almira hendak berdiri dari tempat duduknya namun dicegah oleh Faisal.
“Habiskan dulu sarapannya!” kata Faisal.
“Udah kenyang,” jawab Almira.
“Makan yang banyak, agar nanti malam bertenaga untuk main,” bisik Faisal.
“Ih…apa nggak cape?” tanya Almira.
“Nggak dong. Apalagi melihat kamu pakai lingerie, capenya langsung hilang,” bisik Faisal lalu mencium pipi Almira.
“Mas! Nanti ada yang melihat,” bisik Almira.
“Biar semua orang tau kalau kamu istri Mas,” jawab Faisal.
Almira hanya bisa menghela nafas.
Akhirnya Almira menghabiskan sarapannya dan meminum juicenya.
“Sudah habis sarapannya. Ayo kita kembali ke kamar,” ajak Almira.
“Kamu semangat amat sih kembali ke kamar. Udah nggak sabar mau ngajak main Mas, ya? Nanti malam aja deh, mainnya. Kalau siang Mas mau sholat jum”at,” jawab Faisal.
__ADS_1
“Siapa yang ngajak main? Almira ngantuk Mas. Almira mau tidur,” protes Almira dengan gemas.
“Oh…..mau tidur? Bilang dong kalau ngantuk. Mas kira mau ngajak main,” kata Faisal dengan tidak merasa bersalah.
“Susah ah, ngomong sama Mas! Pikirannnya nggak jauh dari yang begitu,” seru Almira lalu berdiri dan menghampiri anak-anaknya.
“Akbar Amelia sudah ya berenangnya. Sudah siang,” kata Almira.
“Nanti dulu, Nda. Amel’ia macih au ain,” jawab Amelia.
“Nanti kapan-kapan kita berenang lagi. Sekarang kita harus kembali ke kamar sebab sebentar lagi Ayah dan Akbar mau sholat jum’at.” Almira memberi pengertian kepada Amelia.
“Amel’ia uga au colat jumat,” kata Amelia.
“Sholat jum’at hanya untuk laki-laki. Amelia sholatnya sama Bunda dan kakak di kamar,” jawab Almira.
“Ayo Amelia dengarkan kata Bunda!” kata Faisal yang sedang berdiri di belakang Almira.
“Iya, Aya.” Akhirnya Amelia mau keluar dari kolam renang.
Kemudian mereka semua kembali ke kamar.
.
.
Almira mengancingkan baju koko Akbar. Setelah rapih memakai baju koko, Almira memasang kopeyah di kepala Akbar.
“Aduh gantengnya anak Bunda,” puji Almira sambil memandangi Akbar.
“Siapa dulu dong Ayahnya?” celetuk Faisal yang sedang memperhatikan ibu dan anak itu.
“Iya, ayah dan anak sama-sama ganteng,” puji Almira.
“Ayo Akbar, kita berangkat ke masjid. Nanti keburu kesiangan,” ajak Faisal.
Akbar langsung mencium tangan Almira.
“Acalamualaicum, Bunbun,” ucap Akbar.
“Waalaikumsalam,” jawab Almira.
Faisal mendekati Almira.
“Mas pergi ke masjid dulu.” Lalu Almira mencium tangan Faisal.
“Assalamualaikum,” ucap Faisal.
“Waalaikumsalam,” jawab Almira.
Faisal menuntun tangan Akbar berjalan keluar dari kamar.
“Dadah Bunbun.” Akbar melambaikan tangannya.
“Dadah, sayang.” Almira membalas lambaian tangan Akbar.
__ADS_1
Faisal menuntun Akbar menyusuri lorong menuju liff. Setelah Faisal dan Akbar menjauh Almira menutup kembali pintu kamarnya.