
Mobil yang dikemudikan Faisal memasuki halaman rumah Faisal, mereka langsung disambut oleh suara teriakan Akbar dan Amelia.
“Aya…..”
“Aya….”
“Bunbun…”
“Nda…..”
Akbar dan Amelia berada di teras rumah sambil loncat-loncat kegirangan. Faisal menghentikan mobilnya di depan garasi. Hanya menarik dengan rem tangan dan tanpa mematikan mesin mobil Faisal langsung keluar dari mobil Faisal memutar ke depan mobil dan membuka pintu mobil untuk Almira.
Faisal mengulurkan tangan kepada Almira dan langsung disambut oleh Almira. Sambil memegang erat tangan Faisal dengan hati-hati Almira keluar dari mobil.
Akbar dan Amelia berhenti loncat-loncat dan berteriak ketika mereka melihat Bunda mereka berjalan sambil dipapah oleh Ayah mereka. Almira tersenyum melihat anak-anaknya sedang berdiri di depan teras.
“Akbar Amelia Kakak, Bunda kangen,” kata Almira dengan terharu.
Akbar dan Amelia langsung berlari menuju Almira, mereka langsung menabrak dan memeluk kaki Almira. Tubuh Almira langsung limbung ketika kedua batita kembarnya menabrak dan memeluk kaki Almira, namun dengan sigap Faisal menahan tubuh Almira.
“Akbar Amelia jangan begitu! Nanti Bunda jatuh,” seru Naura kepada kedua adiknya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Naura, Akbar dan Amelia langsung melepaskan pelukannya. Mereka takut Bunda mereka jatuh lagi.
“Bunda nggak apa-apa kok,” kata Almira sambil mengusap kepala anak kembarnya.
“Peluknya jangan sambil ditabrak! Nanti Bundanya jatuh,” kata Faisal.
Akbar dan Amelia langsung memeluk kaki Almira lagi. Almira mengusap-usap kepala kedua batitanya.
“Udah meluknya! Nanti Bundanya nggak bisa jalan,” sahut Naura.
Akbar dan Amelia langsung melepaskan pelukannya dan langung ke pingir memberi jalan untuk Bundanya. .
Almira menghampiri Naura, lalu memeluk Naura sambil mengecup pucuk kepala Naura.
“Terima kasih, ya sudah menjaga Akbar dan Amelia dengan baik,” ucap Almira.
Naura menjawabnya hanya dengan mengangguk dipelukan Bundanya. Almira melepaskan pelukannya.
“Sekarang Kakak sudah besar dan sudah bisa diberi tanggung jawab,” kata Almira sambil mengusap rambut Naura.
“Bunda bangga sama Kakak,” ucap Almira.
“Yah, biar Kakak yang memapah Bunda,” kata Naura kepada Faisal.
“Kakak bisa?” tanya Faisal.
“Bisa, Yah,” jawab Naura dengan meyakinkan.
“Memapahnya sambil ditahan dari belakang! Sebab Bundanya masih suka limbung,” seru Faisal.
“Iya, Ayah,” jawab Naura.
__ADS_1
“Akbal mau uga pegang Bunbun,” kata Akbar.
“Amel uga,” sahut Amelia.
“Kalian bagian jaga Bunda dari belakang.” Faisal nmengatur posisi kedua batita kembarnya berdiri di belakang Almira.
“Jaga Bunda jangan sampai jatuh!” kata Faisal kepada kedua batita kembarnya.
“Iya, Aya,” jawab Akbar dan Amelia.
Naurapun memapah Almira masuk ke dalam rumah diikuti Akbar dan Amelia dari belakang.
“Mbak, tolong bawa masuk barang-barang!” kata Faisal kepada kedua pengasuh Akbar dan Amelia.
“Iya, Pak,” jawab kedua pengasuh anak-anaknya.
Faisalpun masuk ke dalam rumah menyusul anak-anak dan istrinya.
Faisal mendengar suara celoteh Akbar dan Amelia dari dalam kamarnya. Ketika Faisal membuka pintu kamarnya ia melihat istri dan anak-anaknya sedang tidur-tiduran di atas tempat tidur.
“Wah…Ayah nggak kebagian tempat tidur, Ayah tidur dimana?” kata Faisal sambil masuk ke dalam kamar.
“Aya tidul di copa,” jawab Amelia.
“Ayah, nggak mau di sofa. Ayah mau tidur sama Bunda,” kata Faisal.
Faisal duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya karena tempat tidurnya penuh oleh anak-anak. Tubuhnya terasa cape selama dua hari mengurus istrinya di rumah sakit. Belum lama Faisal duduk tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Faisal langsung bangkit dari sofa dan membuka pintu kamarnya.
Pengasuh Akbar berdiri di depan pintu sambil membawa travel bag miliknya.
Lalu pengasuh Akbar masuk sambil membawa tas dan diletakkan di dekat lemari pakaian.
“Terima kasih ya, Mbak,” ucap Faisal.
Pengasuh Akbarpun keluar dari dari kamar. Faisal duduk kembali di sofa.
“Kak, Bi Cani masak apa?” tanya Almira.
“Tadi Kakak request sop tulang sapi yang ada sumsumnya, biar tulang tengkorak Bunda bisa rapat lagi,” jawab Naura.
“Kok Kakak tau kalau sumsum tulang bisa merapatkan lagi tulang yang retak?” tanya Faisal.
“Tau dong, kan searching di gigol,” jawab Naura.
“Pinter Kakak,” puji Almira.
“Tapi Bunda tidak boleh sering makan sumsum tulang, nanti kolesterol. Mendingan makan ikan teri atau bisa juga impun,” kata Almira.
“Impun apa sih, Bun?” tanya Naura.
“Ikan kecil-kecil yang hidupnya di air tawar. Biasanya banyak di saluran air persawahan,” jawab Almira.
“Ikannya cecil-cecil, Bunbun?” tanya Akbar.
__ADS_1
“Iya, sebesar jari kelingking Akbar.” Almira memegang jari kelingking Akbar.
“Ihhhh cecil sekali.” Akbar memandangi jari kelingkingnya.
“Di Jakarta nggak ada ikan impun, sawahnya juga nggak ada. Kalau di Bandung banyak ikan impun, di pinggiran kota Bandung masih banyak sawah,” sahut Faisal.
“Kalau mau beli ikan mas yang kecil-kecil. Di supermarket banyak yang jual, di di taruh di frezzer disatukan dengan makanan beku lainnya,” kata Faisal.
Naura langsung bangun dari tidurnya.
“Ada, Yah? Kalau begitu sekarang Kakak ke supermarket beli ikan mas yang keci-kecil,” kata Naura dengan semangat.
“Jangan sekarang! Nanti siang saja kalau sudah makan siang dan sholat dzuhur,” sahut Faisal.
“Tapi bolehkan Kakak ke supermarket?” tanya Naura dengan berbinar.
“Boleh, nanti diantar Pak Ali berangkatnya,” jawab Faisal.
“Jangan, Yah! Kakak belum pernah pergi ke supermarket sendiri,” kata Almira dengan khawatir.
“Nggak apa-apa, Bun. Kasih Kakak kepercayaan, lagipula Kakak ke supermarketnya untuk belanja bukan untuk main,” kata Faisal.
Almira menghela nafas berat.
“Ya, sudahlah, kalau Ayah mengizinkan,” kata Almira.
“Asyikkkkk Kakak mau ke supermarket,” seru Naura dengan girang.
Tentu saja Naura girang pergi ke supermarket sendiri, karena biasanya kalau ia hendak kemana-mana ia harus ditemani oleh adik-adiknya dan para pengasuhnya.
“Akbar mau icut,” kata Akbar.
“Amel uga mau icut,” kata Amelia.
“Nggak boleh ikut! Bawa kalian tuh ribet, nanti Kakak nggak bisa belanja,” jawab Naura.
“Ya, dibawa aja pengasuhnya. Kan Ayah menggaji mereka buat mengasuh Akbar dan Amelia. Kakak bagian memantau,” kata Faisal.
“Jangan dibawa Akbar dan Amelia! Bahaya, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Almira.
“Kan ada pengasuh mereka, Bun. Ada Naura juga,” kata Faisal.
“Ayah! Ayah mau bikin Bunda jantungan?” tanya Almira dengan ketus.
Faisal mendekati istrinya dan duduk di sebelah istrinya lalu mengusap punggung istrinya.
“Rilex, Bun. Everything gonna be alright. Mereka sudah biasa pergi berlima dan diantar oleh Pak Ali,” jawab Faisal.
Mendengar jawab Faisal Almira langsung diam. Bener apa yang Faisal katakan, sebelum kedatangan Almira mereka sudah terbiasa pergi kemana-mana hanya ditemani pengasuh dan supir saja.
“Apa benar yang barusan Ayah katakan?” Almra bertanya kepada Naura.
“Iya, Bun. Kami memang sudah terbiasa hanya pergi dengan pengasuh dan supir. Ayah sibuk bekerja sedangkan Yang ti kadang-kadang ada acara dengan teman-temannya,” jawab Naura.
__ADS_1
Dada Almira langsung sesak mendengarnya, betapa malangnya nasib anak-anak sambungnya.