Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
57


__ADS_3

Almira sedang mengetik dokumen tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


“Selamat siang.”


Seorang pria tampan sedang berdiri di depan mejanya.


Almira langsung bangkit dari tempat duduknya.


“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Almira.


“Saya Hendra, saya sudah ada janji dengan Pak Faisal,” jawab pria itu.


“Tunggu sebentar, Pak.” Almira berjalan menuju ruangan Faisal lalu mengetuk pintunya.


“Masuk.” Terdengar suara Faisal dari dalam ruangan.


Almira membuka pintu ruang kerja Faisal.


“Pak, ada Pak Hendra,” kata Almira.


“Suruh masuk, Mir,” jawab Faisal.


Almira mempersilahkan Pak Hendra masuk.


“Mir, tolong sekalian buatkan minum, ya!” kata Faisal.


“Pak Hendra mau minum apa?” tanya Faisal.


“Kopi saja,” jawab Hendra.


“Mir, tolong buatkan kopi 2 ya!” kata Faisal.


“Baik, Pak.” Almirapun keluar dari ruangan dan menutup pintu.


“Dia sekertaris baru, Pak Faisal?” tanya Hendra.


“Iya,” jawab Faisal.


“Cantik. Siapa namanya?” tanya Hendra penasaran.


Mendengar Hendra memuji istrinya Faisal agak sedikit kesal, namun Faisal berusaha tenang. Karena Hendra pelanggan besar.


“Almira,”jawab Faisal.


“Penampilanya beda, dapat darimana?” tanya Hendra.

__ADS_1


“Masih kerabat dengan saya,” jawab Faisal.


“KKN, ya?” tanya Hendra.


Faisal menjawabnya dengan tersenyum.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


“Masuk!” kata Faisal.


Almira membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Faisal sambil membawa nampan yang diatasnya ada dua buah cangkir kopi dan sebuah piring yang berisikan kue. Almira menaruh cangkir dan piring tersebut di atas meja.


“Terima kasih ya, Mir,” ucap Faisal.


“Sama-sama, Pak,” balas Almira.


Almira pun keluar dari ruangan Faisal dan  kembali mengerjakan pekerjaannya.


Pukul sebelas tigapuluh menit Faisal membuka pintunya dan mengantar Hendra keluar dari ruangannya. Hendra


mendekati meja kerja Almira. Almira langsung berdiri dari tempat duduknya.


“Terima kasih atas kopi dan kue nya semuanya enak,” ucap Hendra kepada Almira.


“Sama-sama, Pak,” balas Almira.


“Insya Allah, Pak. Nanti saya buatkan kue untuk Bapak,” jawab Almira.


“Malam ini kamu free nggak?” tanya Hendra.


Mendengar pertanyaan Hendra, Almira mengerut keningnya. Dan wajah Faisal langsung berubah masam.


“Maksud Bapak apa, ya?” tanya Almira dengan tidak mengerti.


“Kalau kamu free, saya mau mengajak makan malam. Ya….semacam kencan begitulah,” jawab Hendra.


“Maaf, Pak. Saya tidak bisa,” jawab Almira.


“Loh kenapa? Sudah ada janji?” tanya Hendra.


“Saya sudah menikah dan suami saya adalah…..” Almira tidak meneruskan kata-katanya.


“Saya suami Almira,” kata Faisal.


Faisal mendekati Hendra dan menepuk bahu Hendra.

__ADS_1


“Maaf Pak Hendra, semestinya tadi saya katakan terus terang kalau Almira adalah istri saya,” kata Faisal.


“Pantesan Pak Faisal menunjukkan wajah tidak suka sewaktu saya menanyakan tentang Almira. Saya pikir Pak Faisal menyukai Almira. Ternyata Pak Faisal suami Almira,” ujar Hendra.


“Kapan menikahnya? Kok saya tidak diundang?” tanya Hendra.


“Baru beberapa hari, belum sebulan. Menikahnya mendadak, jadi tidak banyak yang diundang,” jawab Faisal.


“Selamat ya, atas pernikahan kalian,” ucap Hendra.


“Terima kasih, Pak Hendra,” ucap Faisal.


“Berarti saya tidak jadi dibuatkan kue, dong,” ujar Hendra.


“Insya Allah akan saya buatkan, Pak. Nanti supir kami yang akan mengantarkan ke kantor Pak Hendra,” jawab Almira.


“Terima kasaih sebelumnya. Saya jadi merepotkan Almira,” ucap Hendra.


“Tidak merepotkan kok, Pak,” jawab Almira.


“Kalau begitu saya permisi dulu. Saya ada janji makan siang dengan relasi saya.” Hendra pamit pulang.


“Silahkan, Pak.” Faisal mengantar Hendra sampai depan pintu.


Setelah Hendra masuk ke dalam liff, Faisal langsung menghampiri Almira.


“Nanti kalau sudah sholat dan makan siang kita main, ya,” bisik Faisal.


“Mas! Ini kantor bukan rumah atau hotel,” kata Almira sambil melotot.


“Mas kan pengen main sama kamu. Dosa loh nolak suami,” rayu Faisal.


“Tapi jangan di kantor! Nanti aja di rumah,” jawab Almira.


“Mas mau dua-duanya, di kantor dan di rumah juga,” rayu Faisal.


Almira menghela nafas. Suaminya kalau sudah ada maunya benar-benar tidak bisa ditahan.


Almira masuk ke ruangan Faisal.


“Eh….Mir, mau ngapain?” tanya Faisal melihat Almira masuk ke dalam ruangannya.


“Mau panggil Ujang, Almira lapar mau makan,” jawab Almira.sambil berjalan menuju ke meja kerja Faisal.


“Bilang aja mau main sekarang.” Faisal ikut masuk ke dalam ruangan kerjanya lalu menguci pintunya.

__ADS_1


__ADS_2