
Setelah menelepon ayahnya, Naura juga menelepon eyang putrinya Ibu Rosita dan eninnya Ibu Lia memberitahukan kalau Bundanya akan melahirkan.
Akhirnya sampai juga mereka di rumah sakit PI. Naura turun terlebih dahulu lalu membantu Almira turun.
“Kaki Bunda sakit sekali, Kak,” kata Almira sambil meringis kesakitan ketika turun dari mobil.
“Sabar, Bun. Ini kita sudah sampai,” ujar Naura dengan sabar.
Akhirnya Almira berhasil turun dari mobil. Naura
“Pak, langsung pulang aja. Tidak usah ditunggu!” kata Naura kepada Pak Ali.
“Iya, Non,” jawab Pak Ali.
“Mau icut Nda,” kata Amelia.
“Jangan! Anak kecil tidak boleh lama-lama di rumah sakit,” jawab Naura.
Amelia langsung menangis dan meronta-ronta mau ikut turun.
“Mbak, tolong pegangin Amelia!” seru Naura.
“Ini sudah dipegangin, Non,” jawab pengasuh Amelia.
Pintu mobilpun tertutup kembali dan mobil yang dikemudikan oleh Pak Ali meluncur meninggalkan lobby rumah sakit.
Almira berjalan pelan-pelan sambil dipapah oleh Naura.
“Bunda mau naik kursi roda nggak?’ tanya Naura ketika melihat kursi roda milik rumah sakit.
“Nggak ah, Kak. Jalan saja biar cepat pembukaannya,” tolak Almira.
“Jalannya pelan-pelan saja, Bun,” kata Naura.
“Iya. Bunda jalannya tidak bisa cepat, kaki Bunda sakit sekali kalau digerakkan,” kata Almira.
Merekapun jalan dengan pelan-pelan hingga mereka sampai di ruang bersalin.
.
.
.
Faisal berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ke tempat Almira melahirkan. Sebenarnya ini yang ketiga kalinya Faisal menghadapi istrinya melahirkan seharusnya ia lebih tenang. Namun ini pertama kalinya Faisal harus menghadapi istrinya yang melahirkan dengan normal. Sebelumnya Karisa melahirkan dengan cara operasi cesar.
Akhirnya Faisal sampai di depan kamar bersalin. Ia langsung masuk ke dalam mencari Almira.
“Sus, pasien yang akan melahirkan bernama Almira, dimana ya?” tanya Faisal ketika bertemu dengan seorang suster.
“Ruangan bersalin di sebelah sana, Pak.” Suster itu menunjuk ke ruangan lain.
Faisal langsung menuju ke ruangan yang ditunjuk oleh suster. Begitu masuk Faisal melihat Almira sedang merintih kesakitan. Tangan kanannya memegang telapak tangan Naura. Setiap Almira merasakan sakit yang hebat ia akam mencengkram telapak tangan Naura. Naura tidak merasakan sakit sama sekali ketika telapak tangannya dicengkram oleh Almira. Rasa sakit cengkraman yang dirasakan Naura tidak sebanding dengan perjuangan Bundanya untuk melahirkan adiknya.
Faisal mendekati Almira.
“Almira,” panggil Faisal.
Almira dan Naura menoleh ke arah Faisal.
“Mas, sakit sekali Mas,” rintih Almira.
“Sabar, ya. Nanti juga hilang sakitnya kalau sudah melahirkan,” hibur Faisal.
Padahal di dalam hati Faisal tidak tega melihat istrinya kesakitan.
“Kak, dokternya mana?” tanya Faisal kepada Naura.
__ADS_1
“Belum datang, Yah. Tadi Bunda diperiksanya sama bidan. Bunda baru pembukaan tujuh,” jawab Naura.
Tiba-tiba Almira mencekram tangan Faisal. Faisal meringis kesakitan.
“Bunda setiap meresakan sakit pasti harus mencengkram tangan,” kata Naura ketika melihat Ayahnya meringis ketika dicengkram Bundanya.
“Kak, panggil bidannya suruh ke sini!” seru Faisal.
Faisal tidak bisa menghampiri bidan karena tangannya dipegang oleh Almira. Beberapa menit sekali Almira mencengkram tangan Faisal.
Naurapun keluar mencari Bidan yang tadi memeriksa Almira. Tak lama kemudian Naura kembali bersama dengan seorang bidan.
“Bu Bidan, kapan istri saya melahirkannya? Kasihan dia terus menerus merasa kesakitan,” tanya Faisal.
“Sebentar, Pak. Saya periksa dulu.” Bidan memakai sarung tangan untuk memeriksa jalan lahir.
“Sudah pembukaan pembukaan sembilan. Sebentar lagi bayinya akan lahir,” jawab Bu Bidan.
“Dokternya mana? Istri saya sudah mau melahirkan tapi belum datang,” tanya Faisal dengan kesal.
“Ada di ruangannya, Pak. Nanti ke sini kalau Ibu mau melahirkan,” jawab Ibu Bidan.
Tiba-tiba di luar ruangan terdengar suara orang berbicara lalu masuk ke dalam ruangan.
Seorang Dokter wanita paruh baya dan seorang Dokter lali-laki muda menghampiri Ibu Bidan.
“Sudah pembukaan berapa?” tanya Dokter.
“Sudah pembukaan sembilan, Dok,” jawab Bu Bidan.
“Sabar ya, Bu. Sebentar lagi pembukaan sepuluh,” kata Dokter kepada Almira.
Dokter itu langsung memakai sarung tangan.
“Saya periksa dulu ya.” Dokter memeriksa daerah kewanitaan Almira.
“Oke sudah pembukaan sepuluh. Bisa kita mulai,” kata Dokter.
Dengan berat hati Naura keluar dari ruang bersalin.
“Ibu pas hitungan ketiga mengejan, ya!” seru Dokter.
“Bapak mau bantu saya? Nanti pas Ibu sedang mengejan, Bapak bantu angkat punggung Ibunya!”
“Iya, Dok,” jawab Faisal.
Faisal menaruh tangan kirinya di punggung Almira.
“Siap ya, Bu!”
“Satu, dua, tiga ngejan, Bu!”
Almira mengejan dan Faisal membantu mengangkat punggung Almira. Kemudian Almira melakukan hal yang sama lagi. Begitu ketiga kali Almira mau melakukan lagi tiba-tiba……
“Stop, Bu! Sudah cukup,” seru Dokter.
Dokter mencoba mengeluarkan bayi, setelah berhasil keluar langsung ditepuk pantatnya agar menangis. Langsung terdengar suara tangisan bayi dengan kencang.
“Selamat ya, Bu. Bayinya perempuan.” Suster memperlihatkan bayi Almira.
Almira menyentuh tangan mungil bayi itu.
“Assalamualaikum,” ucap Almira menyapa bayi mungilnya.
“Mas, adzan kan dulu, ya.” Faisal mengambil bayi itu dari tangan suster lalu digendongnya bayi itu.
Faisal sudah tidak kaku lagi dalam menggendong bayi, mungkin karena ia sudah memiliki anak tiga jadi ia sudah terbiasa. Faisal mengumandangkan adzan di sebelah kanan dan menyerukan iqamah sebelah kiri. Setelah selesai diberikan kembali ke Suster untuk diperiksa oleh Dokter anak.
__ADS_1
Almira masih terbaring lemah diatas bed, sambil menunggu Dokter yang sedang menjahit di areal kewanitaannya. Setelah selesai menjahit, Dokter pun pamit untuk kembali ke ruangannya. Naura masuk ke ruang bersalin bersama dengan Eyang Ti, Enin dan Aki nya.
“Bagaimana keadaan Almira?” tanya Ibu Rosita.
“Alhamdullilah lancar. Bayinya juga sehat,” jawab Faisal.
“Syukurlah,” ucap Ibu Rosita.
“Bayinya perempuan atau laki-laki?” tanya Ibu Lia.
“Perempuan, Bi,” jawab Faisal.
“Sekarang sedang diperiksa dokter anak sekalian dibersihkan,” kata Faisal.
Tak lama kemudian datanglah Suster sambil membawa kursi roda.
“Kita pindah ke kamar inap ya, Bu,” kata Suster.
“Suster bayinya mana?” tanya Almira.
“Masih di bersihkan, Bu. Nanti diantarkan ke kamar,” jawab Suster.
Faisal menggendong Almira, lalu diturunkan di atas kursi roda. Setelah itu Suster mendorong kursi roda membawa Almira ke ruang rawat inap. Semua orang mengikuti dari belakang.
.
.
.
Almira sedang berbicara dengan Ibu Lia dan Ibu Rosita, tiba-tiba pintu kamar di buka dan Suster masuk sambil mendorong tempat tidur bayi. Semua orang pandangannya teralihkan ke tempat tidur bayi.
“Ini bayinya sudah datang,” kata Suster.
Suster menggendong bayi lalu di serahkan kepada Almira. Dengan hati-hati Almira menggendong bayinya.
“Disusui dulu, ya!”
Suster menutup gorden pembatas, agar lebih privasi. Suster membantu Almira agar bisa menyusui bayinya dengan nyaman. Naura memperhatikan adik bayinya yang sedang menyusu pada Bundanya.
“Namanya siapa?” tanya Pak Rahmat kepada Faisal.
“Namanya Najla Faira,” jawab Faisal.
“Nama yang bagus,” puji Pak Rahmat.
Tiba-tiba pintu kamar ada yang membuka, Akbar dan Amelia masuk ke dalam kamar inap, diikuti oleh kedua pengasuhnya. Para pengasuh membawakan tas travel, satu milik Almira dan satu lagi milik Faisal. Tadi Naura menelepon ke rumah dan menyuruh Bi Cani menyiapkan baju untuk Faisal, karena malam ini Faisal akan menginap di rumah sakit. Sedangkan tas Almira sudah tersedia di dalam mobil.
Akbar dan Amelia langsung mendekati tempat tidur Bundanya.
“Ayah, mau liat ade,” kata Akbar.
Faisal mengangkat Akbar dan Amelia ke atas tempat tidur. Akbar dan Amelia duduk di atas tempat tidur.
“Itu dedenya laji apa?” tanya Amelia kepada Almira.
“Adenya lagi minum susu,” jawab Almira.
“De, tuh ada Mbak Amelia dan Mas Akbar,” kata Almira kepada Najla.
Namun Najla hanya memejamkan matanya sambil terus menyedot ASI. Akbar menyentuh pipi Najla dengan telunjuknya berharap agar adiknya berhenti menyusu pada dada Bundanya.
“Akbar, tidak boleh begitu! Kasihan adiknya haus,” tegur Naura.
“Dedenya bobo telus ngak mau main cama Mas Akbal,” jawab Akbar sambil merengut dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Almira mengusap kepala Akbar.
__ADS_1
“Nanti ya, Mas Akbar. Tunggu adiknya besar baru bisa main sama Mas Akbar,” kata Almira memberi pengertian kepada Akbar.
Menjelang malam tiba Naura mengajak adik-adiknya pulang ke rumah dan berjanji besok akan mengajak adik adiknya ke rumah sakit lagi.