Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
35. Pernikahan Almira Dengan Faisal.


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Almira dengan Faisal. Almira terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin muslim berwarna putih. Pagi-pagi sekali Almira dan keluarganya sudah datang ke Café More untuk mempersiapkan acara akad nikah. Halaman belakang café More disulap seperti pesta kebun sesuai dengan permintaan Almira dan Faisal. Di dalam ruangan café dirubah bak sebuah ballroom hotel mewah yang dihiasi dengan bunga-bunga cantik yang masih segar. Ruangan dalam di peruntukkan pengantin menyambut tamu mereka. Sedangkan di halaman belakang terdapat beberapa buah meja bundar yang lengkap dengan kursi yang dihias dengan cantik , tempat untuk para tamu menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh yang punya hajat.


Almira benar-benar puas dengan penataan interior café yang telah dilakukan oleh manager café More. Di depan café telihat ada beberapalaki-laki yang berbadan tegap yang bertugas menjaga di depan café. Sepertinya mereka adalah para body guard yang telah di sewa oleh Faisal guna mengamankan pernikahan Almira dan Faisal dari gangguan Tomy dan keluarganya.


Almira juga melihat beberapa orang pegawai kantor Faisal yang ditugaskan sebagai even organizer. Almira sengaja tidak menyewa EO tapi ia memilih mempekerjakan pegawai kantor Faisal sebagai EO agar kerjanya lebih maksimal dan merekapun mendapatkan penghasilan tambahan dari bosnya.


“Teteh, udah Teteh duduk manis jangan mundar-mandir seperti setrikaan. Nanti riasan Teteh lutur karena keringantan,” tegur Dini yang melihat calon kakak iparnya itu masih saja wara-wiri mengecek segala sesuatunya.


“Ayo Teteh tunggu di ruang tunggu. Sebentar lagi Mas Faisal datang,” kata Dini sambil memapah Almira ke ruang yang di sediakan khusus untuk pengantin.


“Tapi penghulunya belum datang,” kata Almira.


“Penghulunya lagi di jemput sama Pak Ali,” jawab Dini yang terus saja memaksa Almira masuk ke ruangan pengantin.


“Mbak, ini coba tolong dilihat lagi riasannya. Takut luntur lagi. Calon pengantin wanitanya nggak bisa diem, wara-wiri terus,” kata Dini kepada perias pengantin.


“Sini, Mbak. Duduk sini biar saya lihat lagi riasanya,” kata perias pengantin yang menghampiri Almira.


Mau tidak mau akhirnya Almira menurut dan duduk manis di ruangan itu. Akhirnya Dini bernafas lega karena Almira tidak wara-wiri lagi.


Namun ketika keluar dari ruangan pengantin Dini mendapat kabar kalau penghulu sudah datang bersamaan dengan datangnya calon pengantin pria. Ini pertanda acara akad nikah akan segera dimulai.


Kedatangan Faisal dan keluarganya disambut oleh Pak Rahmat dan Ibu Lia. Tidak ada prosesi penjemputan dengan upacara adat karena Almira tidak menginginkan menggunakan acara adat. Kata Almira, ia malu masa janda masih saja dieluk-elukan bagaikan seorang gadis. Jadi ia lebih memilih acara secara modern saja.


Setelah penghulu, calon pengantin pria, wali calon pengantin wanita serta para saksi duduk di tempat yang telah di sediakan. Maka saatnya Almira keluar dari ruangan untuk mengikuti prosesi akad nikah.


Almira dituntun oleh Ibu Lia dan Dini menuju ke tempat akad nikah. Almira duduk di sebelah Faisal, ia tidak melirik ke pria yang duduk di sebelahnya. Cukup ia mencium bau parfum yang sering ia hirup ketika berada di dekat laki-laki itu.


“Pak Faisal coba dilihat dulu apa ini calon mempelai wanitanya? Takutnya calon mempelaI wanita ketukar,” kata penghulu sebelum akad nikah dimulai.

__ADS_1


Faisal menoleh ke sebelah, ia melihat Almira sedang menunduk. Mata Almira fokus pada jari-jari tangan yang berada di atas pangkuannya.


“Iya, benar Pak. Malahan lebih cantik,” jawab Faisal tapi matanya terus saja memandang Almira yang sedang menunduk.


“Kalau memang memang benar mempelai wanitanya, kita lanjutkan akad nikahnya. Sudah jangan dipandangin saja calon istrinya. Nggak akan pergi kemana-mana, kok,” kata penghulu.


Lalu akad nikah dimulai. Dalam satu tarikan langsung terdengar suara teriakan sah.


“Alhamdullilah,” ucap Almira dan Faisal ketika mendengar kata-kata sah.


Almira bukan lagi seorang janda tapi ia sudah resmi menjadi istri Faisal Yudhatama. Terlihat raut kebahagiaan dari pasangan suami istri itu.


Almira mencium tangan Faisal setelah menyematkan cincin nikah di jari manis Almira. Lalu Faisal membalasnya dengan mencium kening Almira.


Terdengar riuh suara siulan para karyawan Faisal ketika melihat bos mereka mencium kening sekretarisnya.


“Yang sudah jadian besok traktir makan-makan,” celetuk salah satu karyawan Faisal.


Faisal dan Almira menanggapinya dengan tersenyum. Setelah akad nikah selesai semua tamu undangan dipersilahkan sarapan terlebih dahulu sebelum acara resepsi dimulai. Sedang Almira dan Faisal menuju ruang ganti baju untuk mengganti baju pengantin mereka.


Ketika Almira hendak ganti baju terdengar suara gedoran pintu dari luar.


“Aya…Ante……” Terdengar suara teriakan Akbar dan Amelia.


“Mas….itu suara anak-anak,” kata Almira.


Faisal membuka kunci pintunya.


“Kalian mau apa?” tanya Faisal kepada kedua anak kembarnya yang berdiri di depan ruang ganti.

__ADS_1


“Mau cama Ante,” jawab Akbar.


“Tantenya malu mau ganti baju,” kata Faisal.


“Napa Aya macuk?” tanya Akbar.


“Ayah mau ganti baju,” jawab Faisal.


“Albal mau icut Aya anti aju,” kata Akbar yang maksa nyelonong masuk.


“Amel mau icut Ante anti aju,” kata Amel juga memaksa nyelonong masuk.


Faisal melongo melihat kedua anak kembarnya masuk ke dalam ruangan ganti baju. Almira tertawa melihat kelakuan kedua anak sambungnya.


Akhirnya Faisal dan Almira ganti bajunya secara bergantian dan saling menutupi dengan kain panjang agak tidak terlihat kedua batita itu.


Setelah ganti baju Almira di rias kembali oleh perias. Kerudungnya diganti sesuai dengan warna gaun pengantin. Ketika kerudung beserta ciput Almira dibuka oleh perias pengantin, Faisal memandang Almira dengan tidak berkedip. Ini pertama kalinya Faisal melihat istrinya tidak menggunakan kerudung. Amelia mendekati Almira.


“Ante antik,” puji Amelia.


“Mel, jangan dekat-dekat. Bundanya di rias dulu,” kata Faisal yang mengingatkan Amelia.


“Kalau auh-auh boyeh, Aya?” tanya Amelia.


“Kita nunggunya di luar saja. Biar Bunda dirias dulu,” kata Faisal mengajak kedua anak kembarnya keluar dari ruang ganti.


Faisal sengaja mengajak kedua batita kembarnya keluar ruang ganti, karena Faisal tidak kuat melihat istrinya yang belum menggunakan kerudung, ia takut tiba-tiba akan menyerang istrinya yang terlihat lebih cantik tanpa menggunakan kerudung. Untung kedua batita itu menurut pada Ayah mereka dan keluar dari ruang ganti.


Faisal duduk termenung di depan ruang ganti. Ia menunggu Almira selesai di rias. Karyawannya memberitahukan jika tamu undangan sudah berdatangan. Tak lama kemudian Almira keluar dari ruang ganti. Wanita itu nampak cantik dengan balutan gaun berwarna nude dan kerudung yang senada dengan warna gaun pengantinya.

__ADS_1


Faisal langsung berdiri dan menghampiri Almira. Almirapun menggandeng lengan Faisal. Merekapun beriringan masuk ke dalam café diiringi dengan suara tiupan saxophone. Semua tamu berdiri dan menyambut pasangan yang berbahagia ini.


__ADS_2