Cinta Untuk Almira

Cinta Untuk Almira
42. Kecelakaan.


__ADS_3

Almira turun dari mobil MPV Premium milik suaminya. Ia berdiri di depan gerbang SMP swasta. Ia memandangi bangunan sekolah itu. Kalau di lihat dari bangunannya yang megah ini bukan SMP swasta biasa. Yang sekolah di sini pasti anak-anak orang yang berduit, termasuk Naura. Faisal pasti tidak mengeluarkan uang sedikit untuk menyekolahkan Naura di sini.


Ketika Almira asyik memandangi bangunan di hadapannya seorang security datang menghampirinya.


“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya security yang bernama Soleh.


“Siang, Pak. Saya mau ke kelas 7-E,” jawab Almira.


“Oh…. kelas 7-E dari sini lurus aja nanti di sebelah kiri ada tangga ibu naik. Kelas 7-E tidak jauh dari tangga,” kata Pak Soleh.


“Terima kasih, Pak,” ucap Almira.


Almira langsung masuk ke dalam sekolah Naura. Almira berjalan terus sesuai dengan petunjuk Pak Soleh. Namun karena kurang hati-hati Almira hampir menabrak seseorang. Beruntung Almira sempat menghentikan langkahnya ketika hampir menabrak seorang laki-laki.


“Maaf,” ucap Almira kepada laki-laki.


“Tidak apa-apa,” jawab laki-laki.


“Sedang mencari ruang kelas berapa, Bu?” tanya laki-laki itu.


“Kelas 7-E,” jawab Almira.


“Oh…kelas 7-E di atas, Bu,” kata  laki-laki itu.


“Ibu orang tuanya siapa, ya? Sepertinya saya baru melihat,” tanya laki-laki itu.


“Saya Bun…..” Belum selesai Almira berbicara tiba-tiba ada seseorang  memanggilnya.


“Bunda….” Naura memanggil Almira.


Almira mengerutkan keningnya mendengar panggilan Naura.


Tumben Naura memanggilku Bunda, kata Almira di dalam hati.


“Bunda darimana sih? Kok lama sampainya?” tanya Naura sambil cemberut.


“Bunda ke kantor dulu. Ada dokumen yang harus Bunda selesaikan,” jawab Almira.


“Ya sudah, Ayo kita ke atas. Bunda sudah di tunggu Bu guru dari tadi.” Naura menarik tangan Almira menuju tangga.


Ketika sedang menaiki tangga satu persatu Naura menengok ke belakang setelah merasa situasi aman Naura langsung berkata, “Tante jangan ge-er, ya. Kakak sengaja panggil Tante dengan sebutan Bunda di depan Pak Ridwan. Kalau kakak panggil Tante nanti disangka Pak Ridwan, Tante adalah Tantenya Kakak atau disangka sekretaris Ayah. "


“Pak Ridwan itu playboy, dia suka ngedeketin perempuan-perempuan cantik,” kata Naura.


Almira mengerut keningnya. Darimana Naura tau informasi seperti itu?


“Kakak tau darimana?” tanya Almira.


“Taulah, Pak Ridwan suka titip salam untuk kakaknya teman-teman Kakak atau Tante teman-teman Kakak,” jawab Naura.


Almira tersenyum, ia mengerti maksud Naura. Almira membelai rambut putri sambungnya.


“Walau Kakak sesekali panggil Tante dengan sebutan Bunda, Tante sudah senang,” kata Almira.


Tapi Naura tetaplah Naura, ia acuh saja mendengar perkataan Almira.


Akhirnya sampai sudah mereka di depan kelas Naura. Wali kelas Naura sedang memberikan pengarahan kepada orang tua murid.


“Assalamualaikum,” ucap Almira ketika masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab wali kelas dan para orang tua murid.


Wali kelas menghampiri Almira.


“Ibu orang tuanya siapa?” tanya wali kelas Naura.


“Saya Bundanya Naura,” jawab Almira.


“Bundanya Naura?” tanya wali kelas sambil mengerut keningnya.


“Ibu istri Pak Faisal?” tanya wali kelas.


“Iya, Bu. Kami baru menikah beberapa hari yang lalu,” jawab Almira.


“Oh…..Kenalkan saya Ibuu Eni wali kelas Naura.” Ibu Eni mengajak salam ala orang sunda dan Almira menyambut salam Bu Eni.


“Silahkan duduk, Bu,” ucap Ibu Eni.


“Terima kasih.” Almira mencari bangku kosong.


Ibu Eni melanjutkan pengarahannya. Setelah pengarahan kepada orang tua selesai barulah Ibu Eni membagikan rapot sesuai dengan nomor urut absen. Sampai akhirnya nama Naura dipanggil oleh walikelas, Almira maju ke


depan.


“Nilai Naura bagus, dalam beberapa bulan ini mengalami peningkatan. Dia bisa mengejar teman-temannya. Sekarang dia masuk rangking lima besar,” kata Ibu Eni.


“Alhamdullilah,” ucap Almira.


“Mungkin efek punya Ibu baru barangkali,” kata Ibu Eni.


“Masa sih? Saya kan baru menikah beberapa hari,” kata Almira.


“Kalau boleh tau sudah berapa lama mengenal Pak Faisal?” tanya Ibu Eni.


“Sudah lama juga, ya. Kalau dengan Naura, Ibu sudah kenal berapa lama?” tanya Ibu Eni.


“Sekitar empat bulan lebih juga,” jawab Almira.


“Berarti perkiraan saya benar, kemajuan Naura berhubungan dengan kehadiran Ibu,” kata Ibu Eni.


“Ah, Ibu terlalu berlebihan menghubungkanya. Mungkin Naura memang lagi semangat untuk belajar,” ujar Almira.


“Pasti sulit, ya jadi Ibu sambung Naura. Sabar ya, Bu. Naura mungkin terlihat galak dan judes. Tapi sebetulnya hatinya baik,” kata Ibu Eni.


“Iya, Bu. Saya tau kalau sebenarnya Naura anak yang baik,” jawab Almira.


“Saya pamit, Bu. Karena saya harus kembali ke kantor,” kata Almira.


“Oh…Ibu kerja?” tanya Ibu Eni.


“Iya, saya sekretaris ayahnya Naura. Karena belum ada pengganti saya jadi untuk sementara saya masih bekerja mejadi sekretaris ayah Naura,” jawab Almira.


“Oh…begitu?” Ibu Eni terkejut mendengarnya.


“Saya permisi dulu. Assalamualaikum,” ucap Almira.


“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab Ibu Eni.


Almira pergi meninggalkan kelas Naura. Naura menghampiri Almira ketika keluar dari ruang kelasnya.

__ADS_1


“Mana raportnya, Bun? Kakak mau lihat,” kata Naura.


“Ini.” Almira memberikan rapot kepada Naura.


“Kakak hebat bisa mengejar teman-teman Kakak. Kakak rangking lima besar, loh.” Almira mengusap rambut Naura.


“Bener,Bun?” tanya Naura dengan berbinar-binar.


“Bener, masa Bunda bohong,” jawab Almira.


Lalu mereka berjalan menuju tangga. Ketika mereka hendak menuruni tangga.


“Naura.” Ada seseorang memanggil Naura.


Almira dan Naura menoleh ke belakang. Seorang laki-laki muda berjalan cepat mendekati Naura. Ternyata ia adalah Pak Ridwan.


“Sudah ambil raportnya?” tanya Pak Ridwan.


“Sudah,” jawab Naura dengan judes.


Kemudian Pak Ridwan beralih ke Almira.


“Ibu kenalkan saya Ridwan, guru olah raga Naura.” Ridwan mengulurkan tangannya mengajak Almira salaman.


Namun Almira hanya membalasnya dengan menggapit kedua telapak tangannya didepan dada.


“Saya Almira. Bundanya Naura.”


“Oh…Bundanya Naura, saya pikir Tantenya Naura atau sekretaris Pak Faisal,” kata Pak Ridwan.


Melihat gelagat Pak Ridwan yang tertarik dengan Bundanya, Naura langsung menarik tangan Almira.


“Ayo Bunda, tadi katanya ditunggu Ayah di kantor,” kata Naura sambil menarik tangan Almira.


“Oh, iya. Bunda ada janji makan siang dengan Ayah.”


“Permisi Pak, saya sudah ditunggu suami saya. Assalamualaikum,” ucap Almira lalu pergi meninggalkan Ridwan.


“Waalaikumsalam.” Pak Ridwan memandangi Almira dan Naura dari belakang.


“Cantik,” bisik Ridwan pada dirinya sendiri.


Ketika di depan sekolah Almira memegang tangan Naura hendak menyebrang jalan menuju ke mobil yang diparkir di seberang jalan. Almira menunggu sampai jalanan kosong agar bisa menyeberang jalan.


Ketika jalan kosong Almira dan Naura menyeberang jalan. Namun naas tiba-tiba muncullah sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Almira kaget dan panik secara spontan Almira menarik tangan Naura agar mundur ke belakang kembali ke tempat semula. Namun karena tarikannya terlalu kencang sehingga membuat tubuh Naura limbung sehingga mereka berdua jatuh. Almira yang tidak sempat menyanggah tubuhnya langsung jatuh terlentang dan kepala bagian belakang terbentur aspal sedangkan naura jatuh menimpa Almira.


Almira merasakan sakit pada kepala bagian belakang. Ia melihat orang-orang di sekitar menghampiri. Kemudian Naura yang menimpa badanya langsung bangun dan memanggil-manggilnya


“Bunda…..Bunda… bangun Bunda!” Naura mengguncang-guncang badan Almira sambil menangis.


“Bunda...bangun….jangan tinggalkan Naura!” kata Naura sambil menangis.


Setelah itu Almira tidak ingat apa-apa lagi.


“Pak Ali…..tolongin Bunda!!!” teriak Naura.


Pak Ali yang sedang berbincang dengan teman-teman seprofesinya spontan kaget mendengar teriakan Naura. Dengan tergopoh-gopoh Pak Ali menghampiri Naura yang sedang menangis di sebelah Almira.


“Astagfirullahaladzim. Ibu kenapa Non?” tanya Pak Ali kaget.

__ADS_1


“Bunda jatuh, Pak,” jawab Naura sambil menangis.


Dengan dibantu orang-orang di sekitarnya, Pak Ali mengangkat tubuh Almira menuju ke mobil dan dibaringkan di jok belakang. Pak Ali langsung membawa Almira menuju ke rumah sakit.


__ADS_2