CINTA UNTUK LUNA

CINTA UNTUK LUNA
BAB 18


__ADS_3

“ Kamu sudah lama menunggu ku?” Dini mengusap pipi Adi yang tengah tertidur. Dengan mata yang masih mengantuk Adi pun membuka matanya secara perlahan lalu duduk. “ Oh iya, aku bawakan ini untuk kamu.” Dini menyerahkan bingkisan makanan yang sengaja ia beli saat perjalanan keapartemen milik Adi.


“ Jam segini kamu baru pulang?” Adi menatap wanita tersebut dengan tajam.


“ Aku kan sudah bilang, tadi perut ku sakit jadi aku periksakan.” Dini segera beranjak pergi dari hadapan lelaki tersebut namun Adi mengikutinya dari belakang. “ Lebih baik kamu jawab jujur, dari mana kamu sebenarnya?” Tanya Adi sambil menarik pergelangan tangan wanita tersebut. “ Aku pergi kedokter kandungan… Kenapa sih kamu gak percaya banget.” Ucap Dini kesal. Kemudia wanita itu segera masuk kedalam kamar untuk mengemasi barang-barangnya dan pergi dari apartemen tersebut." Kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara". Ujar  Adi yang belum puas dengan jawaban wanita tersebut.


" Aku mau pergi… Cape hidup dengan kamu, selalu aja curiga !!" Dini langsung menarik koper miliknya. Dengan kesal Adi menarik koper tersebut hingga koper tersebut terpental jauh. " Kamu mau nya apa sih?" Bentak Dini.


" Kamu jelasin ini apa?" Tanya Adi yang tiba-tiba saja mengeluarkan selembaran kertas dari saku celananya dan melempar tepat diwajah wanita itu.


Dini membuka kertas tersebut, dan ia merasa terkejut, dengan cepat ia langsung meminta maaf kepada Adi.


" Maaf kan aku sayang, aku gak bermaksud demikian." Dini memohon belas kasih dari Adi, tetapi Adi malah mendorong tubuhnya hingga tersungkur.


" Selama ini aku telah banyak menyakiti hati Luna itu semua demi kamu, ternyata kamu malah menusuk ku dari belakang." Adi mulai marah kepada Dini. Kini sikapnya sudah tidak bisa ia maafkan, karna wanita itu telah berani menggadaikan sertifikat kepemilikan apartemen milik nya kepada orang lain.


" Sayang aku ngelakuin itu  untuk kita. Tolong jangan tinnggalkan aku." Dini terus berusaha memohon kepada Adi dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya itu.


" Kamu ingin pergikan? Pergilah...aku tidak akan memaksa lagi. Mulai hari ini kita gak akan saling kenal." Adi pun mengusir wanita itu untuk segera keluar dari apartemen milik nya.


" Adi kumohon jangan usir aku, kamu gak kasian dengan anak yang masih didalam kandungan ku.?" Ucapnya sambil menggenggam tangan lelaki itu.


" Anak? Apa iya anak itu anak ku. Jangan mimpi." Adi membuang koper wanita itu keluar, kemudian ia juga menarik tangang Dini hingga keluar pintu apartemen. Lalu Adi pun mengunci pintu tersebut.


Saat pintu telah terkunci dari dalam, Dini mulai tertawa getir. Kemudian tak lama ia pun segera pergi dari sana menuju hotel tempat dimana ia telah bertemu dengan Bram.

__ADS_1


Malam semakin larut Luna yang berada didalam tak jua bisa memejamkan matanya." Duh, kenapa sih ni mata susah sekali untuk dipejamkan." Keluh gadis tersebut. Luna pun keluar kamar nya untuk mengambil air minum. Siapa tau dengan ia meminum air matanya bisa terpejam. Luna mulai menuruni anak tangga untuk menuju kedapur. Ia membayangkan sosok Saga hadir dihadapannya dengan gaya yang sok ngatur tersebut. Lalu Luna pun tertawa kecil. " Hehehe... Terkadang gak ada dia ko malah jadi sepi." batin nya.


Luna pun segera megambil gelas lalu menuangkan air dan minum." Loh, kamu belum tidur?" Wina segera mengambil botol air dari dalam lemari es.


" Iya, aku gak bisa tidur." Jawab Luna.


" Pasti keingetan dengan Pak  Saga ia…" Ujar Wina sedikit menggoda.


" Ish, apaan sih. Terus kamu sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Luna sambil menarik kursi dan duduk


" Iya belum lah, kan yayang Angga telephone aku." Ujarnya yang terkekeh dan sengaja menggoda Luna.


" Huh, dasar bucin." Luna segera pergi meninggalkan Wina yang sedang menertawainnya disana.


" Tunggu kamu mau kemana?" Tanya Wina yang masih tertawa.


Wina masih saja tertawa melihat sahabatnya tersebut merasa kesal, kemudian ia melanjutkan minumnya. Luna yang baru saja memasuki kamarnya mendengar nada dering diponselnya. " Siapa ia, malam-malam ko telephone." Ucapnya dalam hati. Kemudian dia mengambil ponsel miliknya yang berada diatas meja riasnya.


" Siapa nih? Orang tampan?!" Luna tersenyum, ia berfikir jika itu adalah Saga. Ia siapa lagi jika bukan dia. Karna yang tau nomornya saat ini selain Saga ia Wina sahabat dekatnya.


Luna mengangkat panggilan vidio tersebut, dan benar saja Saga dengan rambut klimisnya serta mengenakan pakaian tidur sudah berada dilayar tersebut.


" Kamu belum tidur?" Tanya Saga sambil merebahkan tubuhnya dikepala ranjang.


" Belum, memang kenapa?" Tanya Luna yang menutupi perasaan senang nya karna telah dihubungi oleh lelaki tersebut.

__ADS_1


" Aku cuma memastikan saja kalau kamu sudah tidur apa tidak." Jawab Saga.


" Kamu sendiri kenapa belum tidur? Ohh, aku tau pasti kamu sedang sibuk dengan perempuan lain ia." Perkataan Luna membuat Saga tertawa.


" Kenapa ko malah tertawa?" Tanya Luna kembali.


" Kamu sedang cemburu? Baiklah kalau gitu aku akan perlihatkan seluruh isi kamar ini kepada kamu?" Saga segera berdiri dan memperlihatkan seluruh isi kamarnya kepada Luna.


" Kamu sudah puas sekarang?" Ujar Saga kepada gadis tersebut.


"Iya siapa tau aja kamu simpan tuh cewe didalam lemari." Ucapnya yang sedikit lucu dengan sikapnya.


" Jadi kamu masih belum percaya? Baiklah aku buka lemarinya." Saga pun menuruti semua perkataan gadis tersebut sambil tersenyum simpul.


" Sudah puas sekarang?" Ujar Saga sambil membuka lemarinya. Luna hanya tersenyum malu walau didalam hatinya ia merasa puas karna Saga tidak bersama perempuan lain.


" Hehehe...iya...iya...aku cuma bercanda ko." Ujar Luna mengalihkan rasa malunya.


" Iya sudah kamu lekas istirahat, besok kamu sudah harus latihan." Ucapan Saga membuat hati Luna merasa tersentuh." Baiklah, kamu juga langsung istirahat jangan banyak main perempuan." Ujar Luna yang entah mengapa saat itu ia memiliki keberanian untuk mengeritik atasan nya.


Saga malah tertawa dibuatnya," Baiklah, kalau gitu kamu tidurlah. Besok aku akan menghubungi mu lagi." Ucap Saga yang kemudian memutuskan panggilan tersebut.


" Ciyeee...ciyee...ada yang lagi berbunga-bunga nih." Ujar Wina yang sedari tadi sengaja menguping pembicaraan mereka dari luar kamar Luna.


Luna melempar bantal kearah Wina, Dengan cepat Wina menghindar dan langsung lari kekamarnya dengan tertawa terbahak-bahak. Saat Luna ingin mengejar, Wina dengan cepat mengunci pintu kamar miliknya tersebut.

__ADS_1


Luna merasa malu dihadapan sahabatnya tersebut, namun disamping itu ia merasa puas karna Saga telah menghubunginya. Kini Luna pun bisa tidur dengan nyenyak.


__ADS_2