
"Dasar kalian tidak becus,aku perintah segitu aja gak ada yang benar." Ujar seorang wanita yang saat itu mendengar jika Bram dan anak nya masih hidup. "Aku gak mau tau,pokoknya kamu harus menghabisi mereka semua." Bentak wanita itu kembali dihadapan bawahan nya. Dengan perasaan emosi wanita itu pergi meninggalkan para bawahannya untuk segera menemui ayahnya yang kebetulan sedang berada diruang kerjanya.
BRAAAK
Mira sengaja membanting pintu kerja ayahnya,dan dengan segera ia pun mengadukan semua keluhan nya tersebut terhadap Anton.Anton pun tertawa mendengar cerita anaknya tersebut. "Ihh,ko papih ketawa sih. Aku gak mau jika semua orang tau kalau aku sudah pernah melahirkan seorang anak. "Papih pernah bilang sama kamu,habisi anak itu saat masih didalam perut. Tapi kamu malah takut." Ujar Anton sama gilanya. "Iya sudah kalau gitu papih bantu aku dong,untuk ngatasin masalah ini." Mira pun menggelayut kan tubuhnya kepada ayahnya tersebut. Melihat putrinya seperti itu membuat Anton tak tahan dengan sikap manjanya. "Baik, papih akan bantu tapi dengan syarat..." Ucap Anton. "Apa itu?" Tanya Mira yang penasaran.
"Kamu harus bisa merayu Saga agar ia bisa menikah dengan kamu,jadi dengan kaya gitu seluruh harta Saga akan menjadi milik kita." Ujar Anton.
"Tapi kan pih,Saga sekarang cacat. Dan aku gak mau jadi bahan tertawa karna memiliki suami cacat." Keluh Mira.
__ADS_1
"Hahaha,kamu tenang aja. Setelah mendapatkan seluruh harta Saga kita akan singkirkan lelaki cacat dan paman nya tersebut." Ucap Anton. Lelaki tua itu telah menyusun rencana bersama orang kepercayaan nya. Bahkan ia telah memasukan seorang penyusup di dalam perusahaan Saga dan juga Riyan.
"Baiklah,kalau papih sudah bilang seperti itu aku akan menurutinya." Kini Mira merasa lega karna sang ayah ingin membantu nya untuk menyingkirkan Ayumi dan juga Bram. Kini ia pun pergi meninggalkan ayahnya untuk pergi berbelanja barang-barang mewah kesukaan nya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Anton
" Hallo bos..." Ujar seseorang yang berada diseberang sana.
" Aku ada tugas untuk mu. Kau harus menghabisi nyawa dua orang yang sudah mengusik kehidupan kami." Ujar Anton. Iya,saat ini Anton sedang menghubungi anak buah nya untuk memberikan perintah. Ia sengaja menawarkan komisi yang sangat besar untuk menyingkirkan seorang Ayumi dan juga Bram. Mendengar tawaran tersebut mereka segera mengambil tugas itu. Baginya tugas seperti itu sangatlah mudah.
__ADS_1
"Ingat,atur rencana ini seperti kecelakaan." Ujar Anton.
"Baik bos laksana kan."
Anton mematikan ponselnya, "Dasar anak itu,selalu saja membuat masalah." Batin Anton. Kemudian ia pun segera meneruskan pekerjaan nya.
Ditempat lain Bram sedang jalan pulang,setelah mengunjungi rumah Luna. Hatinya terasa hancur saat mendengar bahwa Luna akan menikah dengan Saga. Saking kacaunya,ia tak sadar bahwa sedari tadi Ayumi sedang memanggilnya. "Papah!!!" Bentak Ayumi sambil menarik lengan baju Bram. "Ehh iya,ada apa sayang?" Ucap Bram yang terkejut. "Ihh,papah kenapa sih,Yumi panggil ko gak nyahut." Ujar anak itu dengan wajah keselnya. Melihat anaknya menyilang kan kedua tangan sambil memajukan mulutnya membuat Bram merasa terhibur lalu mencubit gemas pipi anak itu. "Iya deh,papah minta maaf ia. Tadi papah cuma mikir mau beli es cream apa ia hari ini." Ucap Bram sambil melirik ke arah anaknya. "Yumi gak mau es cream. Papah lupa katanya mamih mau ketemu Yumi." Ujar anak tersebut. Bram masih berusaha merayu anak tersebut,namun hasilnya tetap sama,Ayumi tidak mudah terbujuk oleh rayuan Bram. Hingga akhirnya Bram mengeluarkan jurus terakhir nya yaitu memakai nama Luna agar anaknya tak mengingat ibu yang sudah membuangnya.
"Benelan kan pah? Yumi sayang ante Luna." Ujar anak itu dengan bangganya. Walau hatinya sedang terluka,namun ia bisa menyampingkan perasaannya demi kenyamanan anak nya tersebut. "Tapi kamu hari ini harus nurut kata papah iya. Kalau Yumi nurut,besok kita datang ke rumah tante Luna." Ujar Bram. Anak itu pun setuju dengan ucapan ayahnya. Bram pun lega,kini ia seperti biasa membawa Ayumi ketempat kerjanya. Dan ia mulai bekerja seperti biasa,tanpa ia sadari jika kini nyawa mereka sedang berada dalam bahaya.
__ADS_1